25.3 C
Kediri
Saturday, January 28, 2023

Raditya Oktalyon, Komikus asal Kandat, Kediri, yang Masih Siswa SMP

- Advertisement -

Dia kerap disandingkan dengan Raditya Dika, sang komika. Bedanya, joke yang dibuat Raditya Oktalyon bergambar. Karena siswa SMP ini adalah komikus yang karyanya diminati banyak orang, hingga di luar negeri.

Radit berkutat di depan komputer. Dia baru saja pulang dari tempatnya belajar, di SMPN 1 Kandat. Tak ada raut kelelahan meskipun seharian menekuni pelajaran. Tangannya bergerak lincah di pentab. Menggores-goreskan stylus, hingga membentuk gambar di layar komputer.

“Setiap hari bikin komik di sini,” ucap remaja bernama lengkap Raditya Oktalyon Jumantra Atmaja ini.

Ruang kerja yang disebutkan sang komikus itu menjadi satu dengan petshop milik orang tuanya, di Dusun Kartosari, salah satu dusun di Desa Kandat, Kecamatan Kandat.

Studio kerja itu tak besar. Hanya 1,5 meter x 2 meter. Tepat di sudut toko makanan hewan itu. Bila berada di studio itu, Radit juga sekaligus menjaga toko milik orang tuanya.

- Advertisement -

Bagi Radit, menggambar digital merupakan dunia baru. Sebelumnya, dia lekat dengan gambar manual. Hobi yang sudah dia tekuni sejak kelas 4 SD. Saat itu, dia menggambar di sehelai kertas. Dengan pensil maupun spidol.

Di tengah obrolan, Radit permisi sejenak. Mencari sesuatu di ruangan yang ada di bagian belakang toko. Tak sampai lima menit dia kembali. Anak pertama pasangan Nuryono dan Alin Febriyanti ini memegang lembaran kertas.

“Ini komik yang saya buat manual ketika kelas 4 SD,” ujarnya, sembari menyodorkan hasil karyanya itu.

Baca Juga :  Inspirasi Baru

Radit masih menyimpan karya-karya lamanya. Bahkan salah satu gambar legendarisnya yang dibuat ketika kelas 3 SD dibingkai. Lalu dipajang di ruang kerjanya. Ia seperti sudah menyadari pentingnya pengarsipan.

Meskipun baru duduk di tingkat SMP, kerja-kerja Radit terbilang profesional. Ia konsisten mengunggah komik di media sosialnya. Selain itu, juga menerbitkan komik bertema remaja sekolah.

Ada dua buku komik yang sudah dicetak. Yang paling tebal berjudul Back to School. Tebalnya, 22 lembar.

Karyanya yang diunggah ke media sosial kerap mendapat apresiasi. Bahkan, sesama komikus tidak percaya jika Radit adalah siswa yang masih duduk di bangku SMP. Dan meminta resep bisa konsisten upload.

“Banyak yang mengira saya masih kuliah dan sudah bekerja,” akunya.

Kepada Jawa Pos Radar Kediri, anak pertama dari tiga bersaudara itu baru mengkonversi gambar manual ke gambar digital sejak pandemi 2020 lalu. Karena aktivitas belajar lebih banyak daring, Radit punya kesempatan menggambar secara digital.

“Saya geluti setiap hari selama setahun,” akunya.

Yang paling sulit ketika awal-awal menggambar adalah menentukan garis tepi, lalu pewarnaan. Untuk menimba ilmu itu Radit mengaku ikut komunitas komikus. Isinya adalah para komikus se-Indonesia. Dia banyak belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman.

Radit juga kerap menguji kemampuannya lewat berbagai kompetisi. Sebagai pemula di dunia digital, kegagalannya memang masih lebih banyak. “Kira-kira 60 persen gagal, 40 persen keberuntungan,” katanya sambil tertawa.

Baca Juga :  Produk Gagal pun Masih Bisa Laku

Meskipun demikian, dia tidak mempermasalahkan hal itu. Karena komitmennya adalah tetap berkarya dan berkarya.

Selain membuat komik, ia juga kerap menggambar ilustrasi dan vektor. Salah satu yang membuatnya semangat adalah karya vektornya yang dikirim ke Shutterstock diminati orang dari luar negeri. Dibeli orang Manchester, Inggris.

Ia merasa senang karena karyanya laku. Radit pun menjadikan karyanya itu sebagai modal. Yang paling penting baginya saat ini adalah terus mengembangkan bakat dan kemampuan menggambar. Agar bisa rutin kirim ke Shutterstock.

Sementara itu, karyanya paling banyak diminati adalah ilustrasi atau sketsa wajah. Satu karya dibanderol Rp 75 ribu. Paling lama diselesaikan lima hari. “Buat nambah jajan, lumayan,” ucapnya.

Dia juga berbagi tips. Untuk mendapat ide harus lebih banyak membaca. Radit mengaku tidak pernah lepas dari block note setiap kumpul dan bermain bersama teman-temannya.

Semua cerita yang menurutnya lucu selalu dicatat. Celetukan aneh dari teman-temannya itu bisa jadi sumber ide. Termasuk ketika sedang di toilet. Menurut Radit, ide-ide justru lebih banyak muncul ketika sedang di kamar mandi.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Kediri”. Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

- Advertisement -

Dia kerap disandingkan dengan Raditya Dika, sang komika. Bedanya, joke yang dibuat Raditya Oktalyon bergambar. Karena siswa SMP ini adalah komikus yang karyanya diminati banyak orang, hingga di luar negeri.

Radit berkutat di depan komputer. Dia baru saja pulang dari tempatnya belajar, di SMPN 1 Kandat. Tak ada raut kelelahan meskipun seharian menekuni pelajaran. Tangannya bergerak lincah di pentab. Menggores-goreskan stylus, hingga membentuk gambar di layar komputer.

“Setiap hari bikin komik di sini,” ucap remaja bernama lengkap Raditya Oktalyon Jumantra Atmaja ini.

Ruang kerja yang disebutkan sang komikus itu menjadi satu dengan petshop milik orang tuanya, di Dusun Kartosari, salah satu dusun di Desa Kandat, Kecamatan Kandat.

Studio kerja itu tak besar. Hanya 1,5 meter x 2 meter. Tepat di sudut toko makanan hewan itu. Bila berada di studio itu, Radit juga sekaligus menjaga toko milik orang tuanya.

Bagi Radit, menggambar digital merupakan dunia baru. Sebelumnya, dia lekat dengan gambar manual. Hobi yang sudah dia tekuni sejak kelas 4 SD. Saat itu, dia menggambar di sehelai kertas. Dengan pensil maupun spidol.

Di tengah obrolan, Radit permisi sejenak. Mencari sesuatu di ruangan yang ada di bagian belakang toko. Tak sampai lima menit dia kembali. Anak pertama pasangan Nuryono dan Alin Febriyanti ini memegang lembaran kertas.

“Ini komik yang saya buat manual ketika kelas 4 SD,” ujarnya, sembari menyodorkan hasil karyanya itu.

Baca Juga :  Tegur Pengendara Motor Bising Justru Babak Belur 

Radit masih menyimpan karya-karya lamanya. Bahkan salah satu gambar legendarisnya yang dibuat ketika kelas 3 SD dibingkai. Lalu dipajang di ruang kerjanya. Ia seperti sudah menyadari pentingnya pengarsipan.

Meskipun baru duduk di tingkat SMP, kerja-kerja Radit terbilang profesional. Ia konsisten mengunggah komik di media sosialnya. Selain itu, juga menerbitkan komik bertema remaja sekolah.

Ada dua buku komik yang sudah dicetak. Yang paling tebal berjudul Back to School. Tebalnya, 22 lembar.

Karyanya yang diunggah ke media sosial kerap mendapat apresiasi. Bahkan, sesama komikus tidak percaya jika Radit adalah siswa yang masih duduk di bangku SMP. Dan meminta resep bisa konsisten upload.

“Banyak yang mengira saya masih kuliah dan sudah bekerja,” akunya.

Kepada Jawa Pos Radar Kediri, anak pertama dari tiga bersaudara itu baru mengkonversi gambar manual ke gambar digital sejak pandemi 2020 lalu. Karena aktivitas belajar lebih banyak daring, Radit punya kesempatan menggambar secara digital.

“Saya geluti setiap hari selama setahun,” akunya.

Yang paling sulit ketika awal-awal menggambar adalah menentukan garis tepi, lalu pewarnaan. Untuk menimba ilmu itu Radit mengaku ikut komunitas komikus. Isinya adalah para komikus se-Indonesia. Dia banyak belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman.

Radit juga kerap menguji kemampuannya lewat berbagai kompetisi. Sebagai pemula di dunia digital, kegagalannya memang masih lebih banyak. “Kira-kira 60 persen gagal, 40 persen keberuntungan,” katanya sambil tertawa.

Baca Juga :  Peracun Pacar di Gurah Divonis Tujuh Tahun

Meskipun demikian, dia tidak mempermasalahkan hal itu. Karena komitmennya adalah tetap berkarya dan berkarya.

Selain membuat komik, ia juga kerap menggambar ilustrasi dan vektor. Salah satu yang membuatnya semangat adalah karya vektornya yang dikirim ke Shutterstock diminati orang dari luar negeri. Dibeli orang Manchester, Inggris.

Ia merasa senang karena karyanya laku. Radit pun menjadikan karyanya itu sebagai modal. Yang paling penting baginya saat ini adalah terus mengembangkan bakat dan kemampuan menggambar. Agar bisa rutin kirim ke Shutterstock.

Sementara itu, karyanya paling banyak diminati adalah ilustrasi atau sketsa wajah. Satu karya dibanderol Rp 75 ribu. Paling lama diselesaikan lima hari. “Buat nambah jajan, lumayan,” ucapnya.

Dia juga berbagi tips. Untuk mendapat ide harus lebih banyak membaca. Radit mengaku tidak pernah lepas dari block note setiap kumpul dan bermain bersama teman-temannya.

Semua cerita yang menurutnya lucu selalu dicatat. Celetukan aneh dari teman-temannya itu bisa jadi sumber ide. Termasuk ketika sedang di toilet. Menurut Radit, ide-ide justru lebih banyak muncul ketika sedang di kamar mandi.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Kediri”. Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/