KEDIRI, JP Radar Kediri- Kerukunan umat tri dharma dengan penganut agama lain tak hanya terlihat di perayaan Imlek saja. Semangat toleransi ini, jadi salah satu tolok ukur yang menjadikan Kelurahan Pakelan dinobatkan sebagai Kampung Pancasila. Keberagaman menjadi potensi yang akan dikembangkan untuk mendongkrak pengembangan ekonomi berbasis toleransi.
Camat Kota Agus Suhariyanto mengatakan, pengembangan ekonomi di kawasan pecinan sudah diawali dengan Kopinang. Agus menilai, pasar tematik setiap Sabtu pagi itu sebagai embrio awal pengembangan kawasan berbasis komunitas.
“Dari situ mulai diikuti pelaku usaha, masyarakat, maupun pemuda-pemudi atau komunitas dalam bentuk apapun untuk bergabung di Kopinang,” ungkapnya.
Ke depan, pemerintah daerah akan terus menggali potensi-potensi yang bisa dikembangkan. Untuk mendukung Pariwisata Kota Kediri, menurutnya pengembangan tidak semata-mata hanya bisa dilakukan dengan menghadirkan bentuk wisata konvensional.
Melainkan aspek ekonomi, sosial, dan budaya yang juga perlu dikembangkan.
Khusus untuk kawasan Pecinan, Agus mengaku terinspirasi dengan kemampuan Jogjakarta dalam menghadirkan atraksi wisata yang menasional, seperti Gerebek Sura.
“Istilahnya Gerebek Kutho. Ini lagi proses aktivasi dengan teman-teman Karang Taruna dan komunitas,” bebernya sambil menyebut, kawasan Kelenteng Tjoe Hwie Kiong juga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu objek wisata religi sekaligus edukasi bagi masyarakat.
Namun, diakuinya kelenteng berusia lebih dari 200 tahun itu perlu sentuhan perbaikan. Untuk menunjang wisata religi, perlu dilakukan pengelolaan agar aksesnya lebih mudah dijangkau, termasuk oleh pelajar. Pun agar terhubung dengan objek lainnya di kawasan pusaka Kelurahan Pakelan.
Baca Juga: Lipsus Kopinang 2: Jadi Identitas Baru Pecinan Kota Kediri, Pertahankan Konsep Slow Morning Market
“Walaupun tempatnya sederhana, masih orisinil, tapi bisa istilahnya (wisatawan) kami ubengne mampir ke kelenteng,” tandas Agus.
Demi merealisasikannya, menurut Agus pemerintah kecamatan sedang menyusun peta jalan . Tujuannya agar kawasan-kawasan warisan budaya itu bisa lebih terkoneksi.
“ Action -nya nanti pelan-pelan dan sebagian dikomandani oleh teman-teman anak-anak muda,” sambungnya.
Di Kelurahan Pakelan atau kawasan pecinan, menurutnya tidak hanya kelenteng saja yang bisa dikembangkan. Melainkan ada potensi lain yang belum tergali. Di antaranya, banyak sumber daya di bidang kuliner seperti chef atau koki di Jl Trunojoyo.
"Nanti bisa kami tampung seperti semacam Kayutangan kalau di Malang. Jadi konsepnya ke kuliner. Karena kalau dilihat kontur gangnya juga asik di situ (untuk pengembangan kuliner, Red)," beber Agus.
Harapannya, potensi itu bisa segera diangkat dan direalisasikan untuk mendongkrak ekonomi setempat. Rencananya, pembahasan akan mulai dilakukan dalam waktu dekat.
“Insya Allah dalam waktu dekat. Mungkin habis Lebaran mulai kami rencanakan,” tandasnya.
Editor : rekian