Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features
Quo Vadis Budaya Kediri? (14)

Seni Harus Berinovasi Mengikui Zaman

25 November 2021, 09: 52: 32 WIB | editor : Adi Nugroho

Seni Harus Berinovasi Mengikui Zaman

Share this      

Ada banyak pilihan seni khas Kediri yang bisa ditampilkan ke hadapan publik. Meskipun, beberapa di antaranya perlu penyesuaian. Perlu melakukan inovasi agar diterima di era milenial.

Sebagai bagian dari budaya, seni juga berperan sebagai ciri pengenal suatu daerah. Menjadi cerminan jati diri masyarakat.

Di Kediri banyak sekali seni-seni yang bisa menjadi ciri khas. Satu di antaranya adalah seni jaranan. Seni yang menggambarkan sepasukan prajurit ini memang lekat dengan sejarah kerajaan Kediri. Karena diperkirakan muncul di era pecahnya kerajaan Kahuripan menjadi Jenggala dan Panjalu (Kediri).

Baca juga: Kali Brantas dan Gunung Kelud Jadi Spot Ikonik

Yang menjadi masalah, seni jaranan ini bisa berlangsung sangat lama. Berjam-jam. Nah, untuk ditampilkan era sekarang, perlu ada penyesuaian dan penyederhanaan. Untuk kebutuhan tertentu seni jaranan ini bisa dikepras waktunya menjadi hanya 15 menit saja.

Pementasan seni jaranan yang singkat dan sederhana itu di antaranya bila digunakan sebagai kegiatan seremonial. Seperti penyambutan rombongan tamu. Maka, perlu ada tarian jaranan yang sesuai dengan kebutuhan itu.

“Sebentar lagi Kediri punya bandara maka penting menyiapkan tari penyambutan,” ucap Eko Prianto, pemerhati budaya sekaligus kasi Museum dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kediri.

Menurutnya, pelaku seni tak perlu alergi dengan kegiatan berkesenian yang dikreasi dengan bentuk berbeda. Dengan catatan, inovasi itu harus membuat seni menjadi lebih baik dan menarik. Harus berdasarkan kajian bersama dan tidak melepas unsur keaslian. Tidak menjadi sebaliknya, inovasi membuat seni tampil asal-asalan.

“Inovasi ini tujuannya untuk melestarikan budaya. Bukan menghilangkan pakemnya,” sebut Eko ketika diwawancarai selepas acara diskusi ‘Quo Vadis Budaya Kediri?”

Seni yang juga perlu melakukan inovasi dan perubahan adalah wayang krucil. Wayang ini jarang ditemukan di daerah lain. Karena memiliki ciri khas, dia yakin wayang ini bisa menarik perhatian wisatawan.

Namun, bila sesuai pakem aslinya, menampilkan wayang krucil tak bisa sembarangan. Perlu ada tujuan khusus, yaitu ruwatan. Durasinya  juga sangat lama.

Karena itu agar bisa dinikmati wisatawan, waktu pertunjukan bisa dibatasi maksimal 30 menit saja. Dalam waktu yang singkat itu penontonnya diharapkan bisa mengenal karakter wayang krucil. Mulai dari bentuk hingga alur cerita yang dimainkan.

Pada momen tertentu, misalnya hari besar Tiongkok, seni pertunjukkan yang bisa dimainkan adalah wayang potehi. Semuanya bisa menjadi andalan pertunjukkan untuk wisatawan di Kediri.

Bagi Eko, yang paling memungkinkan untuk diinovasi adalah durasi waktunya. Sedangkan untuk spot, Kediri punya wisata cagar budaya yang bertema tentang Panji. Di Kota Kediri ada Selomangleng dan di Kabupaten Kediri ada Gambyok dan situs lainnya yang punya tema tentang Panji.(rq/fud/bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia