Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Supanto dan Upayanya Membuat Tari Kuda Lumping Berciri Khas Kediri

adi nugroho • Senin, 15 November 2021 | 21:55 WIB
supanto-dan-upayanya-membuat-tari-kuda-lumping-berciri-khas-kediri
supanto-dan-upayanya-membuat-tari-kuda-lumping-berciri-khas-kediri


Kabupaten, JP Radar Kediri. Hujan deras mengguyur di sekitar Goa Jegles, di Desa Keling, Kecamatan Kepung. Udara dingin pun menyusul. Dan tetap terasa dingin meskipun titik-titik air sudah reda. Sudah tak jatuh lagi ke bumi.


Hawa dingin itu tak menyurutkan semangat belasan penari dengan pakaian warna cerah. Mereka tetap melenggak-lenggokkan badannya. Mengikuti alunan irama gamelan yang ditabuh para nayaga. Kuda kepang dikempit di antara dua kaki. Dengan tali menyelendang di pundak. Tangan kiri penari itu memegang sang kuda dari bambu. Tangan yang satunya  memegang cemeti.


Para penari itu berasal dari Paguyuban Jaranan Semboro Putro. Sanggar tari jaranan yang ada di Desa Keling. Mereka sudah terbiasa menarikan jaranan seperti itu. Namun, khusus dalam pertunjukan yang kemarin penampilan pemuda belasan tahun itu tak segarang seperti biasanya.


“Tarian ini menggambarkan prajurit berkuda yang sedang berlatih perang. Menguji ketangkasan dan mahir berburu binatang,” terang Supanto, koordinator Paguyuban Jaranan Semboro Putro.


Supanto, yang merupakan salah satu koreografer Tari Kuda Lumping tersebut mengatakan, sebenarnya tak banyak perbedaan dengan jaranan selama ini. Yang membedakan adalah memberi karakter khas Kediri. Agar berbeda dengan jaranan dari daerah lain seperti Tulungagung maupun Blitar.


Seperti halnya dalam tari jaranan, Tari Kuda Lumping akan menampilkan beberapa adegan. Pertama adalah penari yang tampil mengendarai kuda lumping. Kemudian muncul sosok penari caplokan. Setelah itu masuk penari celengan, atau yang membawa gambar berbentuk babi hutan. Setelah ketiganya berkumpul, terjadilah pertarungan.


Yang membedakan ada pada puncak tarian. Tak ada penari yang ndadi alias kesurupan dalam Tari Kuda Lumping ini.


“Tidak ada atraksi seperti kesurupan dan aksi debus. Jadi kami memang menunjukkan tarian kuda lumping,” terang pria berusia 61 tahun ini.


 


Di pertunjukan biasa, pemain jaranan menunjukkan atraksi menakjubkan. Yang biasa disebut ndadi. Fase itu adalah ketika seorang pemain mengalami trans. Kemudian mampu melakukan tindakan yang tidak bisa dilakukan manusia biasa. Seperti memakan beling atau pecahan kaca, makan paku, serta berjalan di bara api.


Hal itu terkait dengan kepercayaan penduduk dan masyarakat Jawa zaman dulu. Jaranan dijadikan sarana berkomunikasi dengan roh para leluhur. Ketika komunikasi terjadi, itulah yang disebut dengan ndadi.


Sedangkan Tari Kuda Lumping berbeda. Fokus tarian ini adalah eksotisme seni tarinya. Tidak lagi pada aksi kesurupan para penari.


Supanto mengatakan, bersama dengan sesepuh jaranan yang lain, dia kemudian merumuskan gerakan-gerakan tarian Kuda Lumping. Gerakan inilah yang akan menjadi pakem pertunjukan jaranan khas Kediri. Seperti yang ditampilkan dalam pertunjukan di depan Goa Jegles itu.


Butuh waktu sekitar tiga minggu untuk memoles para penari, sebelum ditampilkan pada acara ritual selamatan Goa Jegles. “Tarian ini sudah diresmikan oleh pemerintah. Artinya kami, Kediri, sudah punya tari khas sendiri mulai sekarang,” paparnya.


Karena masih baru, acara kemarin sekaligus jadi sarana mengenalkan kepada masyarakat. Bahwa jaranan di Kediri kini menggunakan istilah tari kuda lumping pakem Kediri. “Tari kuda lumping memang sudah tidak asing lagi, banyak daerah yang memakai kuda lumping sebagai kesenian tari. Namun isi cerita dalam tarinya punya ciri khas tersendiri,” tegasnya.


Saat pertunjukan dimulai, tari kuda lumping lebih dahulu ditunjukkan. Menggambarkan prajurit Kerajaan Kediri berkuda melakukan perjalanan. Mereka mempunyai karakter dari segi kesantunan tata krama dan tata bahasa. Semua itu tergambarkan dari tarian kuda lumping yang dibawakan selama empat jam oleh belasan penari itu.


Ritual selametan yang diiringi dengan pertunjukan tari kuda lumping ini sekaligus menjadi obat rindu bagi para penonton. Khususnya warga Desa Keling, setelah hampir dua tahun tidak ada pertunjukan jaranan. Warga pun antusias. Berbondong-bondong menyaksikan.


“Saya sengaja datang untuk menonton. Kabarnya ada tari khas Kediri jadi saya bersama teman-teman sekolah janjian nonton bareng,” ujar Ines Dwi Novita, 16, remaja asal Desa Keling.(fud)

Editor : adi nugroho
#pertunjukan #radar kediri #kuda lumping #kediri #jaranan #seni