Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features

Peluang PNS Kecil, Banyak yang Pilih Eksodus

25 November 2021, 10: 24: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

Peluang PNS Kecil, Banyak yang Pilih Eksodus

Share this      

Jumlah guru SLB yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS), di Kota ataupun Kabupaten Kediri, sangatlah kecil. Lihat saja, dari total 304 guru SLB hanya 35 orang yang berpredikat pegawai negara. Sisanya masih berstatus guru tidak tetap (GTT) atau guru tetap yayasan (GTY).

Meskipun jumlahnya masih sedikit, pemerintah ternyata menganggap sudah memenuhi kebutuhan. Buktinya, tidak ada lagi perekrutan PNS untuk guru kelompok ini selama dua tahun terakhir. Alasannya, hanya ada satu SLB negeri di Kediri.

“Benar, (SLB) negerinya hanya di SLB Kandat,” ucap Kepala Seksi SMA dan PK-PLK Cabang Dinas Pendidikan (Cabdispendik) Jatim wilayah Kediri Chairul Effendi.

Baca juga: Tiga Bersaudara Asal Badas, Sabet Juara MTQ XXIX Jatim

Tidak seluruh guru SLB berstatus PNS mengajar di SLB Kandat. Sebab, di Kediri Raya ada puluhan SLB yang dikelola swasta. Guru-guru yang digaji negara itupun diratakan. Disebar ke sekolah-sekolah khusus itu. Ada yang menjadi guru, sebagian lagi sebagai kepala sekolah. Status mereka adalah guru yang diperbantukan.

Karena sudah mengajar di SLB swasta, prioritas utama mereka adalah sekolah itu. Bila dibutuhkan untuk dipindah ke sekolah negeri misalnya, pihak cabdispendik tak bisa dengan serta-merta. Mereka akan lebih dulu berkomunikasi dengan pihak yayasan.

“Pada intinya, wewenang berpindah tugas selain dari guru juga dari yayasan,” terangnya.

Meskipun hanya berjumlah puluhan, Effendi menyebut kebutuhan guru SLB yang berstatus PNS masih mencukupi. Namun demikian dia tidak bisa memastikan apakah pemerintah akan membuka lagi formasi untuk guru SLB dalam rekrutmen PNS tahun-tahun mendatang. Yang pasti, pihak cabdispendik terus melakukan rekapitulasi jumlah guru PNS dan non-PNS ke Provinsi Jatim.

Meskipun banyak yang belum berstatus PNS, pihak cabdispendik tetap memberikan peningkatan mutu pada mereka. Berupa pembinaan secara kontinyu. Terutama ditujukan bagi guru-guru SLB yang berusia muda. Agar mampu menjadi penerus saat sekolah memerlukan regenerasi.

Yang tak bisa dihindari adalah perpindahan para guru yang belum berstatus PNS itu. Mereka tentu akan mencoba peruntungan dengan melamar di daerah yang membuka lowongan PNS bagi guru SLB.

Situasi seperti itu tidak bisa dihindari. Cabdispendik pun tak bisa melakukan upaya pencegahan. Karena semua memang terkait dengan masa depan masing-masing guru.

“Yang kami lakukan saat ini, ya, manajemen guru yang masih ada. Dan yang PNS juga, untuk tingkatkan kompetensi. Mengingat di sini (Kediri, Red), juga masih ada satu sekolah negeri juga,” terangnya.

Beberapa guru SLB di Kediri juga berasal dari luar daerah. Seperti Yuli Setiawati salah satunya. Perempuan berusia 51 tahun itu datang dari Blitar, untuk mengajar di SLB Negeri Kandat. “Baru sekitar dua tahun ke sini (Kediri, Red), sekarang menetap di sini,” ujarnya kepada koran ini.

Ingin mencari suasana baru, atau tertantang dengan kondisi daerah lain, membuat guru SLB ini pergi melancong dari tanah kelahirannya ke kota lain. Ia bersama almarhum suaminya pun merintis berdirinya SLB di Grogol. Mulai dari dirinya masih GTT/GTY sejak 1994 hingga menjadi PNS pada 2008.

Ia merasa menjadi guru SLB juga harus ada tujuan, bukan sekadar uang. Dia mengaku awalnya ingin mengangkat anak-anak berkebutuhan khusus agar menjadi lebih mandiri dan siap berbaur di masyarakat.

Terkait guru berstatus PNS, Yuli mengatakan sebenarnya bisa bertambah lagi. Jika ada SLB negeri lagi di Kabupaten Kediri. Karena menurutnya potensi guru-guru SLB di Kediri juga baik.

“Pasti, saya yakini juga banyak guru yang berpotensi tinggi di Kediri untuk regenerasi. Mengganti kami-kami yang sudah usia seperti ini,” terang perempuan yang kemarin berhijab merah muda ini.(syi/fud)

(rk/syi/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia