Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features

Menelusuri Jejak Satwa Lindung yang Habitatnya Bakal Jadi Bandara (7)

Hutan Menyempit, Elang Jawa Kian Terjepit

25 Oktober 2021, 11: 03: 32 WIB | editor : Adi Nugroho

Menelusuri Jejak Satwa Lindung yang Habitatnya Bakal Jadi Bandara (7)

INFRASTRUKTUR: Perbukitan di wilayah Tarokan yang dahulu menjadi habitat berbagai jenis satwa lindung kini jadi lokasi proyek bandara. (Ilmidza Amalia Nadzira – radar kediri)

Share this      

Sepuluh tahun silam burung Elang Jawa masih sering didapati terbang di sekitar area bandara. Perburuan liar yang marak membuat salah satu hewan endemik asli Indonesia itu kini sudah jarang terlihat di sana.

Kepala Resor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA Wilayah 1 Kediri David Fhatur Rohman mengungkapkan, burung Elang Jawa termasuk spesies yang menghadapi risiko kepunahan. Sebab, habitatnya terus berkurang. “Ditambah lagi dengan maraknya perburuan liar,” ujar David.

          Habitat Elang Jawa di perbukitan dan hutan di Banyakan, Grogol, dan Tarokan yang sekarang sudah rata untuk bakal bandara, juga membuat tempat tinggal burung dengan nama ilmiah Spizaetus Bartelsi ini kian sempit. David menjelaskan, burung berukuran sedang dengan panjang sekitar 60 sentimeter itu memiliki jambul sepanjang sekitar 12 sentimeter.

Baca juga: Menelusuri Jejak Satwa Lindung yang Habitatnya Bakal Jadi Bandara (6)

Adapun rentang sayap selebar 110-130 sentimeter. “Burung ini memiliki suara nyaring dan tinggi. Jika dilihat dari suara dan cara terbangnya, sekilas mirip dengan Elang Brontok, hanya saja warnanya lebih cerah,” terangnya.

Seiring dengan banyaknya perburuan dan perdagangan liar membuat burung ini terancam punah. Kawasan hutan yang kian sempit dan sifat biologisnya yang cuma bertelur dua tahun sekali, turut jadi pemicunya.

Elang Jawa menyukai habitat hutan dengan area perbukitan, pegunungan, dan dataran tinggi. Sebagai burung pemangsa, Elang Jawa juga sering bertengger di pohon tinggi.

Selain memakan burung kecil, Elang Jawa juga memangsa mamalia kecil seperti tupai, musang, hingga reptil seperti kadal, bunglon dan ular. Pada 2005 lalu, menurut David pihaknya masih sering menerima tangkapan burung Elang Jawa dari masyarakat di sekitar area bandara. Namun, seiring berjalannya waktu, kini sudah jarang ditemukan keberadaannya. Sebab, terlalu banyak pemburu liar yang mencarinya.

David menjelaskan, hewan ini tidak bisa berkembang cepat karena merupakan hewan monogami. Yakni, hanya kawin dengan satu pasangan seumur hidup. Hewan banyak bertelur pada pertengahan tahun pertama dari Desember-Januari atau Juni-Juli.

Induk betina mengerami telurnya selama kurang lebih 47 hari. Sedangkan pejantan bertugas mencari makan. Elang Jawa diperkirakan mulai berkembang biak pada usia 3-4 tahun. Burung memilih bersarang pada pohon dengan diameter 1 meter dan ketinggian lebih dari 20 meter.

Terpisah, Faruq, 53, warga Desa Bulusari, Tarokan menuturkan, pada 1990-an silam masih banyak burung Elang Jawa beterbangan di langit Tarokan. “Biasanya waktu tengah hari itu kerap terbang mondar mandir,” kenangnya.

Lambat laun jumlahnya kian menyusut. Pada awal 2010 dia sudah jarang mendapati burung elang yang terbang. Suatu kali, Faruq yang menebang salah satu pohon di area perbukitan pernah mendapati sarang burung Elang Jawa dan telurnya. “Sarang itu saya serahkan ke BBKSDA,” urainya. (ica/ut)

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia