24.4 C
Kediri
Saturday, December 3, 2022

Fokus Olah Ketela, Dijuluki Ratu Moccaf

- Advertisement -

Pandangan anak muda bahwa bertani harus turun ke sawah tak sepenuhnya benar. Desi Permatasari justru membuang jauh-jauh mindset itu. Sebab, banyak yang bisa dikembangkan dari sektor pertanian. Apa saja?

Sektor pertanian kurang tidak diminati oleh generasi milenial. Salah satu keengganan mereka karena menganggap setiap hari harus turun ke sawah. Tubuh petani dipenuhi lumpur, terlihat kotor.

Selain itu, kemiskinan melekat erat kepada diri petani. Hal tersebut menjadi alasan generasi muda tidak tertarik terjun ke sektor agricultural ini. Namun tidak bagi Desi Permatasari, petani milenial dari Desa Wonorejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

PETANI MILENIAL: Desi Permatasari menunjukkan
produk tepung moccaf dari bahan ketela yang telah
dikemas dan siap dipasarkan. (Foto: Ilmidza Nadzira Amalia)

Perempuan yang akrab disapa Desi ini mengakui, tidak sedikit anak muda memiliki stigma kurang baik terhadap petani. Padahal petani itu memiliki masa depan cerah jika digeluti serius dan penuh kesungguhan.

Menurut Desi, petani milenial kini tidak harus terjun langsung ke sawah. Sebab, berbagai kegiatan bisa dilakukan untuk mengoptimalkan usaha hasil pertanian, seperti bidang pemasaran produk pertanian. Kesempatan tersebut masih terbuka luas.

- Advertisement -

Mindset anak muda itu, kalau bertani harus turun ke sawah. Itu salah. Pandangan seperti harus dibuang jauh,” ujar perempuan 22 tahun ini.

Baca Juga :  Juwanto, Korban Terparah akibat Ledakan Balon Hari Santri

Desi mengaku, tergerak menjadi petani milenial karena orang tuanya sejak dulu memang berkecimpung di dunia pertanian. Beberapa komoditas pertanian dia kembangkan. Mulai dari cabai, nanas, ketela dan tebu.

“Saat ini saya lebih prioritaskan untuk komoditas ketela,” tutur anak sulung dari tiga bersaudara ini.

Desi menceritakan, alasannya memilih komoditas ketela. Saat itu dirinya sempat mendatangi acara pertemuan dengan Bank Indonesia (BI) Kediri. Oleh pihak bank sentral itu Desi diberi buku tebal yang berisi sejarah Kediri. “Dari sana saya tahu bahwa hasil bumi petani asli Kediri itu adalah ketela,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Desi ingin masyarakat Kediri mengetahui kembali bahwa hasil pertanian mereka dari dulu adalah ketela. Dari komoditas ketela ini, menurutnya, bisa diolah dan diproduksi menjadi tepung.

Terlebih ketela termasuk salah satu komoditas pangan. “Makanya saya mengembangkan sayap pada komoditas ketela. Saat ini produknya masih berupa tepung,” terang mahasiswi semester akhir di Universitas Ciputra, Surabaya ini.

Baca Juga :  Konsep Bagian Penting Matematika

Karena kiprahnya itu, Desi diberi sebutan Ratu Moccaf. Dia dipercaya ayahnya menjadi Direktur PT Ayotani sekaligus ketua koperasi. Di usianya yang masih 22 tahun, Desi mengaku, harus pintar-pintar membagi waktu di antara pekerjaan dan tugas perkuliahan.

Meski saat awal kuliah sempat kewalahan, namun akhirnya Desi bisa mengatur waktunya. “Ya di sela-sela pekerjaan saya sempatkan mengerjakan tugas kuliah,” tutur mahasiswa jurusan bisnis manajemen ini.

Selain sebagai pimpinan perusahaan, tak jarang Desi harus bertemu para pejabat demi mengenalkan perusahaan dan produk hasil pertaniannya. Sebagai petani milenial maupun pengusaha muda, Desi mengaku, masih nervous saat harus berhadapan dengan pejabat. “Saya ndredek pernah ditelepon Bupati Dhito melalui ajudannya, terus kami ngobrol langsung. Itu saya gugup sekali,” kenangnya.

Karena itu, Desi merasa dukungan dan doa orang tuanya sangat berperan dalam menjalankan bisnis di bidang pertanian ini. “Ayah saya sebagai mentor selalu membimbing,” tandas alumnus SMAN 1 Kota Kediri tersebut.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira
- Advertisement -

Pandangan anak muda bahwa bertani harus turun ke sawah tak sepenuhnya benar. Desi Permatasari justru membuang jauh-jauh mindset itu. Sebab, banyak yang bisa dikembangkan dari sektor pertanian. Apa saja?

Sektor pertanian kurang tidak diminati oleh generasi milenial. Salah satu keengganan mereka karena menganggap setiap hari harus turun ke sawah. Tubuh petani dipenuhi lumpur, terlihat kotor.

Selain itu, kemiskinan melekat erat kepada diri petani. Hal tersebut menjadi alasan generasi muda tidak tertarik terjun ke sektor agricultural ini. Namun tidak bagi Desi Permatasari, petani milenial dari Desa Wonorejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

PETANI MILENIAL: Desi Permatasari menunjukkan
produk tepung moccaf dari bahan ketela yang telah
dikemas dan siap dipasarkan. (Foto: Ilmidza Nadzira Amalia)

Perempuan yang akrab disapa Desi ini mengakui, tidak sedikit anak muda memiliki stigma kurang baik terhadap petani. Padahal petani itu memiliki masa depan cerah jika digeluti serius dan penuh kesungguhan.

Menurut Desi, petani milenial kini tidak harus terjun langsung ke sawah. Sebab, berbagai kegiatan bisa dilakukan untuk mengoptimalkan usaha hasil pertanian, seperti bidang pemasaran produk pertanian. Kesempatan tersebut masih terbuka luas.

Mindset anak muda itu, kalau bertani harus turun ke sawah. Itu salah. Pandangan seperti harus dibuang jauh,” ujar perempuan 22 tahun ini.

Baca Juga :  KH Zaimuddin Badrus, Sosok Penyayang yang Tak Pernah Marah

Desi mengaku, tergerak menjadi petani milenial karena orang tuanya sejak dulu memang berkecimpung di dunia pertanian. Beberapa komoditas pertanian dia kembangkan. Mulai dari cabai, nanas, ketela dan tebu.

“Saat ini saya lebih prioritaskan untuk komoditas ketela,” tutur anak sulung dari tiga bersaudara ini.

Desi menceritakan, alasannya memilih komoditas ketela. Saat itu dirinya sempat mendatangi acara pertemuan dengan Bank Indonesia (BI) Kediri. Oleh pihak bank sentral itu Desi diberi buku tebal yang berisi sejarah Kediri. “Dari sana saya tahu bahwa hasil bumi petani asli Kediri itu adalah ketela,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Desi ingin masyarakat Kediri mengetahui kembali bahwa hasil pertanian mereka dari dulu adalah ketela. Dari komoditas ketela ini, menurutnya, bisa diolah dan diproduksi menjadi tepung.

Terlebih ketela termasuk salah satu komoditas pangan. “Makanya saya mengembangkan sayap pada komoditas ketela. Saat ini produknya masih berupa tepung,” terang mahasiswi semester akhir di Universitas Ciputra, Surabaya ini.

Baca Juga :  Menabrak Orang Naik Sepeda Divonis 6 Bulan

Karena kiprahnya itu, Desi diberi sebutan Ratu Moccaf. Dia dipercaya ayahnya menjadi Direktur PT Ayotani sekaligus ketua koperasi. Di usianya yang masih 22 tahun, Desi mengaku, harus pintar-pintar membagi waktu di antara pekerjaan dan tugas perkuliahan.

Meski saat awal kuliah sempat kewalahan, namun akhirnya Desi bisa mengatur waktunya. “Ya di sela-sela pekerjaan saya sempatkan mengerjakan tugas kuliah,” tutur mahasiswa jurusan bisnis manajemen ini.

Selain sebagai pimpinan perusahaan, tak jarang Desi harus bertemu para pejabat demi mengenalkan perusahaan dan produk hasil pertaniannya. Sebagai petani milenial maupun pengusaha muda, Desi mengaku, masih nervous saat harus berhadapan dengan pejabat. “Saya ndredek pernah ditelepon Bupati Dhito melalui ajudannya, terus kami ngobrol langsung. Itu saya gugup sekali,” kenangnya.

Karena itu, Desi merasa dukungan dan doa orang tuanya sangat berperan dalam menjalankan bisnis di bidang pertanian ini. “Ayah saya sebagai mentor selalu membimbing,” tandas alumnus SMAN 1 Kota Kediri tersebut.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/