Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features

Ketika Guru-Guru SLB Berkiprah Tak Hanya di Kelas

Bikin TikTok, Ubah Lirik Lagu Jadi Isyarat

25 November 2021, 10: 17: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

Ketika Guru-Guru SLB Berkiprah Tak Hanya di Kelas

Share this      

Awalnya banyak yang mencela. Menganggap tak pantas dilakukan oleh guru. Lama-lama, banyak yang memuji karena akhirnya tahu cara berkomunikasi dengan tunarungu dan tunawicara.

Bagi para guru sekolah luar biasa (SLB), tugas mereka tak terbatas hanya di sekolah saja. Banyak pula yang harus bekerja di luar jam mengajar. Memanfaatkan berbagai platform di media sosial (medsos), yang gampang tersebar ke sudut-sudut dunia. Tujuannya satu, mengenalkan cara-cara berkomunikasi dengan penyandang disabilitas ke masyarakat umum. Terutama bagaimana berbicara dengan bahasa isyarat.

“Salah satunya melalui TikTok ini,” aku Erwin Dewi Kusniandar.

Baca juga: Gairahkan Literasi, Komunitas Taman Baca Mendongeng di Kampung Inggris

Dewi adalah pengajar di SLB Dharma Wanita Pare, Kabupaten Kediri. Di TikTok, wanita ini memeragakan gerakan-gerakan yang merupakan bahasa isyarat untuk para tunarungu dan tunawicara. Membunyikan lirik lagu dan musiknya. Tentu, lirik lagu itu diwakili jari-jemarinya yang memeragakan bahasa isyarat.

Menurutnya, tujuannya ber-TikTok seperti itu bukan untuk gagah-gagahan. Dia berharap dengan upayanya itu masyarakat awam memahami apa itu bahasa isyarat. Kemudian bisa digunakan untuk berbicara dengan penyandang tunarungu atau tunawicara.

“Memperkenalkannya dengan lagu populer. Agar lebih mudah ditangkap oleh banyak orang,” terangnya. Tak hanya lagu populer, Dewi juga menggunakan lagu-lagu nasional.

Unggahannya di akun TikTok itu membuat Dewi jadi dikenal luas. Meskipun awalnya dia sempat mendapat cemoohan di kolom komentarnya. Mereka yang mencela itu merasa hal seperti itu tak pantas dilakukan seorang guru.

Namun, lama-kelamaan mereka mengerti bahwa yang sedang diperagakan Erwin adalah bahasa isyarat. Yang tak semua orang mengerti. Celaan pun berganti menjadi pujian.

Dewi mengakui, tak jarang pula dia mendapatkan ilmu lain dari media sosial. Malah, hal terakhir ini yang justru banyak dia dapatkan. Sama banyaknya ketika dia juga mendapatkan ilmu baru dari para murid. “Seperti bukan saya yang mengajari murid melainkan murid yang mengajari saya. Untuk selalu tersenyum, selalu tak patah semangat. Rasanya memang adem juga kalau lihat murid-murid,” papar perempuan berhijab itu.

Selain itu ia juga kerap berbagi ilmunya. Dengan menjadi juru bahasa isyarat di setiap kegiatan di kepolisian. Dia mensyukuri skill yang ia dapatkan, bisa membantunya menjadi lebih baik lagi menjadi guru SLB.

Memang, seluruh guru SLB juga harus bisa bahasa isyarat, meski tak menguasainya. Namun softskill lain juga harus bisa diolah oleh para guru. Seperti Yuli Setiawati ini misalnya. Ia mengaku lebih tekun tata rias juga karena tekun di bidang pembelajaran SLB sejak 1994. Bukan karena tuntutan pekerjaan, namun karena rasa sayang Yuli terhadap murid-muridnya.

“Dulu pas mengantar murid ikut lomba pentas, juga saya sedikit-sedikit memperbaiki dandanan mereka,” terangnya.

Puluhan tahun, skill tersebut juga masih berguna hingga saat ini. Ibu tiga anak ini juga terus memberikan pelajaran tata rias kepada murid-murid di sekolahnya yang sekarang, di SLB Negeri Kandat. Hal tersebut dilakukan dengan teliti, dan penuh kehati-hatian.

Selain menjadi guru kelas, Yuli juga masih menyempatkan mengajar ekstra-kurikuler tersebut. Tujuannya untuk mempersiapkan skill bagi murid yang membutuhkan. “Disiapkan agar bisa berbaur dengan baik di masyarakat luas juga kelak. Sama-sama belajarlah,” pungkasnya.(syi/fud)

(rk/syi/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia