Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features

Warga Mojoroto Maknai Sumpah Pemuda lewat Wayang Cekli

25 Oktober 2021, 11: 12: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

Warga Mojoroto Maknai Sumpah Pemuda lewat Wayang Cekli

BERAKSI: Dalang cilik Madjid memainkan anak wayang. (Rekian - radar kediri)

Share this      

KOTA, JP Radar Kediri- Refleksi budaya jelang sumpah pemuda di Gang VI Kelurahan Mojoroto digelar dengan cara berbeda. Sabtu malam (23/10), warga di satu gang itu nontong bareng wayang cekli Wahyu Pancasila. Mereka disuguhi penampilan Madjid Panjalu, dalang cilik yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar.

Dimulai sejak pukul 20.00, wayang bertema garuda itu berlangsung sekitar 30 menit. Dalam ceritanya, wayang garuda berwarna hijau diganggu sosok raksasa. “Hei garudo elek, kowe diamuk,” kata Madjid. Garuda itu terus diganggu, hingga kalah.

Kekalahan itu didengar Puntadewa yang kemudian mendekati garuda. Puntadewa yang kebingungan melihat garuda kalah lalu mendapat perintah dari Kresna agar menyelamatkan garuda.

Baca juga: Rasio Ideal Terpenuhi, Menjangkau hingga Desa Terjauh

“Selamatkan! Selamatkan! Selamatkan!” ucap Madjid mengubah suaranya lebih nyaring.

Mendapat perintah itu, puntadewa lalu membawa garuda untuk menghadap Kiai Semar. Terjadilah dialog antara Puntadewa dengan Kiai Semar. Puntadewa menanyakan cara agar garuda menjadi sakti. Kiai Semar pun meminta Garuda berganti nama menjadi Garuda Pancasila. Garuda Pancasila lalu memabawa bekal pusaka jamus kalimasada.

Bekal dari Kiai Semar itulah yang kemudian membawa Garuda Pancasila mendatangi raksasa yang sempat mengalahkannya. Mereka kembali bertempur. Sampai akhirnya para buta itu kalah dari Garuda Pancasila barpusaka jamus kalimasada.

“Garudo Pancasila, bhineka tunggal ika,” papar Madjid menutup kisahnya.

Kisah wayang cekli Wahyu Garuda ini sebagai refleksi budaya di Hari Sumpah Pemuda. Menurut Sunarno, orang tua Madjid, cara paling mudah memberi gambaran tentang sumpah pemuda adalah berkumpulnya anak-anak muda. Mereka berikrar bertanah air, berbangsa, dan berbahasa Indonesia.

“Wayang cekli Wahyu Garuda ini mengajak kita untuk kembali mengingat perjalanan bangsa. Kemenangan Garuda Pancasila berkat pusakanya bernama bhineka tunggal ika,” ujarnya.

Sementara itu, pertunjukan wayang yang dimainkan Madjid ini mendapat apresiasi dari warga. Seperti Hanif, warga Mojoroto, ingin pegelaran budaya seperti ini bisa terus dilestarikan. Dia tidak ingin budaya yang dimiliki bangsa ini hilang karena tidak diminati anak-anak muda.(rq/fud)

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia