Selasa, 26 Oct 2021
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features

Ketika Pandemi Membatasi Warga Mengunjungi Museum

13 Oktober 2021, 14: 51: 04 WIB | editor : Adi Nugroho

Ketika Pandemi Membatasi Warga Mengunjungi Museum

BELAJAR: Puluhan pelajar mengikuti kegiatan di Museum Airlangga kemarin. Museum perlu beradaptasi pada perkembangan zaman. (Rekian - radar kediri)

Share this      

Fungsinya sangat kompleks. Bisa sebagai tempat konservasi, riset, bahkan memamerkan benda-benda koleksinya ke umum. Di tengah pandemi ini, museum ibarat di persimpangan.

Sudah hampir dua tahun ini Museum Airlangga-museum milik Pemerintah Kota Kediri-tutup. Semua aktivitas terhenti gara-gara penetapan status pandemi. Bahkan, ketika Kota Kediri sudah masuk level 2 dalam pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) tempat mengumpulkan berbagai koleksi benda bersejarah itu masih juga tak beroperasi.

Atau, kalaupun dibuka untuk umum, hanya bagi kalangan terbatas. Seperti kemarin (12/10) museum di kompleks wisata Selomangleng, kawasan Gunung Klotok ini didatangi pelajar dan mahasiswa. Jumlahnya tak banyak. Hanya 25 orang.

Baca juga: Seger Sutrisno, Pelatih Persenga di Liga 3 Jatim

“Mereka datang untuk belajar aksara Jawa kuno,” terang Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemudan dan Olahraga (Disbudparpora) Endah Setyowati. Acara itu sengaja digelar kemarin, bertepatan dengan hari museum nasional.

Hingga kemarin, belum ada instruksi dari pemkot kapan museum kembali dibuka. Sama seperti tempat wisata milik pemerintah daerah yang juga belum beroperasi. Semua aktivitas masih bersifat terbatas.

Meskipun demikian, bukan berarti aktivitas pengelola museum berhenti total. Mereka tetap beraktivitas dan bekerja. Bahkan, selama pandemi ini pihak Museum Airlangga mengusulkan puluhan benda koleksinya menjadi cagar budaya. Baik koleksi berupa etnografi, arca, hingga keramik, yang semuanya berasal dari masa kerajaan Kediri. 

Bila dipilah dari bentuknya, benda-benda yang diajukan menjadi cagar budaya itu terdiri dari beberapa wujud. Ada prasasti, yoni, hingga kepala kala. “Sekarang kami tunggu hasil penetapannya,” aku Endah.

Bila dihitung, koleksi museum ini sudah mencapai ratusan. Tepatnya 355 benda peninggalan. Koleksi terbaru mereka adalah batu umpak yang ditemukan di situs Candi Klotok. Umpak itu masuk ke museum pada 2019 lalu. Sejak itu belum ada tambahan koleksi terbaru. Apalagi selama pandemi.

Agar fungsi museum tetap berjalan, meskipun ada pembatasan, beberapa kegiatan terbatas pun dilakukan. Yaitu memberikan pemahaman sejarah pada pelajar dan mahasiswa. Event ini tergolong baru. Yang muncul di masa pandemi. Ada keinginan agar kegiatan tersebut menjadi satu hal yang rutin.

“Kalau sudah dibuka ini (kegiatan pemahaman sejarah, Red) bisa jadi event rutin di sini,” harap Endah.

Sementara, bagi para pengamat sejarah, yang dihadapi museum saat ini ibarat di persimpangan. Sebagai satu institusi penting, museum harus bisa beradaptasi dengan perkembangan. Penutupan, atau pembatasan kunjungan, merupakan ujian yang harud dijawab dengan kreativitas oleh pengelola.

Salah satu yang harus dilakukan oleh museum-museum, termasuk Museum Airlangga, adalah beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Sudah saatnya semua museum beradaptasi dengan dunia digital,” ucap Novi Bahrul Munib, penggiat budaya Kemendikbud Ristek wilayah Kediri.

Menurutnya, melalui information technology (IT) pengenalan museum jadi lebih mudah. Ketika ada orang yang ingin memperdalam pengetahuannya  pada koleksi museum, mereka tak harus datang dan berkumpul di lokasi. Bisa mengaksesnya melalui platform yang berbasis multimedia.

Aktivitas lain pun demikian. Termasuk bila pengelola ingin menggelar lomba karya tulis. Semuanya bisa memanfaatkan teknologi informasi.

“Jadi orang yang ingin mendalami koleksi museum tidak perlu beramai-ramai ke lokasi. Lewat digital sudah cukup,” ucapnya.

Ke depan, pemanfaatan media digital ini bisa diterapkan di semua museum. Baik yang dikelola swasta atau milik pemerintah.

Penggunaan teknologi itu juga bisa diterapkan agar wajah museum lebih menarik lagi. Tidak monoton dan kaku seperti selama ini. Semua koleksi museum bisa diberi label lengkap dengan barcode-nya. Bila ada pengunjung yang ingin tahu sejarah koleksi itu, dia tinggal men-scan barcode itu. Bagi Novi, hal-hal seperti itu merupakan tantangan besar museum saat ini. (rq/fud)

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia