23.7 C
Kediri
Sunday, December 4, 2022

Menelusuri Jalur Selingkar Wilis Kediri-Nganjuk (73)

Tiga Makam di Puncak Bukit Maskumambang

- Advertisement -

Menjadi salah satu gunung suci di Pulau Jawa, Wilis memiliki beragam legenda. Di Desa Parang, Kecamatan Banyakan, ada makam Pragolopati yang dikenal bangsawan masa Matara- Jogja. Kisah perjalananya di lereng Wilis diabadikan menjadi nama-nama dusun, desa, hingga kecamatan.

Makam Pragolopati itu berada di bukit Desa Parang. Untuk membedakan dengan makam lainnya, pemakaman Pragolopati diberi bangunan lebih tinggi dengan sebutan punden berundak. Posisi makam di tempat ketinggian itu menjadi ciri makam yang diyakini tempat bersemayam orang yang ditokohkan. Bisa pejuang, orang sakti, hingga orang suci.

Ini juga yang ada di lereng Wilis wilayah Kota Kediri. Di sana ada makam Boncolono. Letaknya di atas bukit Maskumambang. Berada satu kompleks dengan lokasi wisata Gua Selomangleng.

Baca Juga :  Pengendara Xenia asal Nganjuk Tabrak gerobak di Mojoroto Hingga hancur

Seperti diutarakan Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri Endah Setyowati, kompleks pemakaman Boncolono jadi tempat wisata religi.

Dari kisah yang berkembang di masyarakat, Boncolono adalah orang sakti yang selalu mendermakan hartanya yang diperoleh dari penjajah Belanda. “Konon harta itu diberikan warga miskin,” ucapnya. Masyarakat menyebutnya sebagai Maling Gentiri.

- Advertisement -

Di areal itu ada tiga makam. Selain Bocolono, ada Eyang Modjoroto dan Eyang Poncolono. Memperkuat cerita Endah tentang Boncolono, Sigit Widiatmoko, pemerhati sejarah dan budaya Kediri, mengatakan bahwa legenda tentang Boncolono punya versi beragam.

Versinya, Boncolono merupakan tokoh dari istana kerajaan. Gambaran ceritanya terjadi setelah perang Jawa. Saat itu, rakyat Jawa benar-benar menyerah terhadap penjajah Belanda. “Sosok Boncolono ini mirip seperti Ratu Adil, yang dielukan dan dinanti oleh rakyat,” ungkapnya.

Baca Juga :  Antusiasme Tinggi, Peserta Mathmaster Lupa Pulang

Boncolono hadir saat rakyat tidak lagi mampu melawan kekuatan Belanda. Karena memiliki kesaktian, Boncolono kerap menjarah harta Belanda yang dikenal korup. “Semua hasil curiannya dibagi-bagi kepada rakyat yang miskin,” kata Dosen Sejarah Universitas Nusantara PGRI Kediri ini.

Tindakannya membuat Belanda kesal. Boncolono diburu lalu dibunuh. Karena sakti dan memiliki ilmu Pancasona, dia tidak mudah ditumpas. Belanda yang merasa gerah atas perbuatannya lalu mencari tahu cara untuk membunuh Boncolono. Caranya adalah setelah mengeksekusi mati, Belanda lalu memisahkan tubuhnya. Yang menjadi pembatas pemisahan tubuh itu adalah sungai Brantas.






Reporter: rekian
- Advertisement -

Menjadi salah satu gunung suci di Pulau Jawa, Wilis memiliki beragam legenda. Di Desa Parang, Kecamatan Banyakan, ada makam Pragolopati yang dikenal bangsawan masa Matara- Jogja. Kisah perjalananya di lereng Wilis diabadikan menjadi nama-nama dusun, desa, hingga kecamatan.

Makam Pragolopati itu berada di bukit Desa Parang. Untuk membedakan dengan makam lainnya, pemakaman Pragolopati diberi bangunan lebih tinggi dengan sebutan punden berundak. Posisi makam di tempat ketinggian itu menjadi ciri makam yang diyakini tempat bersemayam orang yang ditokohkan. Bisa pejuang, orang sakti, hingga orang suci.

Ini juga yang ada di lereng Wilis wilayah Kota Kediri. Di sana ada makam Boncolono. Letaknya di atas bukit Maskumambang. Berada satu kompleks dengan lokasi wisata Gua Selomangleng.

Baca Juga :  Ditutup Tadi Malam, MAN 1 Kota Kediri Juara Umum SC GenZverse 2022

Seperti diutarakan Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri Endah Setyowati, kompleks pemakaman Boncolono jadi tempat wisata religi.

Dari kisah yang berkembang di masyarakat, Boncolono adalah orang sakti yang selalu mendermakan hartanya yang diperoleh dari penjajah Belanda. “Konon harta itu diberikan warga miskin,” ucapnya. Masyarakat menyebutnya sebagai Maling Gentiri.

Di areal itu ada tiga makam. Selain Bocolono, ada Eyang Modjoroto dan Eyang Poncolono. Memperkuat cerita Endah tentang Boncolono, Sigit Widiatmoko, pemerhati sejarah dan budaya Kediri, mengatakan bahwa legenda tentang Boncolono punya versi beragam.

Versinya, Boncolono merupakan tokoh dari istana kerajaan. Gambaran ceritanya terjadi setelah perang Jawa. Saat itu, rakyat Jawa benar-benar menyerah terhadap penjajah Belanda. “Sosok Boncolono ini mirip seperti Ratu Adil, yang dielukan dan dinanti oleh rakyat,” ungkapnya.

Baca Juga :  Jaga Ekosistem dan Selamatkan Sumber Air

Boncolono hadir saat rakyat tidak lagi mampu melawan kekuatan Belanda. Karena memiliki kesaktian, Boncolono kerap menjarah harta Belanda yang dikenal korup. “Semua hasil curiannya dibagi-bagi kepada rakyat yang miskin,” kata Dosen Sejarah Universitas Nusantara PGRI Kediri ini.

Tindakannya membuat Belanda kesal. Boncolono diburu lalu dibunuh. Karena sakti dan memiliki ilmu Pancasona, dia tidak mudah ditumpas. Belanda yang merasa gerah atas perbuatannya lalu mencari tahu cara untuk membunuh Boncolono. Caranya adalah setelah mengeksekusi mati, Belanda lalu memisahkan tubuhnya. Yang menjadi pembatas pemisahan tubuh itu adalah sungai Brantas.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Hapus Diskriminasi terhadap Disabilitas

Bolehkah Artikel Pakai Bahasa Gaul?

Ribuan Pencari Kerja Minati Job Fair  

Babak Satu Ditutup 10 Hari Lagi

Calon Peserta Wajib Membuat Akun SIAKBA

Most Read


Artikel Terbaru

/