Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pilih Juru Kunci Makam, Warga Bagol pun Coblosan Laiknya Pemilu

adi nugroho • Selasa, 30 Maret 2021 | 03:02 WIB
pilih-juru-kunci-makam-warga-bagol-pun-coblosan-laiknya-pemilu
pilih-juru-kunci-makam-warga-bagol-pun-coblosan-laiknya-pemilu


Ada satu syarat yang harus dimiliki seseorang yang maju dalam pemilihan juru kunci ini. Harus punya kemampuan supranatural!


-----------------------------------------


ILMIDZA AMALIA NADZIRA


Kabupaten, JP Radar Kediri


-----------------------------------------


Nama dusun ini adalah Dusun Bagol. Menjadi bagian dari Desa Ngablak di Kecamatan Banyakan. Berada di barat Sungai Brantas. Kira-kira tujuh kilometer dari pusat Pemerintahan Kabupaten Kediri di Katang, Kecamatan Ngasem.


Dusun ini justru lebih dekat dengan wilayah Kota Kediri. Bahkan berbatasan langsung dengan Kelurahan Mrican di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Karena itu, untuk urusan administrasi kepolisian, seperti mengurus SIM dan STNK, dusun ini tergabung dengan Polres Kediri Kota.


Jumlah penghuni dusun ini 500-an kepala keluarga. Mereka terbagi dalam delapan rukun tetangga (RT) di tiga rukun warga (RW). Mata pencaharian penduduknya rata-rata adalah petani padi.


Saat ini suasana di dusun itu terasa semarak. Baliho besar berdiri di tiap persimpangan dusun. Isinya gambar potret orang setengah badan. Mirip gambar kampanye calon ketika pemilihan umum atau pemilihan kepala desa (pilkades).


Ada juga poster dengan gambar serupa. Tertempel di sepanjang tepi jalan. Juga di tugu-tugu masuk dusun. Pokoknya, mirip pelaksanaan pemilu.


Pemilu? Ya, dusun ini memang sedang menggelar pesta demokrasi. Namun, bukan untuk mencari kepala dusun, melainkan untuk memilih seorang juru kunci makam!


Pemilihan juru kunci makam itu akan berlangsung Minggu besok (28/3). Kandidatnya enam orang, yang semuanya ada di gambar dalam baliho itu. Jamiran, Rohmad Wasisto, Winih, Imam Nachrowi, Sunaryo, dan Imam Sahudi.


“Biar demokratis,” kata Ketua Panitia Pemilihan Juru Makam, Suyitno, 49. “Juru kunci yang lama stroke. Warga ingin segera ada penggantinya,” sambungnya.


Tidak mudah untuk jadi calon juru kunci makam ini. Tak sekadar mau dan berani saja. Paling utama harus menguasai ilmu yang terkait dengan supranatural. “Orangnya harus orang pinter,” jelas Ketua RW 2 ini.  Orang pinter menurutnya adalah calon harus mengerti hal-hal gaib. Serta tak takut dengan hal-hal yang tak kasat mata.


Syarat yang unik itu terkait dengan tugas sang calon bila terpilih. Mereka mengurusi sesuatu yang berkaitan dengan makam, dengan orang mati. Misalnya, juru kunci makam inilah yang akan bubak bumi (membuka liang kubur). Yang jadi juga harus merawat makam-makam serta punden dusun.


Berat dan ‘seramnya’ tugas sang juru kunci itu sebanding dengan imbalannya. Juru kunci terpilih akan mendapat bengkok alias tanah garapan seluas sebahu. Setara dengan tiga perempat hektare. Lahannya juga subur. Bisa ditanami padi ataupun tebu.


Belum lagi, masih ada ceperan. Terutama dari para peziarah. Seperti saat Ramadan banyak orang yang nyekar dan memberi uang ke juru kunci. “Biasanya kan orang-orang pasti memberi sodakohan,” terang Yitno.


Selain itu, masa bakti juru kunci juga tak terbatas. “Selama hidup orang yang terpilih,” ucap Yitno. Kecuali bila sakit keras seperti juru kunci sebelumnya, Jayat.


Pemilihan juru kunci ini bukan pertama kalinya dilakukan. Saat menunjuk Jayat pada 2004 silam juga melalui pemilihan. Saat itu juru kunci lama meninggal. Jayat mengalahkan tiga kontestan lainnya.


Bagi warga dusun, ajang seperti ini sudah biasa bagi mereka. Warga pun menyambut dengan gembira. Pemilihan apapun pasti menjadi pesta rakyat. “Sayangnya sekarang lagi pandemi. Coba nggak pandemi, pasti akan meriah seperti pemilihan kepala desa,” kata Komsatun, 53.


Kom tidak asing dengan juru kunci ini. Dia adalah anak dari juru kunci sebelum Jayat. Karena itu dia paham bahwa menjadi juru kunci tidak mudah.


“Ayah saya lama, berpuluh-puluh tahun lah. Dari saya kecil hingga saya sudah punya anak. Saat beliau meninggal baru dilakukan pemungutan suara,” terangnya.


Yang terpilih pun tak bisa sembarangan. Bahkan, saudara laki-lakinya juga tak bisa mencalonkan. “Jadi memang tidak sembarangan orang. Meski anaknya juru kunci, kakak laki-laki saya juga tidak ditunjuk untuk meneruskan ayah saya,” ujarnya.


Namun, ada hal yang menarik perhatian dirinya dan warga sekitar. Menurutnya, satu minggu jelang pencoblosan ini, di Dusun Bagol sudah ada enam orang yang meninggal dunia. “Setiap hari ada saja orang meninggal. Ini yang meninggal sampai hari ini sudah enam orang. Kebetulan yang mencalonkan ada enam orang juga,” tandasnya. (fud)

Editor : adi nugroho
#kediri