25.4 C
Kediri
Saturday, December 3, 2022

Ketika Koi ‘Tumbuh’ di Petak-Petak Sawah Kelurahan Gayam

- Advertisement -

Di kelurahan ini, tak semua petak sawah berisi batang padi. Sebagian justru ditanami ikan warna-warni yang lincah bergerak ke sana ke mari. Sayang, masih banyak yang patah arang karena hasil tak sesuai harapan.

Bila ada wilayah di Kota Kediri yang masih memiliki banyak sawah, Kelurahan Gayam salah satunya. Kelurahan ini berada di ujung barat Kota Kediri. Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kediri. Tepatnya dengan Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan.

Bila melintasi kelurahan yang masuk wilayah Kecamatan Mojoroto ini, hamparan sawah terlihat sepanjang mata memandang. Sebagian besar, tentu saja, ditumbuhi tanaman pangan. Terutama padi dan jagung.

Namun, terselip di antara petak-petak padi dan jagung itu, ada yang berisi air bening bak telaga. Tak ada tanaman yang tumbuh menyembul. Karena sawah itu memang sengaja dijadikan kolam ikan. Semuanya adalah jenis ikan koi.

“Kualitas air di sini sangat bagus. Cocok untuk budi daya koi,” ucap Budiarjo Setiawan.

- Advertisement -

Budi adalah salah satu pembudidaya koi di kelurahan ini. Awalnya, dia hanya sebatas kegiatan rekreatif. Untuk melepas penat di waktu senggang. Namun, seiring waktu, dia melihat potensi besar Kelurahan Gayam dijadikan sentra ikan koi.

“Karena belum ada sentra ikan koi di Kota Kediri, akhirnya saya mulai mengajak para pemuda dan warga di sini untuk melakukan budi daya,” kenang pria 50 tahun ini.

Baca Juga :  Pelaku Begal Payudara asal Kunjang Sengaja Cegat Korban di Tempat Sepi

Potensi itu di antaranya adalah mudahnya mendapatkan air serta kualitasnya yang jernih. Air mengalir deras dari sumur. Tanpa harus menggunakan pompa penyedot. Atau biasa disebut sebagai sumur artesis. Sehingga mengurangi biaya produksi karena tak memanfaatkan aliran listrik.

Sebenarnya, Budi melihat sudah banyak warga yang berusaha melakukan budi daya koi. Mereka memiliki beberapa petak. Namun, produksi yang tidak sesuai dengan harapan membuat usaha itu layu sebelum berkembang.

“Akhirnya usaha mereka mangkrak. Sawah yang telanjur jadi kolam ikan koi juga mangkrak,” terang lelaki yang juga seorang pengacara ini.

Padahal, dari segi komponen pendukung seharusnya Gayam bisa menyaingi daerah yang lebih dulu jadi sentra koi. Air dan lingkungan sangat mendukung. Tak kalah dengan daerah penghasil koi seperti Blitar maupun Tulungagung.

Budi akhirnya tergerak membuat kolam ikan koi. Tujuannya sebagai percontohan. Agar bisa dimanfaatkan warga belajar budi daya ikan asal Jepang ini. Dia juga menggandeng Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP). Yang rutin memberi penyuluhan dan mencontohkan pengelolaan kolam koi yang benar. Agar bisa menghasilkan produk ikan koi yang optimal.

Upaya itu bersambut. Banyak warga yang mengikutinya. “Saat ini ada 20-an petak sawah warga yang dijadikan kolam ikan koi,” terangnya.

Sebenarnya, budi daya koi tidak terlalu sulit. Misalnya, kedalaman kolam setidaknya satu meter. Agar bisa menjaga suhu serta memberi tempat yang nyaman bagi pertumbuhan koi. Sebelumnya, warga tak terlalu memperhatikan hal tersebut.

Baca Juga :  Disperpusip Jatim Selamatkan Naskah Kuno

“Padahal kedalaman air ini berfungsi menjaga koi agar tidak gampang sakit. Terutama saat peralihan musim,” sebut Budi.

Perpindahan musim yang tiba-tiba memang rentan menjadi momok bagi petani koi. Karena bisa menyebabkan kematian ikan piaraan. Tak tanggung-tanggung, kematiannya bisa mencapai 50 persen ketika terjadi cuaca ekstrem.

Selain kedalaman, pembudidaya juga harus menyesuaikan jumlah ikan di satu kolam. Bila kolam ukuran standar, 20 meter persegi, dengan kedalaman satu meter, idealnya untuk 200 ikan. “Karena secara alami mungkin hanya sekitar 10-20 persen ikan koi yang memiliki kualitas baik dari satu kali hasil perkawinan,” terangnya.

Tak hanya belajar cara budi daya yang benar, Budi juga mendorong persatuan para pembudidaya. Kini, ada perkumpulan petani koi yang bernama Pokdakan Sumber Ngembak Kelurahan Gayam. Beranggotakan 20 pemuda pembudidaya ikan koi.

Anggota kelompok ini bisa saling berbagi dan bekerja sama, terutama dalam penjualan. Terutama memanfaatkan media sosial. Kini, kelompok ini tak hanya memenuhi kebutuhan pedagang lokal maupun regional. Sebagian sudah ada yang melayani pemesan luar negeri. Seperti Singapura, Filipina, hingga Amerika Serikat.

“Omzetnya sudah puluhan juta (rupiah). Setidaknya mereka bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Bahkan, ada yang sudah mampu beli motor dari  hasil usaha tersebut,” tutupnya.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira
- Advertisement -

Di kelurahan ini, tak semua petak sawah berisi batang padi. Sebagian justru ditanami ikan warna-warni yang lincah bergerak ke sana ke mari. Sayang, masih banyak yang patah arang karena hasil tak sesuai harapan.

Bila ada wilayah di Kota Kediri yang masih memiliki banyak sawah, Kelurahan Gayam salah satunya. Kelurahan ini berada di ujung barat Kota Kediri. Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kediri. Tepatnya dengan Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan.

Bila melintasi kelurahan yang masuk wilayah Kecamatan Mojoroto ini, hamparan sawah terlihat sepanjang mata memandang. Sebagian besar, tentu saja, ditumbuhi tanaman pangan. Terutama padi dan jagung.

Namun, terselip di antara petak-petak padi dan jagung itu, ada yang berisi air bening bak telaga. Tak ada tanaman yang tumbuh menyembul. Karena sawah itu memang sengaja dijadikan kolam ikan. Semuanya adalah jenis ikan koi.

“Kualitas air di sini sangat bagus. Cocok untuk budi daya koi,” ucap Budiarjo Setiawan.

Budi adalah salah satu pembudidaya koi di kelurahan ini. Awalnya, dia hanya sebatas kegiatan rekreatif. Untuk melepas penat di waktu senggang. Namun, seiring waktu, dia melihat potensi besar Kelurahan Gayam dijadikan sentra ikan koi.

“Karena belum ada sentra ikan koi di Kota Kediri, akhirnya saya mulai mengajak para pemuda dan warga di sini untuk melakukan budi daya,” kenang pria 50 tahun ini.

Baca Juga :  Menelusuri Jejak Zaman Purba di Nganjuk (4)

Potensi itu di antaranya adalah mudahnya mendapatkan air serta kualitasnya yang jernih. Air mengalir deras dari sumur. Tanpa harus menggunakan pompa penyedot. Atau biasa disebut sebagai sumur artesis. Sehingga mengurangi biaya produksi karena tak memanfaatkan aliran listrik.

Sebenarnya, Budi melihat sudah banyak warga yang berusaha melakukan budi daya koi. Mereka memiliki beberapa petak. Namun, produksi yang tidak sesuai dengan harapan membuat usaha itu layu sebelum berkembang.

“Akhirnya usaha mereka mangkrak. Sawah yang telanjur jadi kolam ikan koi juga mangkrak,” terang lelaki yang juga seorang pengacara ini.

Padahal, dari segi komponen pendukung seharusnya Gayam bisa menyaingi daerah yang lebih dulu jadi sentra koi. Air dan lingkungan sangat mendukung. Tak kalah dengan daerah penghasil koi seperti Blitar maupun Tulungagung.

Budi akhirnya tergerak membuat kolam ikan koi. Tujuannya sebagai percontohan. Agar bisa dimanfaatkan warga belajar budi daya ikan asal Jepang ini. Dia juga menggandeng Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP). Yang rutin memberi penyuluhan dan mencontohkan pengelolaan kolam koi yang benar. Agar bisa menghasilkan produk ikan koi yang optimal.

Upaya itu bersambut. Banyak warga yang mengikutinya. “Saat ini ada 20-an petak sawah warga yang dijadikan kolam ikan koi,” terangnya.

Sebenarnya, budi daya koi tidak terlalu sulit. Misalnya, kedalaman kolam setidaknya satu meter. Agar bisa menjaga suhu serta memberi tempat yang nyaman bagi pertumbuhan koi. Sebelumnya, warga tak terlalu memperhatikan hal tersebut.

Baca Juga :  Anggota Koramil Kota Serbu Ponpes Al-Huda

“Padahal kedalaman air ini berfungsi menjaga koi agar tidak gampang sakit. Terutama saat peralihan musim,” sebut Budi.

Perpindahan musim yang tiba-tiba memang rentan menjadi momok bagi petani koi. Karena bisa menyebabkan kematian ikan piaraan. Tak tanggung-tanggung, kematiannya bisa mencapai 50 persen ketika terjadi cuaca ekstrem.

Selain kedalaman, pembudidaya juga harus menyesuaikan jumlah ikan di satu kolam. Bila kolam ukuran standar, 20 meter persegi, dengan kedalaman satu meter, idealnya untuk 200 ikan. “Karena secara alami mungkin hanya sekitar 10-20 persen ikan koi yang memiliki kualitas baik dari satu kali hasil perkawinan,” terangnya.

Tak hanya belajar cara budi daya yang benar, Budi juga mendorong persatuan para pembudidaya. Kini, ada perkumpulan petani koi yang bernama Pokdakan Sumber Ngembak Kelurahan Gayam. Beranggotakan 20 pemuda pembudidaya ikan koi.

Anggota kelompok ini bisa saling berbagi dan bekerja sama, terutama dalam penjualan. Terutama memanfaatkan media sosial. Kini, kelompok ini tak hanya memenuhi kebutuhan pedagang lokal maupun regional. Sebagian sudah ada yang melayani pemesan luar negeri. Seperti Singapura, Filipina, hingga Amerika Serikat.

“Omzetnya sudah puluhan juta (rupiah). Setidaknya mereka bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Bahkan, ada yang sudah mampu beli motor dari  hasil usaha tersebut,” tutupnya.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/