Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features
Perjuangan Persenga Jelang Liga 3 Jatim

Pemain Makan Nasi Bungkus dan Tidur di Lantai

25 Oktober 2021, 11: 05: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

Pemain Makan Nasi Bungkus dan Tidur di Lantai

MEMPRIHATINKAN: Fajar dan pemain Persenga harus makan nasi bungkus di 'mes' pemain. (Andhika Attar - Radar Kediri)

Share this      

Persenga adalah klub kebanggaan warga Kota Angin. Laskar Singo Barong-julukan Persenga akan mengarungi Liga 3 Jatim. Sayang, hingga kemarin, Sendy Sitmawan dkk tidak mendapat kucuran dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Nganjuk. Bahkan, kabarnya, APBD Kabupaten Nganjuk tahun 2021 Rp 0 untuk Persenga.

Persenga gigit jari. Saat klub-klub peserta Liga 3 Jatim mendapat kucuran dana miliaran rupiah dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD), Sendy dkk hanya bisa menelan ludah. Karena Persenga tidak mendapat kucuran dana sama sekali. Operasional Persenga harus ditanggung manajemen. “Uang pribadi manajemen Persenga untuk operasional anak-anak persiapan Liga 3 Jatim,” ungkap Manajer Persenga Sumardiono kemarin.

Karena kantong pribadi, manajemen kelabakan. Sebab, operasional Persenga di persiapan Liga 3 Jatim tidak hanya Rp 1 juta atau Rp 2 juta. Pemain butuh mess untuk tidur, makan dan minum setiap hari, kontrak pelatih hingga uji coba dengan klub lain.

Baca juga: Tangani Pasien Korona, Hamida Tepis Keraguan Keluarga

Pemain Makan Nasi Bungkus dan Tidur di Lantai

HIBURAN: Gelandang Persenga Fajar Roziin mencari saluran televisi yang jernih. Televisi tabung jadi hiburan pemain. (Andhika Attar- Radar Kediri)

Agar tidak pengeluaran jebol, Sumardiono sempat mengajukan permohonan tempat untuk mess pemain Persenga menjelang Liga 3 ke Pemkab Nganjuk. Harapannya ada rumah dinas yang bisa dipinjam untuk mess pemain. Sehingga, manajemen tidak keluar biaya untuk tempat tinggal pemain saat persiapan Liga 3 Jatim.

Sayang, upaya itu tidak membuahkan hasil. Sehingga, Sumardiono terpaksa menitipkan pemain di rumah saudaranya yang ada di Kelurahan Kauman, Kecamatan Nganjuk. 

Rumah tersebut hanya memiliki dua kamar. Karena itu, 15 pemain harus tidur uyel-uyelan. Tidak di springbed. Namun, beralaskan karpet. Hiburannya adalah televisi tabung 14 inci. “Ada dua kipas angin kecil agar tidak kepanasan saat siang,” sambung Joko Aditomo, kiper Persenga.

Pemuda asal Pace ini tidak tega protes ke manajemen. Karena pemain Persenga mengetahui kesulitan finansial yang dialami manajemen. Mereka tetap menerima fasilitas yang superminim tersebut. Bahkan, untuk makan sehari-hari, mereka harus makan nasi bungkus. “Mau bagaimana lagi,” ujarnya pasrah.  

Sementara itu, Plt Bupati Marhaen Djumadi mengatakan, pemkab akan berusaha membantu Persenga. Hanya dia butuh waktu mempelajari tentang aturan tersebut. “Persenga adalah klub amatir. Jadi, kami akan pelajari dulu,” ujarnya.

(rk/tar/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia