Alvin terbilang baru menapaki jalur profesional di cabang angkat besi. Namun, tiga medali emas sudah mampu dia raih di kejuaraan nasional. Hebatnya, semua itu dicapai ketika usianya baru 13 tahun!
Alvin Saputra semringah menunjukkan tiga medali emas. Buah kerja kerasnya menempa diri selama ini. Bocah kelas 7 di SMP Negeri 3 Kota Kediri itu meraihnya dari ajang Kejuaraan Nasional Angkat Besi U-12 dan U-14 tahun ini.
Bocah kelahiran Kalimantan Timur 2010 silam ini tak banyak bicara. Namun, raut mukanya menunjukkan betapa bangganya dia. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Apalagi prestasi itu membuat ayah dan ibunya tak kalah bangganya.
“Senang, karena memang motivasinya ingin membanggakan orang tua,” katanya.
Olahraga angkat besi memang menjadi hobinya sejak kecil. Pamannya-lah yang memperkenalkan. Anak tunggal pasangan Hadi Prayitno dan Sugianik itu menggeluti angkat besi sejak duduk di bangku sekolah dasar.
“Sejak kelas dua SD. Tapi ikut lomba baru-baru ini. Waktu SD pernah ikut perlombaan tapi gagal,” imbuhnya saat ditemui di ruang kepala sekolah.
Bagi sebagian orang, angkat besi agaknya merupakan olahraga yang terlalu ekstrem untuk anak-anak. Namun, bagi Alvin justru jadi jalan mengembangkan kemampuan diri. Berprestasi di bidang yang tidak banyak diminati anak sebayanya.
“Kenapa angkat besi mungkin karena pesaingnya tidak terlalu banyak,” ujarnya soal anak-anak sebayanya yang lebih banyak berminat di olahraga mainstream. Sebut saja seperti sepak bola atau basket.
Pilihannya pada angkat besi tentu datang dengan beragam konsekuensi. Selain waktu bermain yang harus berkurang karena jadwal latihan, jatuh bangun juga sering dialami.
“Di antara susah senang memang lebih banyak susahnya,” kelakarnya.
Bagaimana tidak, untuk meraih kemenangan ia harus disiplin berlatih. Mulai dari berlatih fisik sampai teknik angkat besi. Rekor tertinggi yang pernah diraihnya ada di angka 101 kilogram (kg). Lebih dari dua kali berat badannya sendiri yang saat ini hanya 49 kg.
“Kuncinya harus rutin latihan. Dikuatkan pinggang, paha, dan perut juga. Tekniknya juga harus diperhatikan,” sambung siswa kelas VII itu.
Beberapa kali bocah laki-laki asal Kelurahan Banjaran itu sering cedera. Seperti cedera lutut dan siku yang dia dapat tahun lalu. Trauma pascakejadian itu bahkan sampai membuatnya takut untuk mengangkat beban.
“Karena salah posisi waktu mengangkat. Sekarang sudah membaik. Dulu sempat break seminggu sampai dua minggu,” akunya.
Selain rasa sakit, lelah karena harus berlatih setiap hari juga jadi makanannya sehari-hari. Bahkan, di satu waktu ia pernah berhenti berlatih selama berbulan-bulan. Berkat kemauan dari diri sendiri dan dukungan keluarga, Alvin mau bangkit dan berlatih kembali.
“Karena setiap hari harus latihan. Tapi karena di rumah juga nggak ngapa-ngapain, jadi ikut latihan lagi,” ujar anak laki-laki yang gemar berenang ini.
Kini, Alvin sudah jauh lebih sungguh-sungguh dalam menggeluti angkat besi. Tiga medali emas yang ia dapatkan dari perlombaan yang digelar di Sentul, Bogor bulan lalu, memacunya terus mengembangkan diri. Berlatih sungguh-sungguh untuk menyambut lebih banyak lagi kejuaraan. Sebagaimana satu sosok yang selama ini menjadi role model baginya.
“Beliau senior angkat besi di pelatnas, Eko Yuli Irawan. Kagum karena bisa jadi juara olimpiade internasional,” ungkapnya sembari berharap bisa mengikuti jejak kesuksesan sang idola.
Editor : Anwar Bahar Basalamah