Bicara mi pangsit tidak bisa dipisahkan dari mi olahan Pak Ong. Perintis mi dengan ukuran kecil dan sajiannya yang terpisah antara kuah dan mi di Kediri. Resepnya pun dipertahankan selama puluhan tahun dan turun temurun.
PUSPITORINI DIAN H., Kabupaten, JP Radar Kediri
Dia lebih dikenal dengan nama Pak Ong atau Om Ong. Mi pangsit olahan pria yang memiliki nama lengkap Ong Kian Hie ini memang istimewa. Ada sejak 1974, mi yang berada di Jalan Dhoho itu sangat terkenal.
Beda dengan mi pangsit di tahun itu yang biasanya berukuran lebar dan besar, Mi Pak Ong hanya memiliki lebar 2 milimeter. Kecil-kecil. Tak hanya itu, saat disajikan, dia sengaja memisahkan antara kuah dan mi. Ide yang muncul saat jalan-jalan ke Jakarta.
“Tahun itu biasanya mi dicampur dengan kuah. Makanya disebut Cui Mie. Cui artinya air,” tutur Yuyun Masita, anak dari Om Ong. Sementara sajian Om Ong memang lebih ke arah sajian Ya Mie yang kering.
Tentu saja, ukuran mi pangsit yang kecil-kecil ini memang sesuai dengan konsep pembuatan mi yang sederhana dan simpel khas Suku Hakka. “Mi itu memang harus simpel, karena konsepnya diaduk dengan minyak dan bumbu lalu disajikan untuk sarapan pagi,” terangnya. Ukuran yang kecil akan mempercepat kematangan dan penyajian.
Tak hanya sajiannya saja yang istimewa, resep yang digunakan Om Ong pun beda dengan mi pangsit pada umumnya. Yaitu menggunakan telur. Membuat mi terasa lebih empuk dan enak. “Resep yang digunakan papa (Om Ong) sudah turun temurun dari leluhur di tanah Tionghoa,” beber Yuyun.
Resep kuno mi pangsit itulah yang tetap dipertahankan Yuyun, si penerus. Kini, mi pangsit Om Ong itu sudah memiliki brand sendiri yaitu Mirasa. Nama Mirasa yang berarti enak itu pun disematkan oleh pelanggan Om Ong. “Ada pelanggan pak polisi Polresta (polres Kediri Kota) yang memberi nama,” terangnya.
Yuyun pun mempertahankan olahan mi pangsit dari ayahnya itu. Termasuk mempertahankan penggunaan telur bebek. Dia masih ingat ketika krisis ekonomi datang dan tak banyak yang berjualan telur bebek, dia sempat berpindah menggunakan telur ayam. Tetapi, sampai saatnya dia kembali diingatkan oleh ayahnya untuk kembali ke resep awal. “Papa ingatkan untuk kembali menggunakan telur bebek. Rasanya saja sudah beda,” tutur perempuan yang juga pemilik Rumah Makan Mirasa 2 ini.
Memang, telur bebek tidak hanya memberi rasa yang lebih empuk pada mi, tetapi juga warna kuningnya menjadi lebih kelihatan dan menyala. Sehingga, dia tidak perlu menggunakan bahan pewarna. “Karena itulah, kami tetap pertahankan resep kuno ini,” terangnya.
Diungkapkan oleh Yuyun, dirinya masih ingat di masa kecil, memang ada beberapa mi ayam. Khususnya di Jalan Dhoho, ada depot mi yang cukup dikenal yaitu Depot Siong. Di depot ini menjual cui mie yang kuah dan mi-nya bercampur. Dilanjutkan dengan penjualan mi-mi dengan gerobak. Tetapi, ukurannya rata-rata masih tebal dan besar dengan kuah yang dicampur.
Perkembangannya, Yuyun memang menyesuaikan dengan lidah orang Kediri. Tentu saja penggunaan minyak ayam yang dijamin kehalalannya. Selain itu, dia menambahkan olahan pangsit yang semakin mengukuhkan mi pangsit ini.
Pangsit ini sendiri dibuat khusus bersamaan dengan mengolah mi. Dagingnya murni dari daging sapi, kulitnya pun khusus, sangat tipis dan lembut. Pangsit ini dibuat langsung dengan memasukkan daging di dalam kulit kemudian direbus sebentar sebelum digabung dengan mi.
Selain itu, dia menambahkan potongan ayam yang sudah dicacah dan diolah khusus sehingga pas dan lezat saat dipadu dengan pangsit yang kulitnya memang tawar. “Kami juga menambahkan bakso daging sapi asli sebagai toping,” terangnya.
Karena pemisahan kuah dan mi, Yuyun memberikan tips cara menyantapnya. Yaitu dengan menyantap mi, dan sesekali mengambil kuah untuk memperlancar saat menyantap mi. “Jangan dicampur dulu, biar tambah nikmat,” sarannya.
Editor : adi nugroho