KOTA, JP Radar Kediri– Inflasi cenderung meningkat saat ada momen seperti Hari Raya Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru. Biasanya harga-harga pangan akan mengalami kenaikan. Seperti beras, daging ayam, telur, cabai, dan sebagainya.
Kenaikan harga itu dianggap wajar. Karena disebabkan permintaan yang tinggi. Layaknya hukum permintaan dan penawaran. Agar kenaikan harga tidak berlebihan maka perlu ada peran pemerintah. Tugasnya untuk mengendalikan harga. Jangan sampai harga yang terlampau tinggi mencekik masyarakat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw) BI Kediri Yayat Cadarajat menerangkan, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk pengendalian inflasi jangka panjang. Salah satunya adalah integrasi monitoring harga dan pasokan. Dan tak kalah penting adalah penguatan kelembagaan.
Saat barang seperti beras dan daging ayam surplus. Tapi tidak tahu barangnya itu mengalir kemana. “Kita tidak punya neraca pangan,” terangnya.
Menurutnya, pemerintah daerah tidak memiliki lumbung pangan. Sehingga ketersediaan pasokan selalu menjadi persoalan tersendiri. Terutama saat situasi tidak menentu. Misalnya ketika musim hujan atau memasuki momen hari raya nasional. Petani yang notabene produsen bahan pangan turut merasakan inflasi pangan.
Saat harga gabah Rp 6,5 ribu, petani menjual semua gabahnya tanpa disimpan. Begitu membutuhkan beras untuk dimakan, mereka beli dengan harga Rp 13 ribu atau Rp 14 ribu. “Ujung-ujungnya ketika harga naik, petani juga ikut terpapar risiko kenaikan karena mereka tidak menyimpan,” ungkapnya.
Dia melihat bahwa penguatan kelembagaan sangatlah penting. Kelembagaan itu sendiri bisa diwujudkan dalam bentuk koperasi. Gambarannya, petani masih bisa mendapatkan sisa hasil usaha (SHU) dari hasil penjualan beras yang dilakukan koperasi. Sehingga, ada keuntungan yang dirasakan petani dari penjualan beras. Di samping itu, adanya koperasi juga akan membuat rantai pasok menjadi lebih efisien.
“Koperasi bisa menjadi offtaker dari petani-petani dan dia juga bisa mengolah menjadi beras dan menjual hasil berasnya. Itu kan akan menguntungkan ke petani, kesejahteraan meningkat. Jadi kalau berkelompok, daya tawarnya menjadi tinggi,” terangnya.
Jika melihat inflasi secara year on year (yoy), bahan pangan memang masih menjadi penyumbang inflasi di November lalu. Andilnya pun bervariasi. Untuk beras sebesar 0,28 persen, cabai merah 0,16 persen, telur ayam 0,12 persen, dan minyak goreng 0,10 persen.
“Memang di sisi volatile food, harga pangan masih di atas lima persen. Harapannya kami memang untuk terkendalinya inflasi secara umum ya alangkah baiknya di bawah lima persen untuk volatile food-nya,” jelas Yayat.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian