Minggu, 29 May 2022
Radar Kediri
Home / Features
icon featured
Features

Lesus Ringinrejo: Menerjang Badai, Sudar Gendong Ibunya yang Stroke

03 Desember 2021, 11: 05: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

Lesus Ringinrejo: Menerjang Badai, Sudar Gendong Ibunya yang Stroke

BERSEDIH: Sudar berjongkok menahan tangis saat menerima bantuan dari rombongan Wabup Mariya Ulfa kemarin. (Iqbal Syahroni - Radar Kediri)

Share this      

Berlangsung hanya sebentar, tapi tiupan angin ini sangat menghancurkan. Ada batang pohon sepanjang 30 meter yang nyangsang di atap.

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Suara gergaji mesin membising dari jalanan di Desa Batuaji. Datang dari sekelompok pria berseragam yang berkumpul di dekat rumah di pinggir jalan. Suara menderu itu dari upaya mereka memotong batang kayu pohon wadang. Yang roboh dan menimpa atap rumah milik Sudar.

Baca juga: Trasing Berkurang, Kasus AIDS Menurun

Pohon itu tumbang saat angin mengobrak-abrik desa itu Rabu (1/12) sore. Hingga kemarin pagi, petugas masih kewalahan memindahkan batang berdiameter satu meter itu dari atap.

“Ini baru setengah jalan,” desah pemilik rumah, yang kemarin berkaos merah.

Sudar belum bisa beristirahat sejak bencana menerjang. Bolak-balik dia masuk rumah. Mencari barang-barang yang masih tertinggal. Ada guratan kesedihan di wajahnya. Terbersit pula perasaan trauma mengingat kejadian itu.

Di kepala lelaki kelahiran 1975 ini, peristiwa mengerikan tersebut masih terekam dengan jelas. Sore itu dia dan kedua orang tuanya-Giman dan Misinem, berada di dalam rumah. Di luar, air hujan terus berjatuhan.

Perasaan lelaki ini sudah tak tenang. Apalagi ketika didengarnya suara ranting dan dahan yang berjatuhan menimpa atap. Ranting dan dahan itu berasal dari pohon wadang yang tumbuh sekitar 10 meter di samping rumah.

Ketika ranting pohon kian banyak menimpa atap, Sudar langsung membawa kedua orang tuanya ke luar. “Lewat belakang karena anginnya terlihat seperti maju-maju ke depan rumah gitu,” ujarnya.

Suara benturan terdengar dari atap. Kali ini suaranya sangat keras. Sudar kian bergegas membawa kedua orang tuanya keluar rumah. Upayanya kian berat karena dia harus menggendong ibunya yang menderita stroke. Mencarikan tempat yang aman bagi keduanya.

“Ibu memang sudah stroke sekitar 5-6 tahun. Ayah juga sudah susah berjalan. Harus tetap hati-hati jika membawa kedua orang tua,” akunya.

Sudar membawa kedua orang tuanya ke gubuk di belakang rumah. Hanya tempat itu yang masih terpikirkan untuk didatangi. Apalagi batang pohon wadang langsung ambruk menutupi pintu depan dan merobohkan hampir separo dinding rumah.

“Saya sudah gak mikir lagi, pokoknya orang tua harus selamat dulu. Ini banyak pohon di sekitar rumah juga pas hujan deras dan angin sudah gak karuan itu,” terangnya.

Saat ini ibu dan ayahnya diungsikan ke rumah kakaknya Karanganyar, Blitar. Sedangkan Sudar tetap tinggal untuk mengurusi rumah. Dia tinggal di gubuk yang menjadi tempatnya mengungsi saat kejadian itu.

Lima ratus meter dari rumah  Sudar, ada Arif Susanto, 31, yang juga mengalami hal serupa. Atap rumahnya, yang masuk wilayah RT 10, hilang separo bagian. Kepalanya pun terluka akibat kejatuhan benda saat kejadian. “Sepertinya tertimpa genteng,” terangnya.

Arif tak tahu persis benda apa yang menimpanya. Saat itu dia tak peduli pada dirinya. Yang dia pikirkan adalah dua anaknya, si sulung dan si bungsu, yang saat kejadian tengah duduk di teras. Begitu mendengar suara pohon patah dia langsung lari menyelamatkan kedua anaknya.

“Saya bawa ke dekat lemari ini. Anak saya dekap dan nggak mikir apa-apa lagi. Kayu, atap, ataupun ranting terus berjatuhan sudah tak saya pikirkan lagi,” kenangnya.

Setelah hujan dan angin mulai reda, Arif bergegas ke seberang rumah. Dia melihat bagian utara rumahnya hancur dilibas angin. Kemudian, disadarinya ada darah mengalir dari dahinya. “Dijahit lima jahitan,” terangnya. (fud)

(rk/syi/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia