22.3 C
Kediri
Sunday, May 28, 2023

Harga Gabah Turun, Petani Kabupaten Kediri Ketar-ketir

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Sejumlah petani di Kabupaten Kediri mulai ketar-ketir. Sebab, memasuki panen raya Maret ini harga gabah mulai turun. Jika di musim panen sebelumnya masih mencapai Rp 6.200 per kilogram (kg), kemarin tinggal 5.500 per kg. Mereka khawatir harga akan terus terjun bebas pada saat puncak panen raya minggu ke tiga bulan ini.

Seperti diungkapkan oleh Katijan, 47. Petani di Desa/Kecamatan Mojo ini tidak hanya mengeluhkan harga gabahnya yang turun. Melainkan juga produktivitas tanaman yang anjlok karena padinya ambruk tersapu angin dan hujan deras. “Seperempat hektare biasanya bisa sampai 1 ton gabah, ini hanya seperempat saja,” katanya.

Di saat yang sama, gabah panenannya juga hanya dibeli Rp 5.500 per kg. Sehingga, dia tidak bisa mendapat untung seperti panenan empat bulan lalu. “Sekarang (kemarin, Red) nggak untung karena pupuk juga sulit dan mahal,” keluh pria yang hanya mendapat 1,3 kuintal pupuk bersubsidi setiap tahun itu. Padahal, kebutuhan pupuknya hingga tiga kuintal untuk tiga kali masa tanam padi.

Terpisah, Mustofa, pemilik penggilingan padi di Desa Branggahan, Ngadiluwih juga membenarkan tentang turunnya harga gabah. Harga gabah basah yang sebelumnya Rp 6.100, kemarin menjadi Rp 4.500 per kilogram. Dia mensinyalir penurunan harga itu tak lepas dari rencana impor beras oleh pemerintah pusat. “Secara tidak langsung itu juga mematikan petani,” sesalnya sembari menyebut stok gabah sekarang naik hingga 40 persen, dan harganya turun sekitar 30 persen.

Baca Juga :  Langka, Dua Pasar Kosong Garam

Mengamini temannya, Samsun, tengkulak beras di Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri yang sedang menggiling padi di rumah Mustofa juga mengeluh mulai kesulitan menjual beras. Sebab, saat ini stoknya melimpah di pasaran.

“Di mana-mana saya tawarkan, jawabannya selalu masih banyak berasnya,” bebernya sembari menyebut dirinya mendapat harga gabah yang beragam dari petani. Misalnya, untuk gabah yang belum bersih dibanderol Rp 3.900 per kg. Sedangkan gabah kering masih di atas Rp 5 ribu per kg.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kediri M. Solikin mengungkapkan, Pemkab Kediri sudah berupaya menstabilkan harga untuk mengerem laju penurunan harga gabah di Kabupaten Kediri saat puncak panen raya. “Kami sudah menginstruksikan disdag (dinas perdagangan, Red) dan DKPP (dinas ketahanan pangan dan peternakan, Red) melakukan stabilisasi,” katanya.

Intervensi apa yang bisa dilakukan ke pasar? Menurut Solikin, salah satu yang bisa dilakukan pemkab adalah meminta Bulog Subdivre V Kediri mempercepat pembelian gabah ke petani. Sehingga, panenan yang melimpah bisa terserap maksimal. ‘Dengan begitu harganya tidak akan terlalu jatuh nanti,” terangnya.

Baca Juga :  Balada Sopir sing Seneng Mampir

Untuk diketahui, saat puncak panen raya biasanya harga gabah anjlok hingga Rp 4.000 per kg. Penurunan harga yang membuat petani merugi inilah yang diantisipasi oleh Pemkab Kediri agar tak terjadi di tahun ini.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Anang Widodo melalui Kabid Pengelolaan Pangan Rini Pudyastuti menyebut, meski harga gabah mulai turun dibanding musim panen sebelumnya, menurut Rini minggu ini justru harga gabah malah naik. “Sebelumnya sempat mencapai Rp 4.200 per kg, hari ini (kemarin, Red) Rp 5.300 per kg. Di Purwoasri malah Rp 5.400 per kg,” kata Rini yang kemarin memantau harga gabah di Purwoasri.

Diakui Rini, Maret ini sudah memasuki musim panen raya. Dia memprediksi puncak panen raya akan terjadi pada minggu kedua Maret ini. “Luas tanaman padi di Kabupaten Kediri sekitar 14 ribu hektare,” jelasnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Kediri”. Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Sejumlah petani di Kabupaten Kediri mulai ketar-ketir. Sebab, memasuki panen raya Maret ini harga gabah mulai turun. Jika di musim panen sebelumnya masih mencapai Rp 6.200 per kilogram (kg), kemarin tinggal 5.500 per kg. Mereka khawatir harga akan terus terjun bebas pada saat puncak panen raya minggu ke tiga bulan ini.

Seperti diungkapkan oleh Katijan, 47. Petani di Desa/Kecamatan Mojo ini tidak hanya mengeluhkan harga gabahnya yang turun. Melainkan juga produktivitas tanaman yang anjlok karena padinya ambruk tersapu angin dan hujan deras. “Seperempat hektare biasanya bisa sampai 1 ton gabah, ini hanya seperempat saja,” katanya.

Di saat yang sama, gabah panenannya juga hanya dibeli Rp 5.500 per kg. Sehingga, dia tidak bisa mendapat untung seperti panenan empat bulan lalu. “Sekarang (kemarin, Red) nggak untung karena pupuk juga sulit dan mahal,” keluh pria yang hanya mendapat 1,3 kuintal pupuk bersubsidi setiap tahun itu. Padahal, kebutuhan pupuknya hingga tiga kuintal untuk tiga kali masa tanam padi.

Terpisah, Mustofa, pemilik penggilingan padi di Desa Branggahan, Ngadiluwih juga membenarkan tentang turunnya harga gabah. Harga gabah basah yang sebelumnya Rp 6.100, kemarin menjadi Rp 4.500 per kilogram. Dia mensinyalir penurunan harga itu tak lepas dari rencana impor beras oleh pemerintah pusat. “Secara tidak langsung itu juga mematikan petani,” sesalnya sembari menyebut stok gabah sekarang naik hingga 40 persen, dan harganya turun sekitar 30 persen.

Baca Juga :  Maling Kentir, Montore Dilukir

Mengamini temannya, Samsun, tengkulak beras di Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri yang sedang menggiling padi di rumah Mustofa juga mengeluh mulai kesulitan menjual beras. Sebab, saat ini stoknya melimpah di pasaran.

“Di mana-mana saya tawarkan, jawabannya selalu masih banyak berasnya,” bebernya sembari menyebut dirinya mendapat harga gabah yang beragam dari petani. Misalnya, untuk gabah yang belum bersih dibanderol Rp 3.900 per kg. Sedangkan gabah kering masih di atas Rp 5 ribu per kg.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kediri M. Solikin mengungkapkan, Pemkab Kediri sudah berupaya menstabilkan harga untuk mengerem laju penurunan harga gabah di Kabupaten Kediri saat puncak panen raya. “Kami sudah menginstruksikan disdag (dinas perdagangan, Red) dan DKPP (dinas ketahanan pangan dan peternakan, Red) melakukan stabilisasi,” katanya.

Intervensi apa yang bisa dilakukan ke pasar? Menurut Solikin, salah satu yang bisa dilakukan pemkab adalah meminta Bulog Subdivre V Kediri mempercepat pembelian gabah ke petani. Sehingga, panenan yang melimpah bisa terserap maksimal. ‘Dengan begitu harganya tidak akan terlalu jatuh nanti,” terangnya.

Baca Juga :  Macan Putih Punya Kesempatan Besar ke Papan Tengah

Untuk diketahui, saat puncak panen raya biasanya harga gabah anjlok hingga Rp 4.000 per kg. Penurunan harga yang membuat petani merugi inilah yang diantisipasi oleh Pemkab Kediri agar tak terjadi di tahun ini.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Anang Widodo melalui Kabid Pengelolaan Pangan Rini Pudyastuti menyebut, meski harga gabah mulai turun dibanding musim panen sebelumnya, menurut Rini minggu ini justru harga gabah malah naik. “Sebelumnya sempat mencapai Rp 4.200 per kg, hari ini (kemarin, Red) Rp 5.300 per kg. Di Purwoasri malah Rp 5.400 per kg,” kata Rini yang kemarin memantau harga gabah di Purwoasri.

Diakui Rini, Maret ini sudah memasuki musim panen raya. Dia memprediksi puncak panen raya akan terjadi pada minggu kedua Maret ini. “Luas tanaman padi di Kabupaten Kediri sekitar 14 ribu hektare,” jelasnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Kediri”. Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/