29 C
Kediri
Saturday, December 3, 2022

Cerita-Cerita Jelang Pemilihan Kepala Desa Serempak di Kabupaten Kediri (2)

Tiada Lawan, Petahana Kembali Hadapi sang Istri

- Advertisement -

Dua cakades ini mendaftar bersama. Mengisi berkas pun bersama. Namun, yang satu justru mengkampanyekan pesaingnya.

Suasana Desa Kunjang di Kecamatan Ngancar terasa semarak. Spanduk dan baliho kampanye terpampang di beberapa tempat. Desa di lereng Gunung  Kelud ini memang menjadi salah satu desa yang menggelar pemilihan kepala desa Desember nanti.

Bila diamati, spanduk yang terpasang itu berbeda dengan desa lain yang sama-sama menggelar pilkades serentak. Jamaknya, baliho atau spanduk calon kades (cakades) terpisah antara satu kandidat dengan yang lain. Tapi, di Desa Kunjang justru menjadi satu. Satu baliho dua gambar kandidat. Lengkap dengan nomor urutnya. Maklum, yang bersaing adalah pasangan suami istri, Yudiono dan Nila Krisnandari.

Yang menarik, situasi seperti ini bukan yang pertama kali. Yudiono-Nila telah dua kali bersaing. “Saya dan istri mencalonkan untuk yang kedua kalinya,” terang Yudiono, yang berstatus petahana.

Baginya, pemilihan kali ini menjadi pengalaman ketiganya. Yang pertama, pada 2008 silam. Dia menghadapi tiga kandidat lain dan bisa menjadi pemenang.

- Advertisement -

Di pemilihan periode berikutnya, dia kembali mencalonkan diri. Hanya, tidak ada warga desa yang berani melawan. Nah, karena tidak boleh ada calon tunggal, Yudiono pun mendorong istrinya untuk maju. Menjadi rivalnya di pemilihan.

Baca Juga :  Sidang Kasus Korupsi Taman Hijau Akan Hadirkan Auditor Inspektorat

Saat itu, ada 3.500 warga yang datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Lima ratus di antaranya ternyata memilih sang istri. Tentu saja, jumlah itu tak bisa menyaingi perolehan sang suami. Yang kemudian memimpin untuk kedua kalinya.

Kali ini, kejadian serupa terjadi lagi. Dia mencalonkan diri tanpa ada pesaing. Sang istri pun kembali didorong menjadi kandidat lain.

Karena sebagai pasutri, keduanya menjalani tahapan pilkades bersama-sama. Bahkan, saling mendukung.

“Daftar bersama, mengisi berkas bersama, dan kampanye juga kami lakukan bersama,” terang lelaki satu anak ini.

Nila, sang istri, tidak keberatan jika nantinya yang akan menjadi kepala desa suaminya lagi. Bahkan, dia berharap hal itu yang akan terjadi.

Pas kampanye saja saya justru meminta warga untuk dukung nomer satu (nomor urut suaminya, Red),” ungkapnya dengan tersenyum.

Nila menegaskan akan mendukung suaminya sepenuhnya. Untuk mengabdi pada desa. Melayani dan membantu masyarakat.

Baca Juga :  Bakar Ogoh-ogoh untuk Hilangkan Energi Negatif

Begitupun dengan Yudiono. Dia optimistis warga akan kembali memilihnya. Namun, kalaupun yang jadi kepala desa nanti istrinya, dia juga tidak akan mempermasalahkan.

Pasutri calon kepala desa ini memiliki visi dan misi yang sama. Yaitu pengabdian dan pelayanan. Yang menindaklanjuti program insfrastruktur dan program-program yang belum terwujud.

Yudiono mengaku di desanya memiliki program unggulan kesehatan  dan pembangunan. Tujuannya untuk kian menyejahterakan masyarakat.

Saat wartawan koran ini mencoba menanyakan perihal biaya pencalonan yang dobel, Yudiono mengaku tak mempermasalahkan. “Karena hasilnya juga akan sama saja,” akunya.

Yudiono berharap saat pemilihan warga hadir semua. Dengan begitu ia merasa menjadi abdi yang benar-benar dikehendaki oleh masyarakat. “Saya berharap 90 persen warga hadir untuk mendukung saya,” harapnya.

Baginya, menjadi kepala desa adalah kepercayaan yang tidak dia sangka-sangka sebelumnya. Juga, bukanlah keinginannya sepenuhnya. Karena dia merasa bukan siapa-siapa. Apalagi dia datang dari keluarga sederhana yang tidak memiliki pengalaman organisasi. Bahkan, dia mengaku tak lulus SMA. “Ijazah saya kejar paket,” akunya.

- Advertisement -

Dua cakades ini mendaftar bersama. Mengisi berkas pun bersama. Namun, yang satu justru mengkampanyekan pesaingnya.

Suasana Desa Kunjang di Kecamatan Ngancar terasa semarak. Spanduk dan baliho kampanye terpampang di beberapa tempat. Desa di lereng Gunung  Kelud ini memang menjadi salah satu desa yang menggelar pemilihan kepala desa Desember nanti.

Bila diamati, spanduk yang terpasang itu berbeda dengan desa lain yang sama-sama menggelar pilkades serentak. Jamaknya, baliho atau spanduk calon kades (cakades) terpisah antara satu kandidat dengan yang lain. Tapi, di Desa Kunjang justru menjadi satu. Satu baliho dua gambar kandidat. Lengkap dengan nomor urutnya. Maklum, yang bersaing adalah pasangan suami istri, Yudiono dan Nila Krisnandari.

Yang menarik, situasi seperti ini bukan yang pertama kali. Yudiono-Nila telah dua kali bersaing. “Saya dan istri mencalonkan untuk yang kedua kalinya,” terang Yudiono, yang berstatus petahana.

Baginya, pemilihan kali ini menjadi pengalaman ketiganya. Yang pertama, pada 2008 silam. Dia menghadapi tiga kandidat lain dan bisa menjadi pemenang.

Di pemilihan periode berikutnya, dia kembali mencalonkan diri. Hanya, tidak ada warga desa yang berani melawan. Nah, karena tidak boleh ada calon tunggal, Yudiono pun mendorong istrinya untuk maju. Menjadi rivalnya di pemilihan.

Baca Juga :  Menikmati Keindahan Alam dengan River Tubing

Saat itu, ada 3.500 warga yang datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Lima ratus di antaranya ternyata memilih sang istri. Tentu saja, jumlah itu tak bisa menyaingi perolehan sang suami. Yang kemudian memimpin untuk kedua kalinya.

Kali ini, kejadian serupa terjadi lagi. Dia mencalonkan diri tanpa ada pesaing. Sang istri pun kembali didorong menjadi kandidat lain.

Karena sebagai pasutri, keduanya menjalani tahapan pilkades bersama-sama. Bahkan, saling mendukung.

“Daftar bersama, mengisi berkas bersama, dan kampanye juga kami lakukan bersama,” terang lelaki satu anak ini.

Nila, sang istri, tidak keberatan jika nantinya yang akan menjadi kepala desa suaminya lagi. Bahkan, dia berharap hal itu yang akan terjadi.

Pas kampanye saja saya justru meminta warga untuk dukung nomer satu (nomor urut suaminya, Red),” ungkapnya dengan tersenyum.

Nila menegaskan akan mendukung suaminya sepenuhnya. Untuk mengabdi pada desa. Melayani dan membantu masyarakat.

Baca Juga :  Jejak Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari di Pondok Kapu Kediri

Begitupun dengan Yudiono. Dia optimistis warga akan kembali memilihnya. Namun, kalaupun yang jadi kepala desa nanti istrinya, dia juga tidak akan mempermasalahkan.

Pasutri calon kepala desa ini memiliki visi dan misi yang sama. Yaitu pengabdian dan pelayanan. Yang menindaklanjuti program insfrastruktur dan program-program yang belum terwujud.

Yudiono mengaku di desanya memiliki program unggulan kesehatan  dan pembangunan. Tujuannya untuk kian menyejahterakan masyarakat.

Saat wartawan koran ini mencoba menanyakan perihal biaya pencalonan yang dobel, Yudiono mengaku tak mempermasalahkan. “Karena hasilnya juga akan sama saja,” akunya.

Yudiono berharap saat pemilihan warga hadir semua. Dengan begitu ia merasa menjadi abdi yang benar-benar dikehendaki oleh masyarakat. “Saya berharap 90 persen warga hadir untuk mendukung saya,” harapnya.

Baginya, menjadi kepala desa adalah kepercayaan yang tidak dia sangka-sangka sebelumnya. Juga, bukanlah keinginannya sepenuhnya. Karena dia merasa bukan siapa-siapa. Apalagi dia datang dari keluarga sederhana yang tidak memiliki pengalaman organisasi. Bahkan, dia mengaku tak lulus SMA. “Ijazah saya kejar paket,” akunya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/