JP Radar Kediri - Harga cabai rawit di pasar tradisional terus meroket di beberapa hari terakhir. Tingginya harga tersebut dipicu oleh pasokan yang terus menipis akibat cuaca buruk dan serangan jamur pada tanaman.
Kemarin (9/2), harga cabai rawit berada sudah tembus di angka Rp 77 ribu dan Rp 78 ribu per kilogram.
“Stok sedikit karena tidak ada aktivitas petik. Harganya jadi tinggi. Pasokan ini sementara didatangkan dari Jawa Tengah dan Banyuwangi,” ungkap Pengurus Pasar Induk Bagian Cabai Besar, Henry Aryawan.
Henry menyebutkan, total pasokan di Pasar Induk Pare saat ini mencapai 10-15 ton untuk semua jenis cabai.
Mayoritas stok tersebut didatangkan dari luar daerah lantaran hasil panen di Kabupaten Kediri sendiri sudah menipis.
Penurunan produksi itu disebut karena serangan jamur dan cuaca ekstrem di sentra tanaman cabai kabupaten, seperti di Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu.
“Di kabupaten sekarang hanya tersisa sekitar 25 persen. Jika tidak didatangkan dari luar daerah, harga bisa melonjak lagi sampai Rp100 ribu,” lanjutnya.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, menyatakan bahwa cabai menjadi perhatian utama karena harganya yang sangat fluktuatif dan sering memicu inflasi.
“Kami sudah berdiskusi dengan teman-teman asosiasi dan selanjutnya akan berkoordinasi dengan para pedagang besar. Prediksinya, mudah-mudahan hingga hari raya nanti tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan,” ucap Tutik.
Senada dengan hal tersebut, Henry memperkirakan harga cabai akan mulai turun menjelang Ramadan dan Lebaran.
Hal ini seiring dengan adanya panen susulan dari tanaman cabai yang masa tanamnya lebih akhir di wilayah Kabupaten Kediri.
Editor : Andhika Attar Anindita