Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sudar, Perakit Mesin Pencetak Plastik yang Otodidak

adi nugroho • Rabu, 5 September 2018 | 23:25 WIB
sudar-perakit-mesin-pencetak-plastik-yang-otodidak
sudar-perakit-mesin-pencetak-plastik-yang-otodidak

Sudar tak memiliki background pendidikan permesinan. Dia hanya seorang lulusan SMA pertanian. Kemampuannya merakit dan membuat mesin pencetak plastik diperoleh dengan hanya melihat mesin aslinya.


 


 


ANDHIKA ATTAR


 


          Lazimnya, orang yang berkecimpung di industri perakitan mesin mempunyai latar belakang di dunia teknik. Minimal pernah menimba ilmu di sekolah kejuruan mesin atau listrik.


Namun, konsep tersebut tidak berlaku bagi Sudar. Warga Dusun Mantren, Desa Tenggerkidul, Pagu, Kabupaten Kediri ini hanyalah seorang lulusan SMA pertanian di Ponorogo.


Tapi, di zaman sekarang Sudar membuktikan tak ada sesuatu yang tak mungkin. Ia membuktikan bahwa ilmu tidak melulu didapatkan dari bangku formal sekolah maupun kuliah. Dia mampu  menyerap ilmu yang bertebaran di sekitar kita. Asal harus tekun dan bersungguh-sungguh.


Keterampilannya ditempa dari kebiasaan dan pengalamannya selama masa kerja. Dua kali bekerja di perusahaan pembuatan mesin pencetak plastik membuatnya mengetahui seluk-beluk plastik dan mesin pencetaknya. “Dulu ikut bapak kerja di sebuah pabrik pembuat mesin pencetak barang-barang dari plastik di Jakarta,” ujar pria kelahiran Madiun ini.


Ia mengaku mendapatkan ilmu tentang mesin dan perakitannya juga pada saat bekerja di tempat itu. Tidak ada mentor. Apalagi melalui pelatihan khusus. Sudar hanya dengan telaten memperhatikan teknisi pabrik yang biasanya bertugas membongkar atau memperbaiki mesin jika ada masalah.


Pada waktu pertama masuk dan bekerja di perusahaan tersebut, ia menempati bagian quality control (QC). Tugasnya adalah sebagai pengendali atau pengawas mutu dari mesin rakitan keluaran pabrik tersebut.


Menjadi QC membuat Sudar akrab dengan seluk-beluk mesin pencetak barang-barang plastik tersebut. Bagian per bagian. Dia memperhatikan dengan seksama karena memang itulah tugasnya sebagai QC.


Dengan melihat prosesnya secara keseluruhan, sedikit demi Sudar mengerti tentang sistem dan komponen yang ada dalam mesin tersebut. “Lihat-lihat terus disuruh ikutan membongkar (mesinnya). Oalah ternyata seperti ini,” kenangnya sembari mengulang celetukannya saat pertama kali melihat jeroan mesin.


Sudar benar-benar seorang otodidak. Belajar sendiri mulai dari nol. Ia mengaku keterampilannya tersebut murni karena kesehariannya berkutat dengan mesin. Serta rasa ingin tahu yang tinggi saja. “Jadi, ya harus mengandalkan ingatan (belajarnya, Red),” imbuhnya.


Tentu saja proses yang terjadi tidak semudah yang dibayangkan. Banyak hal-hal baru yang belum dimengerti olehnya. Bahkan diakuinya bahwa merakit mesin tersebut merupakan hal yang sulit untuk dipelajari.


Ada beberapa jenis mesin yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Sangat rumit dan susah untuk dipelajari. Seperti halnya mesin untuk membuat mesin las potong. Yaitu mesin untuk menyambungkan lembar plastik menjadi tas kresek.


Selang waktu berjalan, Sudar pun mulai mengerti dan dapat membongkar sekaligus merakit mesin tersebut. Kemudian dia ditawari posisi sebagai teknisi di perusahan tersebut. “Soalnya waktu itu dinilai mampu oleh atasan saya,” akunya.


Lalu, pada 2003 Sudar pulang kampung dan mendirikan bengkel perakitan mesin pencetak barang plastiknya sendiri. Sudar merasa bekalnya sudah cukup untuk mengarungi bisnis tersebut dengan berdiri pada kedua kakinya sendiri.


Di bengkelnya, ia merakit beberapa macam mesin pencetakan tas plastik (kresek). Alat yang digunakannya pun terbilang cukup sederhana. Seperti halnya alat press, las, bor, dan sebagainya. “Untuk mesin bubut kami belum punya. Jadi lempar ke beberapa tempat untuk proses bubutnya,” terangnya.


Mesin pencetak plastik kresek yang dibuatnya ini terdiri dari tiga unit mesin yang memiliki bentuk dan fungsinya masing-masing. Ia bisa menjualnya per unit atau secara full unit.


Satu set mesin buatannya dibanderol dengan harga yang berkisar di angka Rp 300 juta. Dalam perakitannya sendiri, sudar menggunakan besi bekas yang dibeli di tempat langganannya.


Unit pertama bernama mesin roll. Yaitu untuk mengubah plastik cacah menjadi gulungan. Mesin kedua adalah mesin plong, berfungsi untuk memotong atau mencetak menjadi bentuk plastik kresek yang diinginkan. Sedangkan mesin ketiganya adalah mesin las potong.


Berdasarkan keterangannya, sudah lebih dari 30 unit mesin yang ia rakit dan pasarkan. Tak hanya di sekitar Kediri, Nganjuk, dan Jombang saja. Mesin buatannya pun sudah dipesan hingga Jambi dan Riau.

Editor : adi nugroho
#kediri #plastik #bisnis #kreatif