Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features
Quo Vadis Budaya Kediri? (15/Tamat)

Libatkan Anak Muda agar Budayawan Konsentrasi ke Riset

26 November 2021, 09: 57: 29 WIB | editor : Adi Nugroho

Libatkan Anak Muda agar Budayawan Konsentrasi ke Riset

KREATIF: Salah seorang warga melukis mural bertema Covid-19 di Kota Kediri. (Rekian - radar kediri)

Share this      

Terobosan kebudayaan tidak hanya memoles karya yang sudah ada. Yang bisa digalakkan lagi adalah memperkuat peran komunitas yang tengah menjamur.

Komunitas anak-anak muda yang punya kepedulian pada isu budaya tumbuh di mana-mana. Mulai illustrator, mural, hingga yang menyentuh sektor ekonomi kreatif. Seperti pameran, digital, pertunjukan, penerbitan, kuliner, kriya, musik, film, hingga desain. Semua seperti berkibar, baik di kabupaten maupun kota.

“Sepuluh tahun belakangan ini, komunitas di Kediri dengan energi dan daya yang mereka miliki sering mengadakan event budaya,” kata penggiat literasi ahmad Ikhwan Susilo.

Baca juga: Seni Harus Berinovasi Mengikui Zaman

Namun, tanpa sentuhan budaya, komunitas yang dimotori anak-anak muda itu akan berekspresi tanpa pijakan referensi yang jelas. Karena itulah gerakan-gerakan serta pemahaman generasi muda yang seperti itu harus dimatangkan. Mereka harus mulai dilibatkan dalam ruang-ruang diskusi. Sementara, kegiatan diskusi tentang budaya masih sering digelar di ruang-ruang kecil, di  lingkungan akademisi, serta symposium.

Dia menegaskan, semua kegiatan yang digelar itu bertujuan untuk menguatkan Kediri, terutama dari sisi pencarian jati diri budayanya. Nah, kekuatan itu akan bisa lebih maksimal bila pemangku kebijakan ikut andil di dalamnya.

Pemerintah daerah bisa berperan aktif memberikan stimulus berupa hibah yang diperuntukan khusus untuk mengembangkan kebudayaan. Dari biaya itu, komunitas anak-anak muda yang ada di setiap desa atau pun kelurahan pasti akan lebih maksimal lagi berkegiatan. Tidak seperti selama ini, mereka cenderung bergerak sendiri dengan segala keterbatasannya.

Keterlibatan pemerintah pada kegiatan anak-anak muda itu juga berdampak positif bagi perkembangan kebudayaan. Jika anak-anak muda di-support melalui kegiatan rutin maka mereka yang dianggap sesepuh kebudayaan, praktisi, dan akademisi punya peran lain. Hibahnya berupa riset.

“Biarlah mereka (sesepuh kebudayaan dan akademisi, Red) menggalakkan riset. Hasil  riset nantinya diterbitkan lalu disebarluaskan,” beber lelaki asal Desa Jambu, Kecamatan Kayenkidul itu.

Hasil kajian dan riset dari akademisi, para sesepuh kebudayaan, dan praktisi itulah yang nantinya menjadi landasan kegiatan. Agar punya referensi dan literaturnya jelas.

Metode itu dia anggap sebagai peluang penciptaan ulang karya dan olah kebudayaan. Kelak akan banyak alih wahana dan penciptaan proses baru. Dia optimistis, akan ada titik temu antara generasi tua dan muda di Kediri yang berkelanjutan.

Ia menilai, kepedulian masyarakat terhadap kebudayaan di Kediri masih sangat kental. Contohnya, mereka tetap mampu membuat hajatan-hajatan budaya meski skalanya kecil. Ikhtiar itulah yang sepatutnya bisa menjadikan komunitas-komunitas menjadi garda terdepan untuk budaya.

“Karya dari riset dari praktisi dan akademisi itu nantinya akan dimanfaatkan dan dikembangkan generasi muda di Kediri,” ungkapnya. (rq/fud)

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia