Seblak adalah makanan pedas yang masih populer hingga kini. Isiannya
tidak hanya kerupuk. Namun, sajian ini diminati karena varian topping yang bikin nikmat.
Seblak bisa dikata makanan yang berbahan kerupuk dari Sunda. Tepatnya Bandung. Makanan hangat dan berkuah ini memang cocok disantap ketika musim hujan seperti saat ini.
Pada umumnya, seblak disajikan dari olahan kerupuk udang yang disiram bumbu atau kuah pedas. Tentu saja pedas seblak ini berasal dari cabai rawit pilihan.
“Seblak buatan saya terbuat dari cabai segar dibeli langsung dari petani,” ujar Setyo Wahyu Ningsih, pemilik kedai Kitchen Yangkem.
Pantas saja pedas seblak buatan Wahyu ini begitu terasa ketika sekali sendok. Tidak hanya rasa pedas cabai, namun juga rempah lain, seperti bawang merah, kencur dan daun jeruk. Terbuat dari bahan yang segar, membuat makanan pedas satu ini begitu menggoda.
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri, perempuan berusia 29 tahun ini mengatakan, bahan dibuat seblak selalu baru. Untuk membuat bumbu, Wahyu menggunakan cabai rawit sebanyak lima kilogram. Cabai tersebut didapatkan dari petani di wilayah Kepung. “Cabai dihaluskan menggunakan mesin coper,” ungkapnya.
Yang membuat seblak buatan Wahyu berbeda dari yang lain adalah porsi kerupuknya lebih sedikit dibandingkan dengan topingnya. Di kedainya, satu porsi seblak setidaknya terdapat empat toping. “Tergantung dengan varian seblaknya,” katanya.
Untuk seblak nyangkem, menurut Wahyu, selain kerupuk dan makaroni juga terdapat toping ceker, sosis, bakso, telur puyuh, dan sayur. “Untuk seblak seafood, ada udang, cumi, sosis, chikuwa, dumpling, telur puyuh, dan sayur,” paparnya.
Alasan kenapa lebih banyak toping dibandingkan kerupuk, Wahyu mengatakan, hal tersebut disesuaikan dengan lidah konsumennya. Di mana kebanyakan mereka lebih menyukai banyak toping dibandingkan kerupuk.
Tidak hanya kualitas bumbu, meski merupakan seblak kedai pinggir jalan. Selain kualitas bumbu, ia juga menjaga kualitas bahan-bahan lainya. Salah satunya adalah seafood. Udang dan cumi-cumi yang digunakan selalu segar, tidak membeli yang frozen. “Kalau pakai cumi fresh, jadinya tidak amis dan merubah rasa bumbu seblak,” beber Wahyu. (ara/ndr)
Editor : adi nugroho