Minggu, 24 Oct 2021
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features

Wakapolsek Puncu Iptu Barkah Ramsul Donor Darah hingga 100 Kali

14 Oktober 2021, 10: 18: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

Wakapolsek Puncu Iptu Barkah Ramsul Donor Darah hingga 100 Kali

DEMI SESAMA: Iptu Barkah Ramsul menjalani donor darah di kantor PMI Kabupaten Kediri beberapa waktu lalu.   (DOKUMEN BARKAH SAMSUL)

Share this      

Seharusnya dia menerima Satyalancana Kebaktian Sosial dari Presiden RI secara langsung. Hanya karena pandemi penghargaan itu ditunda penyerahannya. Meskipun demikian, itu tak mengurangi semangat perwira polisi ini menyumbangkan darahnya.

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Suatu pagi di 1994. Saat itu Barkah Ramsul masih berdinas di Polsek Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Menjadi anggota samapta bhayangkara (sabhara), polisi yang menjadi garda depan dalam penanganan kejadian. Pukul 07.00 itu Barkah berpatroli. Mengendarai sepeda motor Honda GL Max, berkeliling di wilayah yang menjadi kewenangannya.

Baca juga: Mbah Kasih Masih Tunggu Ksatria Sosial

Tiba-tiba, ada kecelakaan yang terjadi. Korbannya, seorang wanita yang bersepeda onthel. Dia terjatuh setelah diserempet orang tak dikenal. Usai menyerempet itu pelaku juga kabur.

Barkah memilih tak mengejar pelaku tabrak lari. Dia justru menolong terlebih dulu si korban. Darah mengucur deras dari salah satu bagian tubuh wanita tersebut. Kaki kanannya juga patah.

Dia langsung menghubungi polsek untuk mengabarkan kejadian itu. Melalui telepon rumah milik salah seorang warga. Kemudian, dia meminjam mobil milik rekannya yang berjaga. Bergegas mengangkut korban menuju rumah sakit.

Saat itu, Barkah tahu benar bagaimana sulitnya korban mendapatkan darah yang dibutuhkan. Stok di PMI sedang kosong. Korban pun harus menunggu beberapa waktu agar bisa mendapatkan transfuse.

Kejadian itu yang kian menggugah semangatnya untuk melakukan donor darah sukarela (DDS). Kebiasaan yang sebenarnya sudah dia lakukan sejak duduk di bangku SMA, di SMA Brawijaya Kediri.

“Tiga kali saya donor darah kala SMA itu,” kenang Barkah.

Setelah lulus, kegiatan itu sempat berhenti. Terhalang masa pendidikannya di kepolisian. Setleah dilantik, aktivitas itu dia mulai lagi. Kemudian kian terpacu setelah peristiwa kecelakaan tersebut.

Waktu bertugas di Lamongan itu, jarak PMI dengan tempatnya berdinas tidaklah dekat. Sejauh 50 kilometer. Itupun harus melalui jalanan yang tak selalu mulus. Ada yang masih makadam serta melewati hutan.

Tentu saja untuk mendonorkan darah, kendaraan yang digunakan adalah sepeda motor GL Max yang biasanya dipakai untuk berpatroli. Terkadang setelah melakukan donor darah, anak pasangan Slamet Anis dan Siti Hadijah ini berhenti di pinggir jalan. Beristirahat sejenak. Kegiatan ini berlangsung hingga 1998 ketika dia dipindah ke Polres Kediri.

Di daerah asalnya ini, aktivitas DDS-nya tak berhenti. Justru kian menjadi. Dia sampai meminta dari PMI Lamongan, sebagai rujukannya ke PMI Kabupaten Kediri.

“Menjadi kebanggaan sendiri jika melihat kantong darah digantung dan di kasihkan orang lain,” tutur suami dari Wiwik Karya Ningsih ini. Setiap melakukan transfusi darah, ayah dua anak ini berdoa. Agar darah yang didonorkan berguna bagi orang lain.

Kini, sudah 100 kali dia melakukan. Sudah menjadi kebiasaan yang harus dia kerjakan. Apabila tidak berdonor, seperti ada yang terasa aneh di tubuhnya.

Karena sudah melakukannya sebanyak 100 kali, Barkah masuk dalam daftar pendonor yang mendapatkan Satyalancana Kebaktian Sosial. Biasanya, piagam itu diserahkan langsung oleh Presiden RI. Namun, karena pandemi penyerahan penghargaan itu terpaksa ditunda hingga waktu yang belum dipastikan.

“Pada waktu ada hari PMI nasional, saya dipanggil ketua PMI Kabupaten Kediri mendapatkan penghargaan,” imbuhnya.

Hasrat membantu sesama sangat tinggi pada diri pada Wakapolsek Puncu ini. Pun, ketika dia sempat terserang Covid-19, gairah itu tak pudar. Barkah tercatat sebagai pendonor darah plasma konvalesen. Donor darah ini sangat berarti bagi para pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Barkah bercerita, awalnya dia tak mengira terkena korona. Padahal selama ini menjalankan protokol kesehatan dengan ketat. Apa lacur, dia, istri, dan anak pertamanya dinyatakan positif. Hanya anak keduanya yang tak tertular. Kebetulan saat itu anak keduanya masih berada di Kota Malang. Menjalani kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang.

“Usai saya kabari, dia kaget dan langsung mendoakan agar cepat sembuh," kenang pria yang lahir di Kelurahan Kaliombo Kecamatan/Kota Kediri. (fud)

(rk/ara/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia