Masyarakat Kabupaten Nganjuk terutama warga Kecamatan Ngetos sangat familiar dengan nama Syeikh Maliki atau Malik Al Atos. Karena Syeikh Maliki diyakini sebagai orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Ngetos. Sehingga, saat menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, banyak peziarah datang ke makam Syeikh Maliki.
Zaman dulu, Desa/Kecamatan Ngetos dikenal bernama Tajum atau Tajung. Penamaan tersebut disematkan pada masa kerajaan Majapahit. Daerah tersebut memiliki keistimewaan. Karena menjadi pusat agama Hindu yang dipimpin oleh seorang pemuka agama bernama Pu Tajum.
Hingga pada akhir abad ke-14, datang Syeikh Maliki ke Ngetos. Ia datang ke sana bertujuan menyebarkan agama Islam. Namun, dia tidak menggunakan kekerasan atau pemaksaan. Cara-cara yang dipakai sangat santun. “Penyebaran agama Islam secara pelan-pelan. Apalagi, Beliau (Syeikh Maliki) dikenal sabar,” ujar Aries Trio Effendi, pemerhati sejarah Nganjuk.
Syeikh Maliki menyebarkan agama Islam secara pelan dan menghindari bentrokan dengan keyakinan masyarakat sebelumnya. Ia dikenal memiliki ilmu makrifat yang sangat tinggi. Kelebihannya itulah yang membuat banyak orang akhirnya dengan senang hati memeluk agama Islam. “Beliau dikenal memiliki ilmu yang tinggi dan doanya dikabulkan Allah SWT,” sambung ayah dua anak tersebut.
Kegigihan Syeikh Maliki perlahan namun pasti menunjukkan hasil yang memuaskan. Agama Islam semakin meluas saat Kerajaan Majapahit runtuh pada abad ke-15. Mayoritas masyarakat Ngetos yang sebelumnya beragama Hindu akhirnya memeluk Islam.
Di sana, Syeikh Maliki mengajarkan banyak hal kepada masyarakat Ngetos soal Islam. Aries mengatakan bahwa banyak situs peninggalan dari masa tersebut. Seperti sendang yang biasanya dipakai untuk berwudhu sebelum menjalankan salat lima waktu dan sunnah.
Ada dua sendang yang dulunya diyakini menjadi tempat menyucikan diri oleh Syeikh Maliki. Salah satunya adalah sendang yang berada di bawah masjid yang berada di dekat Candi Ngetos. “Di sini dulunya Beliau kalau berwudhu,” ujar Aries.
Jasa Syeikh Maliki tersebut akhirnya membuat namanya semakin disegani. Hingga akhirnya, warga menyebutnya dengan sebutan Sunan Ngatas Angin. Pasalnya, daerah tersebut dahulu kala juga diyakini ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Ngatas Angin. (tar/tyo)
Editor : adi nugroho