Banyak warga Desa Gambyok, Kecamatan Grogol yang menjadi pedagang. Agar tidak berjualan di pinggir jalan, pemerintah desa akan menyediakan lokasi khusus. Yang nantinya menjadi pasar desa.
Pembangunan pasar desa yang lokasinya di Dusun Plosolanang ini bertujuan memberi warga tempat berjualan yang strategis. Sebab, berada di jalan tembus desa. Yang menghubungkan dengan desa di Kecamatan Prambon, Nganjuk.
Kepala Desa Gambyok Gunawan menjelaskan, pembangunan pasar akan dilakukan tahun ini. Desain bangunannya pun sudah dirancang. Nantinya, pasar desa ini seperti kios. Berupa sekatan dinding tanpa pintu.
“Agar menghemat anggaran atapnya menggunakan atap galvalum,” imbuh Gunawan.
Total bilik kios yang akan dibangun berjumlah delapan. Karena terkendala dengan biaya, tahun ini hanya difokuskan untuk pembangunan kiosnya terlebih dahulu. Tahun selanjutnya baru pembangunan fasilitas lainya.
“Nanti akan ditambah tempat parkir, musala, toilet, dan tempat parkir,” ungkap Gunawan.
Masih ujar Gunawan, pembangunan pasar desa ini mendapat sambutan hangat dari warga desa. Jumlah warga yang ingin berjualan di pasar desa ini sampai melebihi jumlah kios. Ketertarikan terhadap dibangunya pasar tersebut ada juga dari warga dari luar desa.
Jika kios tersebut sudah jadi, nantinya akan dikelola oleh bumdes. Penyewa akan membayar untuk uang penggunaan kios. Dan nantinya akan masuk khas desa sebagai penghasilan asli desa (PAD).
Sehari Hasilkan Ribuan Ikat Kedelai Rebus
Sebagian besar warga Desa Gambyok menjadi pedagang kedelai. Ada yang menjual mentahan, ada yang direbus. Salah satu pedagang kedelai rebus ini adalah Mohammad Syaikhu Rosyid.
“Dulu awalnya diajak tetangganya untuk berjualan di acara Seribu Barong pada 2019 dan untung banyak. Sejak saat itu saya berjualan hingga saat ini,” jelas laki-laki yang dipanggil Syaikhu tersebut.
Laki-laki 31 tahun ini bercerita, pertama kali berjualan dia hanya membuat 150 ikat kedelai. Kini dalam sehari dia bisa merebus 3 ribu ikat kedelai. Dengan harga jual Rp 5 ribu per tiga ikat.
Dalam memasarkan dia dibantu kakak dan adiknya. Selain itu juga ada loper yang mengambil ke rumahnya. Kemudian dijual di daerah Kandat dan Baron, Kabupaten Nganjuk.
Produksi kedelai rebus ini berlangsung setiap hari. Pembuatannya mulai pagi dengan proses pengikatan. Setelah semua kedelai terikat baru dilanjutkan proses perebusan.
“Proses perebusan ini mulai pukul 10.00 ,” imbuhnya.
Proses perebusan membutuhkan waktu sekitar enam jam. Setelah proses perebusan selesai, baru kedelai tersebut dapat dijual.
Karena hanya direbus, kedelai buatan laki-laki kelahiran 1991 ini hanya bertahan hingga pukul 00.00 WIB. Jika tidak bisa masuk lemari pendingin kedelai tersebut tidak dapat dijual lagi. “Jika dijual lagi, kekuatan hanya bisa sampai jam delapan malam,” ungkap Syaikhu.
Untuk bahan mentah, suami dari Ninis Kharisma mengambil dari wilayah Solo dan Nganjuk yang kualitasnya bagus serta berasa manis. Sekali ambil sekitar tiga hingga empat kuintal kedelai mentah.
Submersible Dulu, Talud Kemudian
Setiap musim hujan, lahan warga di Desa Gambyok selalu terkena rembesan air. Sebab, taludnya masih berupa tanah. Karena itulah pada 2024 ini, untuk infrastruktur di program ketahanan pangan, Pemdes Gambyok berencana membangun talud. Lokasinya di tiga titik. Yaitu di Dusun Gambyok, Dusun Ngeluk, dan Dusun Plosolanang.
“Pembangunan talut ini sesuai dengan permintaan warga,” jelas Kades Gambyok Gunawan.
Untuk talud di Dusun Ngeluk, berada di dekat jalan persawahan yang baru dibuat. Karena itu butuh talud agar tanah tak tergerus air.
Sementara, pada 2023 lalu, program ketahanan pangan berupa pembuatan sumur submersible. Totalnya ada delapan submersible, yang lokasinya terpencar di tiga tempat. Pembangunan sumur submersible ini juga permintaan warga.
“Alasannya karena biayanya lebih murah dibanding pompa disel,” kata Gunawan.
Dengan menggunakan submersible, petani bisa menghemat 38 persen biaya. Selain itu penggunaan pompa dengan bahan minyak ini dianggap juga tidak hemat waktu dan tenaga.
“Jika masih menggunakan pompa disel, petani ini perlu membawanya dari rumah ke sawah,” kata Gunawan. Belum lagi risiko hilang bila ditinggal di sawah.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah