Minggu, 29 May 2022
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features
Berziarah ke Makam Aulia di Kediri

Bakri yang Cerdas tapi Suka Berjudi

Meneladani Perjalanan dan Pemikirannya (36)

13 Mei 2022, 11: 12: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

Bakri yang Cerdas tapi Suka Berjudi

TEMPAT BERZIARAH: Kompleks makam di Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, tempat Syekh Ihsan dimakamkan. (Wahyu Adji- Radar Kediri)

Share this      

Salah satu makam ulama Kediri yang paling banyak diziarahi adalah makam Kiai hsan. Banyak kisah menarik yang layak dijadikan teladan dari kiai yang terkenal cerdas ini.

Lokasi makam Syekh Ihsan Muhammad Dahlan berada sekitar satu kilometer sebelah selatan Pondok Al Ihsan Jampes di Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo. Berada di kompleks pemakaman yang berisi puluhan nisan. Sebagian sudah tidak bernama. Sedangkan yang masih bernama sebanyak 16 nisan.

Makam Syekh Ihsan sendiri dikelilingi pagar stainless. Bersama enam makam yang lain. Berada di tengah-tengah permakaman.

Baca juga: Ogah Pacaran, Marsinah Fokus Bekerja

“Syekh Ihsan adalah penerus pondok nomor dua,” terang KH Busrol Karim A. Mugni, pengasuh Pondok Al Ihsan Jampes.  

Dari silsilahnya, Syekh Ihsan adalah anak kedua pasangan KH Dahlan dan Nyai Artimah. Tokoh yang ketika kecil bernama Bakri ini lahir pada 1901. Dia memiliki 12 saudara. Tiga orang di antaranya adalah saudara satu ayah satu ibu. Sedangkan sembilan yang lain berbeda ibu.

“Pada saat (Syekh Ihsan) berusia lima tahun kedua orang tuanya bercerai,” cerita Kiai Bus-sapaan Busrol Karim.

Setelah orang tuanya bercerai, Bakri dan Dasuki, adiknya, diasuh sang nenek di Jampes. Hanya, meskipun masih di area pondok, keduanya tinggal di rumah yang berbeda. Sementara, anak yang paling kecil, Marzukim tinggal bersama sang ibu, Artimah.

Sejak kecil, Bakri dikenal sebagai anak yang cerdas. Memiliki daya ingat yang kuat dan mengagumkan. Bagi orang-orang, kecerdasan Syekh Ihsan ini tidak mengherankan. Karena sang ayah, KH Dahlan, juga dikenal sebagai kiai yang cerdas.

Ketika beranjak remaja, Bakri mulai menggemari dunia seni dan sastra. Kegemarannya adalah menyaksikan pertunjukan wayang kulit. Nyaris dia tak pernah melewatkan setiap ada pementasan wayang. Meskipun dalang yang tampil masih junior. Karena itulah, sangat wajar bila kemudian Bakri hafal dengan cerita serta penokohan dalam wayang.

Karena menyukai dunia seni dan sastra, Bakri pun berkawan dengan orang dari berbagai latar belakang. Termasuk kenal dengan orang-orang yang suka berjudi. Nah, dalam hal kegiatan yang dilarang agama ini, ternyata Bakri sangat lihai.

Melihat hal tersebut, Nyai Istianah menjadi sangat gelisah. Selain melanggar larangan agama, kegemaran sang cucu bisa mencemarkan nama pondok. Sang nenek pun melakukan berbagai upaya untuk menyadarkan Bakri muda. Salah satunya membawanya berziarah ke makam Mbah Yahuda, suaminya,  di Desa Nogosari, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan.

“Di sana Nyai Istianah berdoa agar cucunya segera sadar dari kesukaan berjudinya,” tutur Kiai Bus.

Beberapa hari setelah pulang dari ziarah kubur itu, Bakri bermimpi didatangi sang kakek. Dengan membawa batu besar yang diarahkan kepadanya. Sang kakek kemudian bertanya kenapa dia tak menghentikan perbuatan tercelanya itu. Dan jika tidak sanggup maka batu itu akan menghancurkan kepalanya.

Masih dalam mimpi, saat itu Bakri menjawab bahwa apa yang dilakukannya merupakan tanggung jawabnya. Tidak ada hubungannya dengan sang kakek. Setelah menjawab seperti itu, batu besar yang dipegang sang kakek langsung menghantam kepala Bakri.

Sontak, Bakri terbangun dari tidurnya. Setelah sadar dia kemudian membaca istighfar. Kemudian menceritakan soal mimpi tersebut kepada sang nenek, ayah, dan ibunya.

“Sejak kejadian tersebut Syekh Ihsan sering berdiam diri. Merenungkan segala sesuatu yang akan dilakukannya,” tutur Kiai Bus. (fud/bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia