Selasa, 26 Oct 2021
Radar Kediri
Home / Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Kota Kediri Alami Deflasi Empat Bulan Berturut-turut

06 Oktober 2021, 11: 01: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

Kota Kediri Alami Deflasi Empat Bulan Berturut-turut

Ilustrasi Deflasi (Afrizal - Radar Kediri)

Share this      

KOTA, JP Radar Kediri – Rekor deflasi dicatat Kota Kediri. Empat bulan berturut-turut kota ini mengalami kondisi yang disebabkan penurunan harga-harga barang dan jasa ini. Terbaru, angka deflasi September lalu adalah 0,9 persen. Meningkat bila dibandingkan bulan sebelumnya ketika deflasi di angka 0,8.

Kondisi seperti ini harus diwaspadai. Terutama dampak ikutan yang akan menyertainya. Deflasi yang berkelanjutan seperti ini bakal menjadi ancaman bagi masyarakat. Terutama munculnya pengangguran baru akibat pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Kondisi ini akan semakin menurunkan daya beli masyarakat,” ujar pengamat ekonomi Subagyo mengingatkan.

Baca juga: Hari Statistik di Kediri: Harus Jujur Menggambarkan Kondisi Masyarakat

Menurut dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini, dampak buruk deflasi adalah terjadinya PHK. Secara tidak langsung akan mengakibatkan meningkatnya angka pengangguran. Juga, berpotensi pada terjadinya kredit macet akibat debitur yang kesulitan keuangan.

Subagyo mengakui, kondisi ekonomi seperti ini memang tak hanya terjadi di Kota Kediri. Di Jatim sendiri beberapa kota juga mengalami deflasi. Penyebabnya adalah penawaran barang yang lebih banyak dibandingkan permintaan. Sedikitnya penawaran itu akibat daya beli masyarakat yang turun.

Salah satu faktornya adalah pandemi Covid-19 yang berujung pada kebijakan PPKM hingga saat ini.

Meskipun juga terjadi di kota lain, Pemkot Kediri harus memiliki langkah-langkah konkrit untuk menggerakkan sektor perekonomian. Subagyo merasa upaya ini harus lebih digencarkan lagi. Terlebih sekarang Kota Kediri sudah masuk di level 2 dalam PPKM. Sehingga ada peluang untuk memacu ekonomi masyarakat. Terutama bagi pelaku UMKM.

Pendampingan bagi pelaku UMKM itu bisa dari sisi produksi dan pemasaran. Tentu, pemerintah tak harus bekerja sendiri. Mereka bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi dan perbankan.

Sementara itu, angka deflasi yang terjadi di Kota Kediri sebagian besar disebabkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Cabai misalnya, menjadi komoditas penyumbang deflasi sebesar 36,43 persen.

“Harga cabai ini sulit dikontrol dan cenderung turun (saat ini),” kata Kasi Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Adi Wijaya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, meskipun mengalami deflasi selama empat bulan namun secara kumulatif, mulai Januari hingga September, Kota Kediri juga mencatatkan deflasi. Angkanya mencapai 0,47 persen. Hal inilah yang membuat kekhawatiran tersendiri. Terutama bila tak ada tanda-tanda berganti ke inflasi satu persen.

Menurut Adi, kegairahan ekonomi indikasi awalnya akan ditunjukkan dengan terjadinya inflasi. “Jika terjadi deflasi berkali-kali, merupakan tanda perekonomian di sebuah kota itu lesu,” ingat Adi.

Lelaki ini menambahkan, deflasi yang terjadi berturut-turut, apalagi hingga empat kali, harus diwaspadai. Karena merupakan sinyal serius dan harus mendapat penanganan dengan serius pula. Bila tidak maka akan terjebak dalam kondisi resesi.

Bagaimana dengan bulan ini? Menurutnya, ada harapan Kota Kediri bisa lepas dari deflasi. Setidaknya bila dilihat perkembangan PPKM yang positif. Saat ini Kota Kediri berada di level 2. Bila nanti bisa masuk ke level 1 akan membuat kondisi perekonomian kembali normal.

Namun, pemerintah juga harus tetap mewaspadai beberapa hal yang bisa menyulitkan lagi. Yaitu masih berlangsungnya PPKM level 2 yang bisa berimbas pada penurunan daya beli. Juga pada kegagalan panen akibat pengaruh iklim. (ara/fud)

Dampak Ikutan Deflasi di Kota Kediri

-         Terjadinya PHK karena industri tak berjalan semestinya. Harga yang rendah dan sedikitnya permintaan menjadi salah satu sebabnya.

-         Kemampuan masyarakat melunasi kredit juga rendah. Ini berpotensi munculnya kredit macet.

-         Deflasi empat kali berturut-turut merupakan sinyal negatif. Bisa menyebabkan resesi ekonomi.

 

(rk/ara/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia