Pada tahap awal pengembangan usaha, keterbatasan permodalanmenjadi tantangan utama. Kondisi tersebut membuat petanikerap bergantung pada tengkulak atau bakul setempat, sehinggaposisi tawar petani menjadi lemah, termasuk dalam penentuanharga gabah.
Perubahan mulai dirasakan setelah Syiro memperoleh informasimengenai program KUR dari penyuluh pertanian setempat. Sejak memanfaatkan KUR BRI, usaha pertaniannya dapatberkembang secara bertahap dan berkelanjutan. Selama lebihdari tiga tahun, KUR dimanfaatkan secara rutin pada setiapmusim tanam.
Seiring meningkatnya kapasitas usaha, plafon pembiayaan yang diterima pun terus berkembang, mulai dari Rp8 juta hinggamencapai Rp20 juta. Pembiayaan tersebut dimanfaatkansepenuhnya sebagai modal usaha pertanian, mulai daripengolahan lahan, pengadaan benih dan pupuk, hinggaperawatan tanaman.
Keberadaan KUR menjadi sangat krusial, terutama ketika petanimenghadapi risiko serangan hama dan penyakit tanaman di tengah keterbatasan kondisi keuangan. Dengan dukunganpermodalan yang memadai, kebutuhan produksi dapat tetapterpenuhi sehingga hasil panen dapat terjaga secara optimal.
Dari hasil pertanian tersebut, Syiro mampu menghidupikeluarganya yang terdiri dari seorang istri dan tiga anak, termasuk mendukung pendidikan salah satu anaknya yang saatini tengah menempuh pendidikan di pesantren. Hal inimencerminkan peran KUR BRI yang tidak hanya menjagakeberlanjutan usaha, tetapi juga memberikan dampak langsungterhadap kesejahteraan keluarga petani.
Di sisi lain, keberadaan KUR dinilai memiliki peran pentingdalam mendorong perekonomian petani, seiring dengandukungan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga hasilpanen, termasuk melalui penyerapan gabah oleh Bulog. Ke depan, peningkatan produktivitas pertanian menjadi kunci agar kesejahteraan petani dapat terus ditingkatkan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa KUR merupakan instrumen strategis BRI dalam mendukung sektorusaha mikro dan sektor produktif, termasuk pertanian.
“Melalui KUR, BRI berupaya menghadirkan pembiayaan yang mudah diakses, tepat sasaran, serta berkelanjutan. BRI tidakhanya memberikan akses modal, tetapi juga mendorongpeningkatan kapasitas usaha agar pelaku UMKM, termasukpetani, dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan,” ujar Hery Gunardi.
Baca Juga: Jangan Terlewat, BRI Buka Rekrutmen BFLP Specialist2026 Siapkan Talenta Muda Profesional Masa Depan
Hery menambahkan bahwa BRI terus memperkuat kolaborasidengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintahdaerah, kelompok tani, hingga penyuluh pertanian, guna memastikan penyaluran KUR memberikan dampak ekonomiyang nyata.
Secara kinerja, sepanjang tahun 2025 BRI mencatat penyaluranKUR sebesar Rp178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur di seluruh Indonesia. Lebih dari 60% penyaluran KUR tersebutdialokasikan ke sektor produksi, dengan porsi sektor produksimencapai 64,49% dari total penyaluran.
Sektor pertanian menjadi kontributor utama penyaluran KUR BRI dengan nilai pembiayaan mencapai Rp80,09 triliun atausetara 44,97% dari total KUR BRI sepanjang 2025. Capaiantersebut merefleksikan komitmen BRI dalam memperkuat sektorriil sebagai penggerak utama ekonomi kerakyatan.
Hingga akhir Desember 2025, sekitar 18 dari setiap 100 rumahtangga di Indonesia tercatat telah mengakses fasilitas KUR BRI, meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Secarakumulatif, sejak 2015 hingga akhir 2025, BRI telahmenyalurkan KUR sebesar Rp1.435 triliun kepada sekitar 46,4 juta penerima.
Melalui penyaluran KUR yang dilakukan secara prudent, transparan, dan akuntabel, BRI optimistis dapat terusberkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendorongpertumbuhan ekonomi kerakyatan yang inklusif dan berkelanjutan.
Editor : Anwar Bahar Basalamah