Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features

Rasio Ideal Terpenuhi, Menjangkau hingga Desa Terjauh

25 Oktober 2021, 10: 35: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

Rasio Ideal Terpenuhi, Menjangkau hingga Desa Terjauh

TINGKATKAN IMUNITAS: Petugas tenaga kesehatan memberikan suntikan vaksinasi untuk kalangan pelajar. Pemberian vaksinasi ini diberikan kepada seluruh masyarakat hingga menjangkau pelosok desa. (Habibah A. Muktiara - radar kediri)

Share this      

Profesi dokter semakin vital ketika era pandemi seperti sekarang. Mereka berada di garda depan penanganan persoalan kesehatan. Sudah mencukupi atau masih kurangkah jumlah para dokter tersebut untuk melayani penduduk Kediri?

Bila mengacu pada rasio ideal jumlah dokter, Kota Kediri relatif tercukupi. Berdasarkan data Ikatan Dokter Indonesia (IDI), kota ini memiliki 300 dokter umum dan 100 dokter spesialis. Sementara, jumlah penduduk Kota Kediri ‘hanya’ 300 ribu jiwa.

“Dari sisi jumlah, dokter kita masih memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Ketua IDI Kota Kediri dr Badrul Munir, menjawab pertanyaan Jawa Pos Radar Kediri.

Baca juga: Belajar Agama Bisa di Mana Saja

Jawaban Munir itu mengacu pada rasio ideal kebutuhan dokter dibandingkan jumlah penduduk. Rasio idealnya adalah 1 dokter umum melayani 2.500 penduduk. Bila melihat pada jumlah penduduk Kota Kediri maka satu dokter umum saat ini melayani 120 orang. Artinya masih melebihi dari rasio ideal.

Bagamana dengan dokter spesalis? Rasio idealnya adalah 1: 16 ribu. Bila melihat jumlah dokter spesialis yang ada, setiap dari mereka masih melayani 3 ribu penduduk. Satu rasio yang lebih dari cukup.

“Untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, jumlah dokter memang harus dicukupi,” tegasnya.

Hanya, sama dengan daerah lain, di tengah pandemi Covid-19 beberapa dokter tumbang. Jumlahnya lima orang. Salah satunya adalah dr Machmud, yang merupakan dokter ahli bedah saraf di RS Gambiran. Meninggalnya satu-satunya dokter ahli bedah saraf di Kota Kediri saat itu memang sangat mengkhawatirkan. Untungnya, kini sudah ada pengganti, yang merupakan junior dari almarhum.

Peran dokter saat ini kian vital saja. Karena itu, ketika pandemi seperti sekarang keselamatan mereka juga harus dipertimbangkan. Intensitas kebutuhan warga pada jasa dokter kian meninggi di masa pandemi. Sementara di sisi lain risiko yang dihadapi juga bertambah.

Bila di Kota Kediri terpenuhi, bagaimana dengan kondisi Kabupaten Kediri? Dalam catatan IDI Kabupaten Kediri jumlah dokter mereka mencapal 361 orang. Jumlah itu sudah mencakup dokter umum dan spesialis. Mereka melayani penduduk yang jumlah totalnya adalah 1,6 juta jiwa.

Idealkah perbandingan itu? “Untuk rasio ideal, kami masih belum menetapkan. Karena di tingkat nasional juga belum ditentukan,” kilah Ketua IDI Kabupaten Kediri Ahmad Khotib.

Khotib mengakui, bila mengacu luar negeri rasio idealnya adalah 1:2.500. Namun juga ada rasio ideal oleh BPJS, yaitu satu dokter berbanding 5 ribu penduduk.

Hitungan tersebut, menurutnya, hanya sebagai patokan. Tidak harus dilakukan persis. Pemerintah pun tetap berusaha untuk melakukan perekrutan.

Soal kelengkapan, dokter spesialis di Kabupaten Kediri hampir ada untuk semua spesialisasi. Mulai anak, bedah, hingga paru. Yang belum ada hanya spesialis bedah saraf.

Beruntung, dari 26 kecamatan yang ada, sudah tidak ada lagi daerah terpencil yang sulit dijangkau layanan kesehatan. Semua wilayah sudah bisa mengakses fasilitas kesehatan. Semuanya memiliki puskesmas lengkap dengan satu dokter.

“Insya Allah di Kabupaten Kediri tidak ada desa yang tertinggal,” kata dokter yang juga pelaksana tugas (plt) kepala dinas kesehatan ini. 

Sebelum masa pandemi, pelayanan kesehatan masyarakat juga berlangsung di puskesmas pembantu (pustu). Beberapa aktivitas yang dilakukan di pustu ini seperti imunisasi keliling untuk balita dan perawatan untuk lansia yang berada di desa. Hanya saja ketika masa pandemi Covid-19, semua pelayanan kesehatan dipusatkan ke UPTD puskesmas.

Peran dokter di puskesmas ini sangat penting, terutama bagi penduduk di desa-desa. Terutama ketika masa pandemi seperti sekarang. Yang masih ada hingga tahun ini. Mereka juga berperan dalam memberi semangat dan memotivasi masyarakat.

“Usaha yang telah dilakukan adalah dengan bekerja sama dengan satgas dan pemerintah, mengingatkan masyarakat untuk patuh protokol kesehatan,” terang Chotib. (ara/fud)

(rk/ara/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia