Menurut Supri, 35, petani Turus, stok berkurang sejak sebulan sebelumnya. Ia hanya dapat satu sak pupuk subsidi. Padahal selama satu musim tanam jagung menghabiskan 150 kilogram (kg) Urea. Tanaman jagung dipupuk tiga kali satu musim.
“Sekali pemupukan menghabiskan satu sak (50 kg) rabuk (pupuk). Rata-rata petani di sini begitu,” ujarnya.
Jumlah ini jauh dari cukup untuk lahan tanamnya seluas 250 ru. Untuk menghindari gagal panen, Supri terpaksa membeli pupuk non subsidi. Harganya Rp 300 ribu per sak. “Kalau tidak dipupuk kan bisa gagal panen. Tanaman rusak,” imbuh Supri sambil menyemprot tanamannya.
Luas lahan petani, lanjut Supri, rata-rata 250 ru. Mereka juga mengeluhkan hal yang sama. Terutama minimnya ketersediaan pupuk subsidi. “Petani di sini ngelu (pusing) kurangnya pupuk. Bahkan ada yang tidak dapat,” ungkapnya.
Supri mengharapkan, pemerintah segera memperhatikan soal ini agar tidak berlarut-larut. Senada dengannya, Munir, petani Turus, mengakui, minimnya pupuk subsidi yang didapat petani. Petani 48 tahun itu berharap dapat bantuan pupuk subsidi. Dia khawatir tanaman jagungnya rusak. “Saya tidak bisa memprediksi ini gagal atau tidak,” tukasnya.
Jagung yang ditanam akan panen dua bulan depan dan dipupuk satu kali lagi. Munir membeli pupuk non subsidi lebih dari Rp 300 ribu. “Petani di sini pada ngeluh semua, minimal tiga sak pupuk subsidi baru cukup,” bebernya. (c1/ndr) Editor : Anwar Bahar Basalamah