KEDIRI, JP Radar Kediri- Banyak warga Desa Papar yang menekuni usaha mikro kecil dan menengah. Jumlahnya mencapai puluhan orang. Sebagian mendapatkan keterampilan setelah menerima pelatihan dari pemerintah desa.
Pemerintah Desa Papar, Kecamatan Papar kerap menggelar pelatihan untuk warganya. Jenis pelatihannya beragam. Mulai pengolahan makanan hingga membuat kerajinan tangan. Jadi tidak heran jika warga di desa tersebut banyak yang mengelola usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). “Setiap tahunnya pemerintah desa mengadakan berbagai pelatihan untuk warga desa,” ujar Kepala Desa Papar drh Joko Santoso.
Joko mengatakan, penduduknya sangat antusias dengan pelatihan yang diadakan. Mereka sampai bertanya kapan akan berlangsung pelatihan selanjutnya.
“Saya lebih suka ketika warga ini bertanya terkait hal tersebut, dibanding bertanya terkait kapan diberikannya bantuan,” imbuhnya.
Rencananya, tahun ini akan kembali diadakan pelatihan. Tapi, bukan terkait pengolahan makanan. Melainkan tentang packaging dan pemasaran online.
Menurut sang kades, kedua jenis pelatihan tersebut sangat dibutuhkan sebagai upaya membangun pasar. Kemasan menarik dan penjualan yang luas adalah kunci peningkatan produksi.
Salah satu warga yang mengikuti pelatihan adalah Alfiah. Perempuan berusia 53 tahun ini memiliki usaha pembuatan kue kering yang bernama Cookies Soeboer Makmur. “Kemarin saya juga ikut pelatihan membuat kue,” ujar Alfiah saat ditemui di rumahnya.
Alfiah memproduksi kue kering dan basah. Kue basah dia buat setiap hari dan dipasarkan ke pasar. Sedangkan untuk kue kering hanya dibuat bila ada pesanan.
Ada lima jenis kue kering buatan Alfiah. Biasa dimanfaatkan untuk kegiatan hajatan ataupun Lebaran. Dengan strategi pemasaran dan promosi yang masih tradisional. "Masih dari mulut ke mulut," akunya sambil menyebut bakal mengikuti pelatihan tentang penjualan online.
Kolaborasi 'Kopi Manis' untuk Solusi Pupuk Subsidi
Desa Papar adalah desa pertanian. Penduduknya yang total berjumlah 5.664 jiwa mayoritas adalah petani. Memiliki 130 hektare sawah dengan tanaman padi, jagung, sayuran, serta sebagian tebu. Belum lagi ada delapan hektare yang masuk kategori tanah tegalan.
Dengan banyaknya lahan pertanian yang ada, kebutuhan pupuk tentu saja besar. Sayangnya, persoalan tersebut saat ini menjadi problem pelik yang sulit terpecahkan. Yaitu dengan adanya pembatasan pemberian pupuk subsidi.
“Akhir-akhir ini dunia pertanian sedang banyak masalah sehingga berimbas pada kesejahteraan masyarakat,” kata Kepala Desa Papar drh Joko Santosa.
Aturan pembatasan itu membuat petani tak bisa memenuhi kebutuhan pertanian dengan pupuk subsidi. Karena setiap sawah seluas 100 ru (1 ru = 14 meter persegi) hanya mendapatkan 100 kilogram pupuk urea dan 77 kilogram NPK. Solusi menutupi kekurangan itu hanya dengan pupuk nonsubsidi yang mahal. Sayang, bagi petani kurang mampu, mereka terpaksa menggunakan pupuk seadanya. Membuat panen tidak maksimal.
Terkait masalah itu, Pemdes Papar menelurkan solusi. Mengolaborasikan antara peternakan dan pertanian. Memanfaatkan kotoran hewan sebagai pupuk bogasi untuk memenuhi kebutuhan pertanian.
Di Desa Papar ada kelompok pertanian bernama Kopi Manis, akronim dari Komunitas Peternak Inspiratif Mandiri dan Harmonis. Yang memelihara kambing peranakan etawan dan domba.
Kelompok yang baru berusia dua tahun ini memiliki 189 ekor kambing. Yang cara kepemilikannya melalui arisan. Setiap putaran arisan disediakan tiga ekor kambing betina.
"Sehingga kambing akan terus bertambah dalam waktu yang tidak lama," terang kades dua periode ini.
Kotoran kambing itulah yang kemudian diolah menjadi pupuk bogasi. Yang kemudian didistribusikan ke petani. Sayang, masih belum maksimal untuk memenuhi kebutuhan. Ke depan, Joko menyebut akan menggunakan kotoran sapi.
Di sisi lain, peternak juga memanfaatkan limbah pertanian. Dijadikan makanan ternak. Sehingga terjadi simbiosis mutualisme atau hubungan saling menguntungkan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah