KABUPATEN, JP Radar Kediri – Letusan konfeti yang dibawa sembilan orang di atas panggung menjadi penanda dimulainya Final Party Beat School Contest XIII di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG) kemarin. Serpihan kertas warna-warni yang keluar dari benda berbentuk tabung itu sontak disusul tepuk tangan meriah dari seluruh pengunjung yang memadati lokasi.
Momen itu sekaligus menjadi awal dari penjurian lomba-lomba dalam Beat SC XIII yang sudah masuk tahap final itu. Seluruh rangkaian kegiatan itu akan berlangsung selama tiga hari. Dengan acara puncak pada Sabtu (29/2).
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Kediri Sujud Winarko berharap Beat SC XIII bisa membantu siswa mengembangkan bidang yang diminati. “Mudah-mudahan SC (school contest, Red) ini menambah pengalaman dan wawasan (bagi siswa). Yang tidak hanya di lingkup dalam sekolah namun juga lingkup sekolah lain,” ujar Sujud, yang kemarin mewakili Bupati Kediri Haryanti.
Usai membuka acara, Sujud kemudian turun panggung. Ditemani Direktur Jawa Pos Radar Kediri Tauhid Wijaya dan Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Munfarid, dia kemudian berkeliling melihat-lihat peserta Perang Mading. Sujud beberapa kali kagum dengan tampilan mading yang dipamerkan peserta.
Perang Mading merupakan salah satu lomba yang paling ditunggu. Tahun ini mengusung tema Reuse, Reduce, dan Reycle Plastic Waste.
“Kalau mading tadi saya lihat anak-anak kita penuh kreasi yang bertema tentang bagaimana menyelamatkan bumi ini dari plastik,” terang Sujud setelah selesai berkeliling.
Sujud mengatakan bahwa dengan tema yang dibawa itu dia berharap anak-anak muda menjadi kader dalam menjaga lingkungan dan kehidupan. Sehingga bisa meminimalisasi munculnya sampah plastik. Sebab, dia mengakui, penggunaan plastik sangat sulit dihilangkan. Namun hal itu dapat diakali dengan cara pengolahan sampah dari plastik tersebut menjadi hal yang bermanfaat.
Salah satu mading yang menarik perhatian adalah milik SMKN Pawyatan Daha 2 Kediri. Mading itu berwujud seekor penyu. Penyu itu digambarkan sedang memakan sampah.
“Alasan kami menggunakan hewan penyu karena hewan laut ini merupakan salah satu yang terancam karena sampah,” terang Ainu Fitri, salah satu kru mading tersebut.
Tidak hanya itu saja, kostum yang dikenakan maskot sekolah ini juga sangat menarik. Tema yang diangkat dalam kostum tersebut juga tentang penyu. Yaitu menggambarkan Putri Penyu.
Bahan untuk kostum itu terbuat dari benda yang dapat didaur ulang. Yang menarik, hiasan yang digunakan juga merupakan bikinan sendiri. Berbahan klay atau malam.
Selain Perang Mading, juga terdapat perlombaan lain di hari pertama kemarin. Di antaranya adalah School Choir Festival. Ada delapan peserta dari SMA dan sederajat yang tampil tadi malam hari di Convention Hall SLG semalam.
Selain Sujud, beberapa pejabat juga hadir dalam pembukaan kemarin. Seperti Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Sujarwo Yohanes dan Kasubag Kepegawaian Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kediri Teguh Wahyudi. Juga hadir Marketing Communication BTL Honda MPM Distributor Jatim Fizky Pramuditya.
Editor : adi nugroho