24.4 C
Kediri
Saturday, December 3, 2022

Cerita-Cerita Jelang Pemilihan Kepala Desa Serempak di Kabupaten Kediri (1)

Cakades Meninggal, Tim Sukses Tetap All Out

- Advertisement -

Tiga kali ini Darmanto macung kepala desa. Sayang, di pencalonan ketiganya dia lebih dulu dipanggil Yang Kuasa. Namun, tim sukses tetap bertekad menjaring suara.

Jalan itu bernama Jalan Buk Brobos. Ada di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih. Diberi nama seperti itu karena jalan ini melewati bawah lintasan kereta api. Mbrobos- melewati bagian bawah-rel kereta api.

Di jalan inilah rumah Akhiro Sudarmanto berada. Di RT 3 RW 4 Dusun Ngadiluwih. Berpagar besi warna krem. Senada dengan warna tembok rumah.

Dua baliho berdiri gagah tepat di pagar rumah. Lengkap dengan gambar sosok dan nomor urut plus ajakan mencoblos. Yang satu, ukurannya lebih besar, dilengkapi tulisan ‘Demokrasi Itu Dibangun, Bukan Dibeli!’.

Ya, sang pemilik rumah memang macung sebagai calon kepala desa (cakades) Ngadiluwih. Sayang, nasib berkata lain. Sudarmanto lebih dulu dipanggil Sang Khalik. Saat pelaksanaan coblosan pada 7 Desember nanti, berarti tepat 40 hari meninggalnya sang calon.

- Advertisement -

“Spanduk itu yang masang ya relawan pendukung bapak,” papar Mulazimah, 42, istri almarhum.

Ya, meskipun sudah meninggal, pencalonan Dar-demikian sapaan almarhum semasa hidupnya-tetap berlangsung. Sesuai aturan, ketika sudah tercatat sebagai calon, tidak boleh mundur. Meskipun meninggal dunia. Seandainya menang, maka akan langsung digantikan penjabat (pj) yang diambil dari aparatur sipil negara (ASN).

Baca Juga :  Fachurozi - Azzam, Siswa MTsN 1 Kota Kediri, Juara Nasional Robotik

“Kami akan tetap mendukung. Sesuai prinsip beliau yang tercantum di spanduk. Bahwa demokrasi itu dibangun, bukan dibeli,” tegas Hartono, salah seorang relawan Dar.

Di mata relawan, dan kerabat-kerabatnya, Dar adalah sosok dengan jiwa sosial tinggi. Kepeduliannya pada kepentingan warga juga besar. Misalnya, dia meninggalkan beberapa peralatan untuk pembangunan masjid di dekat rumahnya. “Almarhum meninggalkan alat molen cor beton dan scaffolding untuk  pembangunan Masjid Darul Jalal,” ujar Agus Susanto, 54, kakak Dar.

Agus berkisah, adiknya itu meninggal sepulang dari takziah. Dia ditemukan tergeletak di lantai kamar tidur usai mandi. Saat meninggal almarhum bercelana panjang dan bersinglet warna putih. Di lengannya tersampir handuk.

“Saat itu saya ada di masjid. Ketika diberitahu ibu, saya bergegas ke rumahnya dan menemukan Pak Dar sudah meninggal,” kenangnya.

Semasa hidup, Dar dikenal humoris. Setiap pagi, siang, dan malam, selalu menghampiri warga yang ada di warung. Bercengkerama dengan mereka.

Selain itu, almarhum juga dikenal hobi menyanyi. Sering menyumbang suara ketika ada acara pernikahan maupun agustusan. Lagu yang paling disukai adalah dangdut Jawa.

Baca Juga :  Laporan Hambat Ratusan Desa di Kabupaten Kediri

Sifatnya yang humoris ini juga diamini oleh Arif, warga yang pernah jadi relawan Dar dalam pilkades. Menurutnya, bila tengah berkumpul dengan warga, Dar selalu membuat suasana ceria.

“Setiap kali diundang hajatan warga, Dar tak pernah absen datang,” kenang Arif.

Yang juga menonjol dari sifat Dar adalah kepeduliannya pada warga, terutama, yang kurang mampu. Lima ekor kambingnya pernah dikelolakan untuk warga. Ketika beranak, anak kambing itu jadi milik warga yang mengelola.

Ada lagi yang membekas di hati Arif terkait sikap Dar. Yaitu keikhlasannya. Tak pernah mengeluh sesuatu yang sudah terjadi.

“Pak Dar itu kalau sedang kehilangan barang seperti laptop atau disel, tidak pernah ngeluh. Dia selalu bilang, biarin, itu bukan rizki saya,” ucap Arif meniru perkataan Dar.

Pengelola LBB Primagama Ngadiluwih ini meninggalkan dua anak yang masih usia SMP. Dua anaknya itu tengah mondok di Jombang. Karena itu, yang di rumah hanya ibu almarhum, Istiyah, 73, dan istrinya, Mulazimah, yang seorang dosen di UNP.

“Seminggu sebelum meninggal, anak pertama Dar mendapat panggilan ke China (Tiongkok, Red). Untuk mengikuti olimpiade bahasa Inggris,” kata  Agus, mengakhiri ceritanya.

- Advertisement -

Tiga kali ini Darmanto macung kepala desa. Sayang, di pencalonan ketiganya dia lebih dulu dipanggil Yang Kuasa. Namun, tim sukses tetap bertekad menjaring suara.

Jalan itu bernama Jalan Buk Brobos. Ada di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih. Diberi nama seperti itu karena jalan ini melewati bawah lintasan kereta api. Mbrobos- melewati bagian bawah-rel kereta api.

Di jalan inilah rumah Akhiro Sudarmanto berada. Di RT 3 RW 4 Dusun Ngadiluwih. Berpagar besi warna krem. Senada dengan warna tembok rumah.

Dua baliho berdiri gagah tepat di pagar rumah. Lengkap dengan gambar sosok dan nomor urut plus ajakan mencoblos. Yang satu, ukurannya lebih besar, dilengkapi tulisan ‘Demokrasi Itu Dibangun, Bukan Dibeli!’.

Ya, sang pemilik rumah memang macung sebagai calon kepala desa (cakades) Ngadiluwih. Sayang, nasib berkata lain. Sudarmanto lebih dulu dipanggil Sang Khalik. Saat pelaksanaan coblosan pada 7 Desember nanti, berarti tepat 40 hari meninggalnya sang calon.

“Spanduk itu yang masang ya relawan pendukung bapak,” papar Mulazimah, 42, istri almarhum.

Ya, meskipun sudah meninggal, pencalonan Dar-demikian sapaan almarhum semasa hidupnya-tetap berlangsung. Sesuai aturan, ketika sudah tercatat sebagai calon, tidak boleh mundur. Meskipun meninggal dunia. Seandainya menang, maka akan langsung digantikan penjabat (pj) yang diambil dari aparatur sipil negara (ASN).

Baca Juga :  Melongok Kampung Tangguh di Tengah Pandemi Covid-19 di Kediri (1)

“Kami akan tetap mendukung. Sesuai prinsip beliau yang tercantum di spanduk. Bahwa demokrasi itu dibangun, bukan dibeli,” tegas Hartono, salah seorang relawan Dar.

Di mata relawan, dan kerabat-kerabatnya, Dar adalah sosok dengan jiwa sosial tinggi. Kepeduliannya pada kepentingan warga juga besar. Misalnya, dia meninggalkan beberapa peralatan untuk pembangunan masjid di dekat rumahnya. “Almarhum meninggalkan alat molen cor beton dan scaffolding untuk  pembangunan Masjid Darul Jalal,” ujar Agus Susanto, 54, kakak Dar.

Agus berkisah, adiknya itu meninggal sepulang dari takziah. Dia ditemukan tergeletak di lantai kamar tidur usai mandi. Saat meninggal almarhum bercelana panjang dan bersinglet warna putih. Di lengannya tersampir handuk.

“Saat itu saya ada di masjid. Ketika diberitahu ibu, saya bergegas ke rumahnya dan menemukan Pak Dar sudah meninggal,” kenangnya.

Semasa hidup, Dar dikenal humoris. Setiap pagi, siang, dan malam, selalu menghampiri warga yang ada di warung. Bercengkerama dengan mereka.

Selain itu, almarhum juga dikenal hobi menyanyi. Sering menyumbang suara ketika ada acara pernikahan maupun agustusan. Lagu yang paling disukai adalah dangdut Jawa.

Baca Juga :  Antara Traveling dan Bekerja

Sifatnya yang humoris ini juga diamini oleh Arif, warga yang pernah jadi relawan Dar dalam pilkades. Menurutnya, bila tengah berkumpul dengan warga, Dar selalu membuat suasana ceria.

“Setiap kali diundang hajatan warga, Dar tak pernah absen datang,” kenang Arif.

Yang juga menonjol dari sifat Dar adalah kepeduliannya pada warga, terutama, yang kurang mampu. Lima ekor kambingnya pernah dikelolakan untuk warga. Ketika beranak, anak kambing itu jadi milik warga yang mengelola.

Ada lagi yang membekas di hati Arif terkait sikap Dar. Yaitu keikhlasannya. Tak pernah mengeluh sesuatu yang sudah terjadi.

“Pak Dar itu kalau sedang kehilangan barang seperti laptop atau disel, tidak pernah ngeluh. Dia selalu bilang, biarin, itu bukan rizki saya,” ucap Arif meniru perkataan Dar.

Pengelola LBB Primagama Ngadiluwih ini meninggalkan dua anak yang masih usia SMP. Dua anaknya itu tengah mondok di Jombang. Karena itu, yang di rumah hanya ibu almarhum, Istiyah, 73, dan istrinya, Mulazimah, yang seorang dosen di UNP.

“Seminggu sebelum meninggal, anak pertama Dar mendapat panggilan ke China (Tiongkok, Red). Untuk mengikuti olimpiade bahasa Inggris,” kata  Agus, mengakhiri ceritanya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/