23.7 C
Kediri
Sunday, December 4, 2022

Kisah Aida Fathiya Raih Runner Up III Raka Raki Jatim

Bikin Vlog Program Kerja Bertema Panji

- Advertisement -

Usai terpilih jadi Kirana Kabupaten Kediri 2022, Aida Fathiya tak setengah-setengah maju di event Raka Raki provinsi. Tiga bulan dia mempersiapkan diri. Berkat persiapan matang, pertanyaan Arumi Bachsin pun dijawab tuntas.

“Saya sempat deg-degan, karena waktu masuk lima besar jadi orang yang pertama tampil,” ujar Aida Fathiya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di Taman Hijau, Simpang Lima Gumul (SLG), Ngasem.

Perempuan berusia 20 tahun ini semakin gugup saat tahu yang memberi pertanyaan adalah Arumi Bachsin, yang saat itu menjadi salah satu juri pemilihan Raka Raki Jawa Timur 2022.  Meski begitu, Aida dapat mengatasi rasa gugupnya. Sehingga semua dapat dilalui dengan aman.

Momen itu terjadi saat malam grand final di Grand City Surabaya. Dia masih ingat pertanyaan yang diajukan oleh Ketua Dekranasda Jawa Timur tersebut. Waktu itu Aida diminta menjelaskan pengembangan IT dalam mempromosikan tempat wisata di Jawa Timur.

Menjawab pertanyaan tersebut, ia menjelaskan bahwa sudah memasuki devide point out. Di mana data merupakan senjata untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh wisatawan. “Untuk persiapan ini semua butuh waktu tiga bulan,” terang mahasiswi yang kini kuliah di Jurusan Fisika Murni, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya.

Baca Juga :  Pemohon SKCK di Polres Kediri Naik hingga 100 Persen
- Advertisement -

Tidak hanya menyiapkan materi untuk grand final, namun juga beberapa hal lain. Mulai pakaian hingga pembuatan video. Pada saat persiapan, Aida bersama Praska Arwi Prestanto, 22, perwakilan Inu Kabupaten Kediri.

Dalam guys challenge guide instagram, peserta harus meng-upload di sosial media. Temanya, ekonomi kreatif pariwisata kuliner. Menurut Aida, tantangan itu lumayan berat, karena juga harus membuat vlog terkait program kerja (proker) yang akan dibawakan nanti.

“Saya ambil tema tentang cerita Panji yang mendunia, yang dipresentasikan bentuk vlog dan power point,” paparnya. Alasan mengambil tema tersebut, menurut Aida karena cerita Panji ini merupakan budaya yang dimiliki Kabupaten Kediri. Sedangkan cerita Panji ini pada 2017 sudah diakui Unesco sebagai memory of the world.

Untuk pembuatan vlog, membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Karena ingin all out, anak tunggal pasangan Peni Purwaningsih dan Anton Suyono ini sampai latihan menari. Nama tariannya Karonsih, Sakloron Tansah Asih. Tarian ini menceritakan cinta Galuh Candra Kirana dari Kerajaan Kediri dan Panji Asmara Bangun, putra Raja Jenggala. Tarian tersebut ditarikan di puncak Candi Surowono. Tentu saja dengan kostum sesuai tema.

Baca Juga :  Tiga Pengedar Dobel L di Kediri Segera Jalani Sidang 

Agar dapat all out menarikan Karonsih, gadis kelahiran 2002 ini melakukan pelatihan intensif selama seminggu. Dia dibantu Inu Kirana lain yang memiliki latar sebagai penari.

Dengan mengambil rekaman video di Candi Surowono, juga menjelaskan peninggalan bersejarah yang menceritakan Sri Tanjung. Sebab pada relief candi terdapat sembilan panel menggambarkan kisah bergenre Panji. Yaitu kesetiaan Sri Tanjung terhadap suaminya.

“Setelah menjadi salah runner up tiga Raka Raki, kini tidak hanya memperkenalkan wisata di Kabupaten Kediri. Tetapi juga di Jawa Timur,” kata Aida. Tantangannya adalah ikut memperkuat wisata di Jawa timur, salah satunya dengan menjalankan rencana-rencana ke depan.

Sebagai salah satu Raka Raki, nantinya Aida juga berkesempatan mendampingi Gubernur Khofifah Indar Parawansa dalam kegiatan misi dagang dan investasi di luar daerah.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara
- Advertisement -

Usai terpilih jadi Kirana Kabupaten Kediri 2022, Aida Fathiya tak setengah-setengah maju di event Raka Raki provinsi. Tiga bulan dia mempersiapkan diri. Berkat persiapan matang, pertanyaan Arumi Bachsin pun dijawab tuntas.

“Saya sempat deg-degan, karena waktu masuk lima besar jadi orang yang pertama tampil,” ujar Aida Fathiya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di Taman Hijau, Simpang Lima Gumul (SLG), Ngasem.

Perempuan berusia 20 tahun ini semakin gugup saat tahu yang memberi pertanyaan adalah Arumi Bachsin, yang saat itu menjadi salah satu juri pemilihan Raka Raki Jawa Timur 2022.  Meski begitu, Aida dapat mengatasi rasa gugupnya. Sehingga semua dapat dilalui dengan aman.

Momen itu terjadi saat malam grand final di Grand City Surabaya. Dia masih ingat pertanyaan yang diajukan oleh Ketua Dekranasda Jawa Timur tersebut. Waktu itu Aida diminta menjelaskan pengembangan IT dalam mempromosikan tempat wisata di Jawa Timur.

Menjawab pertanyaan tersebut, ia menjelaskan bahwa sudah memasuki devide point out. Di mana data merupakan senjata untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh wisatawan. “Untuk persiapan ini semua butuh waktu tiga bulan,” terang mahasiswi yang kini kuliah di Jurusan Fisika Murni, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya.

Baca Juga :  Melatih Self Control demi Kesehatan Finansial

Tidak hanya menyiapkan materi untuk grand final, namun juga beberapa hal lain. Mulai pakaian hingga pembuatan video. Pada saat persiapan, Aida bersama Praska Arwi Prestanto, 22, perwakilan Inu Kabupaten Kediri.

Dalam guys challenge guide instagram, peserta harus meng-upload di sosial media. Temanya, ekonomi kreatif pariwisata kuliner. Menurut Aida, tantangan itu lumayan berat, karena juga harus membuat vlog terkait program kerja (proker) yang akan dibawakan nanti.

“Saya ambil tema tentang cerita Panji yang mendunia, yang dipresentasikan bentuk vlog dan power point,” paparnya. Alasan mengambil tema tersebut, menurut Aida karena cerita Panji ini merupakan budaya yang dimiliki Kabupaten Kediri. Sedangkan cerita Panji ini pada 2017 sudah diakui Unesco sebagai memory of the world.

Untuk pembuatan vlog, membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Karena ingin all out, anak tunggal pasangan Peni Purwaningsih dan Anton Suyono ini sampai latihan menari. Nama tariannya Karonsih, Sakloron Tansah Asih. Tarian ini menceritakan cinta Galuh Candra Kirana dari Kerajaan Kediri dan Panji Asmara Bangun, putra Raja Jenggala. Tarian tersebut ditarikan di puncak Candi Surowono. Tentu saja dengan kostum sesuai tema.

Baca Juga :  Serda Agus Widodo, Anggota TNI yang Buka Pelatihan Jahit Gratis

Agar dapat all out menarikan Karonsih, gadis kelahiran 2002 ini melakukan pelatihan intensif selama seminggu. Dia dibantu Inu Kirana lain yang memiliki latar sebagai penari.

Dengan mengambil rekaman video di Candi Surowono, juga menjelaskan peninggalan bersejarah yang menceritakan Sri Tanjung. Sebab pada relief candi terdapat sembilan panel menggambarkan kisah bergenre Panji. Yaitu kesetiaan Sri Tanjung terhadap suaminya.

“Setelah menjadi salah runner up tiga Raka Raki, kini tidak hanya memperkenalkan wisata di Kabupaten Kediri. Tetapi juga di Jawa Timur,” kata Aida. Tantangannya adalah ikut memperkuat wisata di Jawa timur, salah satunya dengan menjalankan rencana-rencana ke depan.

Sebagai salah satu Raka Raki, nantinya Aida juga berkesempatan mendampingi Gubernur Khofifah Indar Parawansa dalam kegiatan misi dagang dan investasi di luar daerah.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/