23.7 C
Kediri
Sunday, December 4, 2022

Para Jawara Ajang GenZverse School Contest XIV (8)

Angkat Cerita Kelud, Bingung karena Banyak Versi

- Advertisement -

Mereka hanya tim cadangan. Dibentuk dadakan ketika lomba kurang sebulan. Toh, juara berhasil mereka rengkuh.

Namanya Tim Pancabuwana. Punya lima kru inti yang merupakan siswa MAN 1 Kota Kediri. Tiga orang duduk di kelas 12. Dua lagi masih kelas 11. Yang kelas 12 adalah M. Faizal Adhim Nasrullah, M. Hermy Hibatullah, dan M. Rizky Ramadhan. Sisanya adalah Ananda Vito Nur Islam dan Nabila Amalia Maghira Izani Maula.

Sebenarnya, Pancabuwana hanyalah pelengkap. Namun, kelima anggotanya sudah saling mengenal karena dipersatukan dalam ekstrakurikuler robotik. Ini pula yang menjadi faktor mereka tampil sebagai juara dalam lomba Videografi School Contest XIV yang berlangsung di Convention Hall SLG beberapa waktu lalu.

“Kami semua tidak menyangka bisa dapat juara satu,” kata Hermy, koordinator Pancabuwana yang duduk di kelas IPS-4 ini.

Karena tim dadakan, jangan heran bila persiapan tergolong mepet. Mulai pembentukan hingga finishing pembuatan video serba kebut semalam.

- Advertisement -

“Waktu produktif kami sebenarnya hanya dua minggu,” aku siswa yang genap berusia 17 tahun ini.

Setelah tim terbentuk, anggotanya diperas untuk mencari tema yang akan diangkat dalam videonya. Pertama kali yang muncul adalah ide tentang Gunung Kelud. Terlintas di benak Hermy dan kawan-kawan tentang wisata, kuliner, dan pertanian. Mereka sempat menyamakan tema, yakni mengangkat pertanian nanas yang jadi ikon di sekitar Gunung Kelud.

Baca Juga :  Mengintip Indahnya Kedung Kalkun di Kandangan yang Mirip Green Canyon

Ketika semua sudah sepakat, guru dan pendamping mereka-Ali Syahbana-menganggap ide pertanian nanas itu hal biasa. Terlalu enteng. Dan kurang menarik. Ali, yang guru multimedia, memberi tantangan untuk menggarap cerita Gunung Kelud dari versi sejarah. Dari cerita sejarah itulah, Gunung Kelud sebagai objek wisata semakin menarik untuk dikunjungi.

Mendapat pemantik dari pendampingnya itu tim menerima tantangan. Mereka segera bermusyawarah. Menentukan cerita apa yang akan ditampilkan dalam video. Perdebatan terjadi untuk mendapatkan cerita yang pas. Setelah musyawarah panjang mereka memutuskan membuat cerita tentang Lembu Sura di Gunung Kelud.

Semua anggota pun bekerja sesuai tugas masing-masing. Seperti Lia -sapaan Nabila Amalia Maghfira Izani Maula- mendapat tuga membuat alur ceritanya. “Sempat bingung karena banyak versi,” ucap siswa kelas IPA-5 ini.

Karena durasi dibatasi hanya tiga menit, dia mencari cerita yang singkat. Setelah mendapatkan cerita di animasi dia kemudian menyusun skrip.

Yang lain, juga bersiap pada pekerjaan yang telah dibagi. Ada yang bagian properti seperti pakaian, ada pula yang menyiapkan teknis pengambilan gambar. Pembagian dilakukan agar waktu dua minggu bisa efektif.

Baca Juga :  Ratusan Pemudik Tiba di Terminal Tamanan

Kendala juga datang. Saat pengambilan gambar alat mereka sempat menyulitkan. Mulai dari stabilizer hingga pencahayaan.

“Alat yang kami pakai sangat terbatas. Satu kamera Sony 6000, dua lensa (50 mm dan 35 mm, Red) dan satu drone,” papar Hermy, yang juga mengurus bagian teknis pengambilan gambar.

Karena alat yang minim dan waktu yang terbatas membuat mereka semula pesimistis bisa menjadi juara. Target awal mereka hanya lolos seleksi. Selama pengerjaan, semua waktu difokuskan pada aktivitas video. Untungnya, mereka dapat dispensasi dari sekolah. Mulai dari pukul 08.00 hingga 15.00. Saat mengerjakan properti bahannya dibawa ke rumah.

Setelah semua gambar diambil, mereka kembali berdebat. Karena ada bagian yang harus dipangkas untuk menyesuaikan waktu. Ada tiga adegan yang harus dihapus. Yakni sayembara, dialog persyaratan Dewi Kilisuci ke Lembu Sura dan penggalian sumur. “Cerita itu kami pangkas tapi tidak boleh menghilangkan esensi ceritanya,” kata Faizal.

Dua hari sebelum lomba dimulai, mereka sudah harus menuntaskan semua masalah teknis seperti pengambilan gambar. Untuk finsihingnya adalah aditing video. Semua skill pengambilan video dipelajari saat pembuatan video robotik. “Setelah semua proses selesai, kami pasrah. Saya juga salat tahajud,” kenangnya. Ternyata, mereka justru terpilih menjadi terbaik.






Reporter: rekian
- Advertisement -

Mereka hanya tim cadangan. Dibentuk dadakan ketika lomba kurang sebulan. Toh, juara berhasil mereka rengkuh.

Namanya Tim Pancabuwana. Punya lima kru inti yang merupakan siswa MAN 1 Kota Kediri. Tiga orang duduk di kelas 12. Dua lagi masih kelas 11. Yang kelas 12 adalah M. Faizal Adhim Nasrullah, M. Hermy Hibatullah, dan M. Rizky Ramadhan. Sisanya adalah Ananda Vito Nur Islam dan Nabila Amalia Maghira Izani Maula.

Sebenarnya, Pancabuwana hanyalah pelengkap. Namun, kelima anggotanya sudah saling mengenal karena dipersatukan dalam ekstrakurikuler robotik. Ini pula yang menjadi faktor mereka tampil sebagai juara dalam lomba Videografi School Contest XIV yang berlangsung di Convention Hall SLG beberapa waktu lalu.

“Kami semua tidak menyangka bisa dapat juara satu,” kata Hermy, koordinator Pancabuwana yang duduk di kelas IPS-4 ini.

Karena tim dadakan, jangan heran bila persiapan tergolong mepet. Mulai pembentukan hingga finishing pembuatan video serba kebut semalam.

“Waktu produktif kami sebenarnya hanya dua minggu,” aku siswa yang genap berusia 17 tahun ini.

Setelah tim terbentuk, anggotanya diperas untuk mencari tema yang akan diangkat dalam videonya. Pertama kali yang muncul adalah ide tentang Gunung Kelud. Terlintas di benak Hermy dan kawan-kawan tentang wisata, kuliner, dan pertanian. Mereka sempat menyamakan tema, yakni mengangkat pertanian nanas yang jadi ikon di sekitar Gunung Kelud.

Baca Juga :  Pencuri Motor asal Sidoarjo Jalani Sidang Perdana

Ketika semua sudah sepakat, guru dan pendamping mereka-Ali Syahbana-menganggap ide pertanian nanas itu hal biasa. Terlalu enteng. Dan kurang menarik. Ali, yang guru multimedia, memberi tantangan untuk menggarap cerita Gunung Kelud dari versi sejarah. Dari cerita sejarah itulah, Gunung Kelud sebagai objek wisata semakin menarik untuk dikunjungi.

Mendapat pemantik dari pendampingnya itu tim menerima tantangan. Mereka segera bermusyawarah. Menentukan cerita apa yang akan ditampilkan dalam video. Perdebatan terjadi untuk mendapatkan cerita yang pas. Setelah musyawarah panjang mereka memutuskan membuat cerita tentang Lembu Sura di Gunung Kelud.

Semua anggota pun bekerja sesuai tugas masing-masing. Seperti Lia -sapaan Nabila Amalia Maghfira Izani Maula- mendapat tuga membuat alur ceritanya. “Sempat bingung karena banyak versi,” ucap siswa kelas IPA-5 ini.

Karena durasi dibatasi hanya tiga menit, dia mencari cerita yang singkat. Setelah mendapatkan cerita di animasi dia kemudian menyusun skrip.

Yang lain, juga bersiap pada pekerjaan yang telah dibagi. Ada yang bagian properti seperti pakaian, ada pula yang menyiapkan teknis pengambilan gambar. Pembagian dilakukan agar waktu dua minggu bisa efektif.

Baca Juga :  Ada Penyeragaman, Keunikan Terkikis

Kendala juga datang. Saat pengambilan gambar alat mereka sempat menyulitkan. Mulai dari stabilizer hingga pencahayaan.

“Alat yang kami pakai sangat terbatas. Satu kamera Sony 6000, dua lensa (50 mm dan 35 mm, Red) dan satu drone,” papar Hermy, yang juga mengurus bagian teknis pengambilan gambar.

Karena alat yang minim dan waktu yang terbatas membuat mereka semula pesimistis bisa menjadi juara. Target awal mereka hanya lolos seleksi. Selama pengerjaan, semua waktu difokuskan pada aktivitas video. Untungnya, mereka dapat dispensasi dari sekolah. Mulai dari pukul 08.00 hingga 15.00. Saat mengerjakan properti bahannya dibawa ke rumah.

Setelah semua gambar diambil, mereka kembali berdebat. Karena ada bagian yang harus dipangkas untuk menyesuaikan waktu. Ada tiga adegan yang harus dihapus. Yakni sayembara, dialog persyaratan Dewi Kilisuci ke Lembu Sura dan penggalian sumur. “Cerita itu kami pangkas tapi tidak boleh menghilangkan esensi ceritanya,” kata Faizal.

Dua hari sebelum lomba dimulai, mereka sudah harus menuntaskan semua masalah teknis seperti pengambilan gambar. Untuk finsihingnya adalah aditing video. Semua skill pengambilan video dipelajari saat pembuatan video robotik. “Setelah semua proses selesai, kami pasrah. Saya juga salat tahajud,” kenangnya. Ternyata, mereka justru terpilih menjadi terbaik.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/