Di balik ketegasannya sebagai panglima perang gerilya, sosok Soedirman dikenal sangat religius. Beberapa cerita yang berkembang menggambarkan seperti apa kereligiusan sang pahlawan. Seperti ketika dia hampir tertangkap tentara Belanda. Saat itu Jenderal Soedirman terus membaca wirid. Kemudian menyaru jadi rakyat biasa. Kepasrahan pada Sang Pencipta itu membuatnya lolos dari kepungan tentara penjajah.
Banyak kisah tentang Jenderal Soedirman yang didengar oleh warga lereng Wilis. Dan itu diceritakan lagi dari generasi ke generasi. Bahkan, ada salah satu hutan yang disebut penduduk sebagai Alas Kepung. Karena menjadi tempat pengepungan tentara Belanda terhadap pasukan gerilya tentara Indonesia.
“Kalau melihat lokasinya, Alas Kepung itu berada di rute gerilya Jenderal Soedirman,” terang Sugito, 50, salah seorang perangkat Desa Kalipang, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri.
Kisah pengepungan seperti itu diperkuat oleh penggiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangurungkepi Upaya Madya (Edhum) Kota Kediri Achmad Zainal Fachris. Menurutnya perang fisik kerap terjadi antara pasukan Soedirman dengan Belanda. Ada banyak jembatan yang sengaja dibom untuk menghalau perjalanan Belanda. Peperangan itu membuat tentaranya menyebar. Dan yang ikut dengannya semakin sedikit.
Tentara Belanda yang dilengkapi senjata perang selalu memborbardir kawasan Wilis. Tentara terus diserang dari udara dan darat. “Pak Dirman (Jenderal Soedirman, Red) tahu persis Belanda tidak menguasai medan tempur sehingga taktik gerilya menjadi keputusan untuk bertempur yang dikenal Gerilya Semesta,” ucapnya.
Selepas dari Desa Kalipang, Jenderal Soedirman menuju ke Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Di desa yang terkenal dengan air terjun Roro Kuning itulah sosok Pak Dirman yang religius bisa tergambar dengan baik. Di Desa Bajulan, ada tempat ia mengambil air wudu. Tempatnya salat berada di tepi sungai di atas bebatuan.
Sekarang, petilasan tempat salatnya itu sudah di pagar keliling. Di tempat itu terdapat papan nama bertulis tempat sembahyang Jenderal Soedirman. Editor : Anwar Bahar Basalamah