Dahulu di kalangan penyiar radio Kediri, nama Sumadi Kaset sudah tak asing lagi. Mereka kerap berinteraksi di ‘udara’. Terutama ketika program hiburan dendang dangdut. Ada ciri khas suara Sumadi mudah dikenali. Apa itu?
IQBAL SYAHRONI, Kota, JP Radar Kediri
Salah satu lagu dangdut itu diputar di laptop di dalam ruangan tertutup. Di sana ada seorang mantan penyiar radio. Choirul Abadi namanya. Di salah satu studio radio Surya di Ngadiluwih, Abadi terlihat sedang mengatur suara musik. Tujuannya tidak untuk diputar saat itu juga.
Berbicara tentang musik dangdut, dia punya cerita menarik saat menjadi penyiar pada 1999. Tahun itu Abadi berkenalan dengan Sumadi Kaset. "Sebelumnya memang sudah terkenal Pak Sumadi itu," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Saat itu dia masih bekerja di Radio Andika Kediri. Sebagai penyiar muda, ia juga mendapat tugas untuk produksi musik. Tugasnya melakukan pemutaran lagu ketika siaran. Baik on air maupun off air. Ia masih ingat betul ketika kali pertama berkomunikasi dengan Sumadi.
Saat itu dirinya sedang menjadi penyiar di segmen dangdut dengan nama program “Warung Lesehan”. Malam-malam ada telepon masuk. Suaranya sudah tidak asing lagi, suara lelaki parobaya yang berat, namun santai.
Begitu yang diingat oleh Abadi ketika mendengarkan suara Sumadi. “Yang jadi khas almarhum Sumadi itu sering kali setiap awal masuk parikan terlebih dahulu,” kenangnya.
Laki-laki yang lahir pada 1978 itu menjelaskan, sebenarnya ia sudah sering mendengar Sumadi jauh sebelum siaran pada 1999. Waktu itu Abadi sudah mendengar kiprah Sumadi di beberapa radio area Kediri.
Mulai dari Radio Wijang Songko, Andika, hingga ke Suara Kediri (SK) FM. Yang paling diingat oleh Abadi selama menjadi pendengar saja adalah nama Sumadi Kaset. “Yang paling menonjol, pasti memperkenalkan dirinya dengan nama Sumadi Kaset. Kadang memang pembawaan yang asyik, seperti halo, iya masa lupa, ini saya Sumadi Kaset. Sebelum memberikan parikan,” paparnya.
Konsistensi memperkenalkan diri dengan nama “Sumadi Kaset” terus dilakukan hingga awal 2000. Makanya orang secara sadar dan tidak sadar pasti akan bertanya, atau setidaknya mencari tahu siapa dan apa itu Sumadi Kaset.
Meski sudah lama memperkenalkan diri sekaligus promosi diri ini juga sebenarnya menjadikan hubungan timbal balik yang baik dengan para penyiar. Seperti untuk urusan di luar kantor.
“Sering saya bertemu dengan Pak Sumadi dulu, bersama dengan teman-teman di udara lainnya, seperti Bu Un Buah, Pak Nato Sablon, dan lainnya,” terang Abadi.
Sifat Sumadi Kaset ini, menurutnya, tidak berbeda jauh dari persona yang dibangun di udara ketika on-air dan saat bertemu. Seringkali Sumadi Kaset bertemu dengan mantan wartawan RCTI Kediri itu di luar jam kantor.
Sekadar untuk mampir saja atau untuk mengobrol ringan. “Memang asyik orangnya. Tidak dibuat-buat, makanya saya sangat salut terhadap beliau,” ungkap Abadi.
Pertemanan dari udara itu yang membuat Abadi memiliki ikatan yang kuat dengan Sumadi. Semenjak berteman melalui udara itu, Abadi menjelaskan bahwa dirinya kerap mampir ke toko Sumadi Kaset. Entah untuk berburu kaset tape recorder atau hanya untuk sekadar berbincang dengan Sumadi.
Selain Abadi, ada juga penyiar radio lain yang ingin berbagi kisah bernostalgia bersama Sumadi Kaset. Yulfa Savitri merupakan mantan penyiar di Radio Andika juga, saat ini ia masih aktif di Radio Bonansa.
Berbeda dengan Abadi, Yulfa hanya beberapa kali saja menerima “telepon” dari Sumadi ketika sedang menyiarkan acara hiburan lagu-lagu. “Beda segmen soalnya, Mas. Saya lebih banyak di segmen lagu pop. Kalau Pak Sumadi lebih sering masuk segmen radio saat dangdut atau campursari,” kenang Yulfa.
Dia pernah mengisi di segmen oldies. Atau lagu-lagu lama nostalgia. Jamnya sama, ketika Sumadi sering muncul di telinga para pendengar, yakni pukul 20.00 WIB ke atas.
“Sama, sih, memperkenalkan diri sebagai Sumadi Kaset, dan titip salam, dan request lagu nostalgia gitu Mas,” imbuh Yulfa.
Keduanya menilai pesona Sumadi Kaset adalah golongan orang yang menolak tua. Dengan style rambut klimis, berkacamata, memakai jaket kulit orang pasti berpikir “ngeri” apalagi dihiasi kumis tebal. Namun bila sudah mengenal malah jauh dari rasa ngeri. Karena Sumadi dikenang sebagai tokoh yang memang supel, sehat, dan baik hati.(ndr/bersambung)
Editor : adi nugroho