23.6 C
Kediri
Wednesday, June 7, 2023

Ketika Anak-Anak Kediri Terjebak dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Pandemi Covid-19 tak kunjung usai. Anak-anak pun masih harus bersekolah dari rumah. Beban orang tua juga semakin bertambah. 

Bima duduk bersila di karpet ruang tamu rumahnya. Di depannya ada meja pendek tempat dia menempatkan buku tulis. Di tangan bocah berusia 6 tahun ini terselip pensil 2B. 

Bocah lelaki ini seperti tak tenang duduk. Beberapa kali dia terlihat hendak mencoretkan sesuatu di lembaran bukunya. Namun, beberapa kali pula dia batal melakukannya. Sebagai gantinya, dia beberapa kali mengubah posisi duduk. Meskipun masih di belakang meja lipat kecil yang kadang jadi sandaran kedua lengannya.

Sang ibu, sembari menggendong anaknya yang lain, mencoba memberi semangat. Membujuknya agar segera menulis pelajaran yang diberikan sang guru pada Bima. Nadanya lembut, tak ada intonasi tinggi di tiap ucapannya.

“Saya ikuti kemauan, mood-nya Bima,” ucap Devilia, 31, sang ibu.

Devi tak berani memaksa anaknya yang kini masuk TK A itu agar segera mengerjakan tugas sekolah. Dia hanya berusaha merayu agar sang anak segera melakukannya. Bila dipaksa dia justru takut kemauan belajar sang anak hilang.

Pemandangan seperti yang tersaji di salah satu rumah di Desa Mlati, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri itu contoh bagaimana situasi belajar anak-anak saat ini. Mereka ‘terjebak’ dalam sistem pendidikan baru. Belajar secara daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kondisi ini tak terelakkan. Menyusul terjadinya gelombang pandemi Covid-19 sejak 2020. Semua aktivitas yang melibatkan banyak orang dihentikan. Termasuk bersekolah.

Baca Juga :  Ibu Jadi Buruh Tani, Keluarga Anang Soetomo Masih Prasejahtera

Sebenarnya, tahun ajaran 2021-2022 ini ada rencana memulai lagi pembelajaran tatap muka. Sayang, terjangan Covid-19 gelombang 2 yang memunculkan varian delta merusak segala rencana. Belajar kembali harus berlangsung dari rumah.  Sedangkan guru memberi materi melalui perangkat handphone. Tak terkecuali bagi Bima yang masih duduk di bangku TK Kusuma Mulia Al Falah Ploso. 

Praktis ibu rumah tangga seperti Devi harus berperan ganda. Jadi ibu rumah tangga sekaligus guru bagi anaknya sendiri. Sangat wajar bila kemudian kondisi rumahnya juga agak berantakan saat itu. Terlihat bahwa dia masih belum sempat untuk menata rumah dengan rapi. 

Untungnya, jadwal belajar dari sekolah tak dipatok dengan ketat. Yang pasti, setiap tugas harus dikumpulkan melalui grup WhatsApp. Jadwal harian telah dirancang seminggu, sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Guru memberi tugas di pagi hari. Pengerjaan dan pengiriman hasil bisa sampai malam hari. 

“Yang penting tetap mengerjakan tugas lalu dikirim,” jelasnya.

Hal itu sedikit melegakan bagi ibu seperti Devi. Dia masih punya kelonggaran membagi peran antara ibu rumah tangga dan teman belajar sang anak. Apalagi, jam-jam belajar harus disesuaikan dengan mood sang anak.

Soal mood itu, hasrat belajar memang sulit dipaksakan. Wajar bila kemudian ada tugas yang baru dikumpulkan pagi harinya. Dan itu juga terjadi pada ibu-ibu yang lain. 

Baca Juga :  Kampung Kauman, Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (7)

Selain menyesuaikan mood anak, yang juga harus ditunjukkan Devi adalah kesabaran. Sabar untuk mengajak, membujuk, dan mengarahkan sang anak sepanjang waktu ‘sekolah’.

Karena paham dengan karakter dan sifat sang anak, Devi punya trik khusus. Dia selalu ‘mengadu’ sang anak dengan teman-teman sekelasnya. Dia selalu memberitahu bahwa temannya yang lain sudah selesai mengerjakan tugas. 

“Kadang saya pancing temannya sudah, baru gitu dia semangat ikut belajar,” tuturnya. 

Devi mengakui, semangat anaknya tak sebesar ketika mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Saat masa pengenalan itu Bima justru semangat. Apalagi saat itu sang anak juga harus mengenakan seragam dan atribut sekolah. Terlihat sekali Bima sangat senang saat itu.

Toh, MPLS bagi Devi sangat kurang. Anaknya memang kenal dengan teman sekelas dan guru. Namun, perkenalan itu hanya sebatas lewat HP.

Situasi sulit sekolah daring itu dipahami oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri. Dinas pun menyiapkan beberapa layanan. Mulai guru kunjung, klinik pembelajaran, modul pembelajaran off-line, tutor rekan sebaya (peer tutoring). “Itupun dengan prokes ketat,” ucap Plt Kepala Bidang Pendidikan Dasar Nur Miftahul Fuad. 

Guru kunjung maupun klinik pembelajaran akan diterapkan saat ada siswa yang mengalami keterbatasan mengikuti pembelajaran. Guru ke rumah siswa bersangkutan untuk menyampaikan pembelajaran.  Sedangkan untuk klinik pembelajaran dilakukan maksimal dua siswa tiap guru atau kelas. (wi/fud)

Pandemi Covid-19 tak kunjung usai. Anak-anak pun masih harus bersekolah dari rumah. Beban orang tua juga semakin bertambah. 

Bima duduk bersila di karpet ruang tamu rumahnya. Di depannya ada meja pendek tempat dia menempatkan buku tulis. Di tangan bocah berusia 6 tahun ini terselip pensil 2B. 

Bocah lelaki ini seperti tak tenang duduk. Beberapa kali dia terlihat hendak mencoretkan sesuatu di lembaran bukunya. Namun, beberapa kali pula dia batal melakukannya. Sebagai gantinya, dia beberapa kali mengubah posisi duduk. Meskipun masih di belakang meja lipat kecil yang kadang jadi sandaran kedua lengannya.

Sang ibu, sembari menggendong anaknya yang lain, mencoba memberi semangat. Membujuknya agar segera menulis pelajaran yang diberikan sang guru pada Bima. Nadanya lembut, tak ada intonasi tinggi di tiap ucapannya.

“Saya ikuti kemauan, mood-nya Bima,” ucap Devilia, 31, sang ibu.

Devi tak berani memaksa anaknya yang kini masuk TK A itu agar segera mengerjakan tugas sekolah. Dia hanya berusaha merayu agar sang anak segera melakukannya. Bila dipaksa dia justru takut kemauan belajar sang anak hilang.

Pemandangan seperti yang tersaji di salah satu rumah di Desa Mlati, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri itu contoh bagaimana situasi belajar anak-anak saat ini. Mereka ‘terjebak’ dalam sistem pendidikan baru. Belajar secara daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kondisi ini tak terelakkan. Menyusul terjadinya gelombang pandemi Covid-19 sejak 2020. Semua aktivitas yang melibatkan banyak orang dihentikan. Termasuk bersekolah.

Baca Juga :  Perjuangan Kartini-Kartini Kediri Menaklukkan Pandemi

Sebenarnya, tahun ajaran 2021-2022 ini ada rencana memulai lagi pembelajaran tatap muka. Sayang, terjangan Covid-19 gelombang 2 yang memunculkan varian delta merusak segala rencana. Belajar kembali harus berlangsung dari rumah.  Sedangkan guru memberi materi melalui perangkat handphone. Tak terkecuali bagi Bima yang masih duduk di bangku TK Kusuma Mulia Al Falah Ploso. 

Praktis ibu rumah tangga seperti Devi harus berperan ganda. Jadi ibu rumah tangga sekaligus guru bagi anaknya sendiri. Sangat wajar bila kemudian kondisi rumahnya juga agak berantakan saat itu. Terlihat bahwa dia masih belum sempat untuk menata rumah dengan rapi. 

Untungnya, jadwal belajar dari sekolah tak dipatok dengan ketat. Yang pasti, setiap tugas harus dikumpulkan melalui grup WhatsApp. Jadwal harian telah dirancang seminggu, sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Guru memberi tugas di pagi hari. Pengerjaan dan pengiriman hasil bisa sampai malam hari. 

“Yang penting tetap mengerjakan tugas lalu dikirim,” jelasnya.

Hal itu sedikit melegakan bagi ibu seperti Devi. Dia masih punya kelonggaran membagi peran antara ibu rumah tangga dan teman belajar sang anak. Apalagi, jam-jam belajar harus disesuaikan dengan mood sang anak.

Soal mood itu, hasrat belajar memang sulit dipaksakan. Wajar bila kemudian ada tugas yang baru dikumpulkan pagi harinya. Dan itu juga terjadi pada ibu-ibu yang lain. 

Baca Juga :  BPJS Ketenagakerjaan Kediri Santuni Anak Yatim

Selain menyesuaikan mood anak, yang juga harus ditunjukkan Devi adalah kesabaran. Sabar untuk mengajak, membujuk, dan mengarahkan sang anak sepanjang waktu ‘sekolah’.

Karena paham dengan karakter dan sifat sang anak, Devi punya trik khusus. Dia selalu ‘mengadu’ sang anak dengan teman-teman sekelasnya. Dia selalu memberitahu bahwa temannya yang lain sudah selesai mengerjakan tugas. 

“Kadang saya pancing temannya sudah, baru gitu dia semangat ikut belajar,” tuturnya. 

Devi mengakui, semangat anaknya tak sebesar ketika mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Saat masa pengenalan itu Bima justru semangat. Apalagi saat itu sang anak juga harus mengenakan seragam dan atribut sekolah. Terlihat sekali Bima sangat senang saat itu.

Toh, MPLS bagi Devi sangat kurang. Anaknya memang kenal dengan teman sekelas dan guru. Namun, perkenalan itu hanya sebatas lewat HP.

Situasi sulit sekolah daring itu dipahami oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri. Dinas pun menyiapkan beberapa layanan. Mulai guru kunjung, klinik pembelajaran, modul pembelajaran off-line, tutor rekan sebaya (peer tutoring). “Itupun dengan prokes ketat,” ucap Plt Kepala Bidang Pendidikan Dasar Nur Miftahul Fuad. 

Guru kunjung maupun klinik pembelajaran akan diterapkan saat ada siswa yang mengalami keterbatasan mengikuti pembelajaran. Guru ke rumah siswa bersangkutan untuk menyampaikan pembelajaran.  Sedangkan untuk klinik pembelajaran dilakukan maksimal dua siswa tiap guru atau kelas. (wi/fud)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/