Tak mudah menang di School Contest Mobile Legends. Apalagi pesertanya masih berstatus pelajar SMP. Yang harus pandai membagi waktu antara nge-game dan belajar.
“Victory...”. Kata itu diucapkan oleh narator dalam game Mobile Legends. Artinya game telah selesai dan salah satu tim menjadi pemenang.
Kalimat itulah yang samar-samar terdengar di atrium Kediri Town Square (Ketos), tempat berlangsungnya School Contest Mobile Legends. Tenggelam oleh suara pemain tim Gaya Bebas yang lebih menggelegar. Mereka berteriak, berjingkrak-jingkrak, merayakan kemenangan dari pertandingan yang berjalan sengit.
Selang beberapa menit kemudian, mereka menuju ke kursi tim Arpetak Nyell. Tim yang baru saja mereka kalahkan. Berjabat tangan, sembari saling memberi selamat.
“Benar-benar tidak menyangka kami bisa menang dan jadi juara,” terang Raisa Nabil Al Fiza, pemain tim Gaya Bebas.
Selain Fiza, tim ini M. Fahmi Saddat, M. Fajar Ainul, M. Fauzan Dzakwan, Helon Arief, dan Eary Cokro. Saat final, dari tiga game set yang dimainkan, Gaya Bebas menang di dua game set awal.
Di set pertama, kemenangan dilalui dengan kesulitan. Mereka baru bisa menyelesaikan pertandingan di menit ke-29. Dengan perolehan kill yaitu 20 untuk Arpetak Nyell dan 23 kill untuk Gaya Bebas.
Menang di game set pertama membuat Gaya Bebas semakin percaya diri. Di game set kedua, tim ini mampu menang lebih mudah. Menyelesaikan pertandingan di menit ke-17. Dengan perolehan kill yaitu 5 untuk Arpetak Nyell dan 21 kill untuk Gaya Bebas.
Kemenangan tersebut yang lalu membuat Fiza dkk senang. Terlebih mengingat betapa sulitnya perjuangan mereka jelang kompetisi School Contest (SC). Maklum saja, mereka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Artinya mereka tak bisa terus-terusan bermain game.
“Game itu cuman selingan, karena kami ingat jika kewajiban kami adalah belajar,” terangnya.
Mereka harus pintar-pintar dalam mengatur waktu luang. Salah satunya seperti ketika akhir pekan. Di waktu tersebut, para anggota tim sering berkumpul. Tujuannya pun bervariasi. Kadang hanya untuk berlatih atau bahkan mengikuti kompetisi.
“Kami latihannya kadang cuman waktu weekend saja,” pungkasnya.
Terpisah, Afdal Haqi, salah satu tim Arpetak Nyell mengaku cukup sedih dengan capaian mereka di SC Mobile Legends tahun ini. Bagaimana tidak, tim yang beranggotakan Afdal, Aldin Dwiva, Aqsa Pandu, Ardyo Prasetyo, dan Rezky Aditya sebelumnya adalah juara bertahan. Sayang di tahun ini, tim dari SMPN 3 Kota Kediri itu hanya mampu menjadi runner up.
Ada beberapa alasan mengapa Artepak Nyell tak mampu kembali meraih juara. Salah satunya adalah karena tiga anggota tim yang lama sudah masuk ke sekolah menengan atas (SMA). Alhasil permainan dari Artepak Nyell belum nyetel sepenuhnya.
“Tiga pemain inti dari Artepak sudah keluar. Jadi kami mencari anggota tim yang lain,” terang Afdal.
Padahal, sebelum kompetisi, Afdal menyebut jika timnya telah banyak berlatih. Di sela-sela kewajiban belajar, Afdal dkk selalu rutin dalam berlatih. Sayang lamanya waktu mereka untuk berlatih masih saja kurang. Mereka tetap tak mampu mengalahkan Gaya Bebas.
“Tahun depan kami akan kembali untuk meraih juara,” tegasnya sembari mewanti-wanti tim lain untuk siap kalah dari timnya di kompetisi tahun depan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah