Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features

Belajar Agama Bisa di Mana Saja

22 Oktober 2021, 14: 08: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

Belajar Agama Bisa di Mana Saja

Share this      

Salah satu upaya agar masyarakat bersemangat menimba ilmu agama adalah mudahnya akses. Mulai dari akses mendapat pelajaran, akses ekonomi, dan akses menuju lokasi belajar.

Memang, bila soal nama besar, ponpes yang punya sejarah panjang pasti lebih  menarik. Sebut saja seperti Pondok Al Falah, Lirboyo, atau Gontor. Ponpes-ponpes itu memiliki daya tarik kuat bagi para wali santri untuk memondokkan anaknya.

Namun, ada pula yang tak punya akses ke ponpes-ponpes besar itu. Misalnya bagi warga di desa-desa dengan ekonomi yang kurang. Pilihannya adalah mengirimkan anaknya untuk belajar agama di masjid ataupun musala terdekat.

Baca juga: Sudah Jablai Masih Dipukuli Pula

Pilihan terakhir itulah yang juga perlu diapresiasi. Terutama dari sisi semangat sang anak untuk menimba ilmu agama. Dan itu yang ditangkap oleh Syaiful Bahri, staff Kemenag Kabupaten Kediri. Ia mendirikan taman pendidikan Alquran (TPQ) dan juga madrasah diniyah (madin) di dekat rumahnya.

“Salah satu alasannya adalah sempat lihat ada anak dari desa sebelah yang harus jauh-jauh belajar mengaji ke arah Papar. Semangat seperti itu yang mendorong saya mendirikan TPQ,” terangnya.

Ia paham benar menjadi seorang santri. Pada masanya  Syaiful harus rela satu bulan hanya bertemu sekali dengan orang tuanya. Ya, semasa muda Syaiful menjadi santri di Pondok Pesantren Putra Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Jauh dari orang tua membuatnya lebih mandiri dan disiplin. Ilmu-ilmu agama ia dapatkan selama bermukim di pondok tersebut. Semangat belajar agama bagi seorang yang sudah berdeterminasi itu menjadi motivasinya.

“Belajar agama bisa di mana saja. Dan memang, semua orang yang sudah memiliki fokus untuk belajar, pasti apapun dilakukan,” tandasnya.

Mempermudah akses untuk berbagi ilmu, menurut Syaiful, juga salah satu yang ia dapatkan selama belajar agama. Terlahir di lingkungan keluarga yang juga dekat dengan pondok pesantren juga mendorong motivasinya membangun TPQ.

Ia melihat yang belajar mengaji bersama pamannya terus bertambah. Pada 2004 dia pun meminta restu membangun TPQ di depan rumah orang tuanya.

“Alhamdulillah, akhirnya membangun madin antara 2016-2017,” terangnya.

Syaiful juga menjadi pengajar di TPQ dan Madin Al-Tahta. Ia membagi waktunya untuk bekerja sebagai staff humas. Setelah pulang kerja ia menyempatkan bersih-bersih dan mengajar ngaji bagi para santrinya. “Saat ini ada sekitar 80 santri,” ujarnya.

Dia tak menyangka, TPQ yang awalnya menggunakan ruang tamu rumah orang tuanya itu berpindah ke tanah kosong yang dibuatkan bangunan tersendiri. Respon masyarakat desa pun juga baik. Sehingga semakin mempercayakan anak-anak desa belajar Alquran di tempat Syaiful.

Ia berharap belajar agama tidak akan berhenti. Baik semangat pengajar hingga semangat yang ingin belajar. Semangat santri memang tetap harus dilestarikan, meski zaman terus berkembang.(syi/fud)

(rk/syi/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia