Boscu asal Kecamatan Kertosono ini berbadan tegap. Tinggi besar. Kumis tebal. Brewok. Sorot mata tajam. Kulit hitam. Meski berkacamata tetapi tetap terlihat sangar. Banyak orang menganggapnya preman jika sedang cangkruk dan minum minuman keras. Namun, image sangar tersebut ternyata tidak membuat Mbak Sri, calon istri Boscu takut. Justru, Boscu yang ciut nyali saat berhadapan dengan Mbak Sri. Penampilan Mbak Sri yang berhijab, ramah dan murah senyum membuat Boscu yang suka omong kotor jadi tak berkutik.
Sebagai calon istri, Mbak Sri mengenal betul sikap dan perilaku Boscu. Mulai dari makanan kesukaan, hobi hingga kebiasaan nakalnya, seperti minum minuman keras dan karaoke di eks lokalisasi. Saat Boscu berjanji tobat dan ingin menikah dengan Mbak Sri, cewek desa ini memiliki satu syarat. Yaitu, Boscu harus tobat. Tidak boleh minum minuman keras dan nyanyi dengan Mbak Pur. Tidak itu saja, jangan sampai beli kroto di warung Mbak Pur. Jika ketahuan, sanksinya sangat berat. Mbak Sri akan membatalkan persetujuan dinikahi Boscu di tahun ini.
Karena sudah jatuh cinta dengan Mbak Sri, Boscu langsung setuju. “Siap,” jawabnya tanpa berpikir panjang. Apalagi, usia Boscu sudah kepala tiga. Teman-temannya sudah banyak yang menikah. Bahkan, sudah ada yang menimang anak. Lagian, Boscu juga merasa capek berperilaku seperti preman.
Tapi, yang namanya setan ternyata tidak ikhlas jika Boscu bertobat. Godaan kepada Boscu bertubi-tubi muncul. Mulai dari minum satu sloki sebagai penghormatan saat menghadiri pesta pernikahan temannya hingga mendapat tugas untuk melihat kondisi dunia malam di Kota Angin. Saat mendapat tugas itu, Boscu bingung. Dia khawatir Mbak Sri akan tahu. Namun, jika dia tidak menjalankan tugas dari atasannya, dia tidak berani. Padahal, dia sudah berjanji bertobat. Mumet. Pasti.
Saat malam hari, Boscu punya ide. Dia mengajak dua temannya ke eks lokalisasi. Agar Mbak Pur yang biasanya menemani tidak curiga dengan perilaku Boscu yang berubah 180 derajat, dia tetap memasang tampang sangarnya. Mbak Pur yang melihat Boscu dengan dua temannya, langsung pesan minuman keras. Tak tanggung-tanggung empat botol miras langsung dipesan. Entah apa yang merasuki Boscu, niat awalnya hanya menjalankan tugas dan tidak minum miras berubah saat melihat empat botol miras di meja. Apalagi, Mbak Pur dengan agresif selalu mepet Boscu dan menuangkan miras. Boscu mabuk lagi.
Keluar dari room, Boscu ingat dengan janjinya kepada Mbak Sri. Dia takut Mbak Sri tahu jika dia mabuk dan karaokean lagi dengan Mbak Pur. Namun, jika dia tidak cerita, Boscu tambah tidak tenang. Jangan-jangan temannya cerita ke Mbak Sri. Malah jadi ruwet nantinya.
Dengan kaki gemetan dan jantung berdebar kencang, Boscu akhirnya cerita ke Mbak Sri. Jika dia tadi malam karaoke dan minum miras. “Tapi karaoke ini terpaksa karena tugas,” ujarnya memelas.
Mbak Sri langsung emosi. Dia ngomel-ngomel. Boscu yang biasanya suka membentak-bentak, tiba-tiba menjadi pendengar setia. Dia diam saja mendengar amukan calon istrinya. “Potong gundul sana. Mandi keramas,” teriak Mbak Sri.
Dengan lemas, Boscu pulang dari rumah Mbak Sri. Barbershop yang dituju. Rambut kesayangan yang jadi mahkota dihilangkan. Terus keramasnya bagaimana?
Editor : adi nugroho