Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kafe Menjamur, Kediri Jadi ‘Medan Tempur’ Brand Kopi Lokal dan Nasional

Emilia Susanti • Selasa, 6 Januari 2026 | 21:49 WIB
Ilustrasi budaya
Ilustrasi budaya

Hobi nongkrong dan ngopi warga Kediri Raya jadi pangsa pasar bagi kafe-kafe dan gerai kopi. Bahkan, brand-brand besar turut melakukan ekspansi di Kota Tahu. Masyarakat rela merogoh koceknya dalam-dalam demi bisa eksis di sana.

Hampir di setiap sudut Kota Kediri ada kafe atau tempat ngopi. Brand-brand besar juga terus bermunculan. Di Jl Diponegoro ada Starbucks. Berjarak kurang dari 200 meter dari sana kini ada Cold and Brew yang juga di Jl Diponegoro.

Bergeser sedikit ke timur, ada Excelso yang menempati salah satu stand di Kediri Town Square. Kemudian, di Jalan Hayam Wuruk ada kafe Calf, Kopi Kenangan, dan FORE. Selain brand-brand kopi itu, masih ada Tomoro coffee yang memiliki dua gerai. Yaitu di Jalan Jaksa Agung Suprapto dan Joyoboyo.

Selain brand-brand besar itu, masih banyak kafe-kafe lain yang juga membuka gerai di kota dengan tiga kecamatan itu. Mereka Adalah kafe-kafe lokal, namun harganya tidak jauh berbeda. Mulai Alinea, Awor, Parkir Depan, dan banyak lainnya.

Selebihnya, tidak sulit untuk menemukan tempat ngopi yang tersebar hingga ke gang-gang kampung. Setiap sore hingga malam, tempat-tempat ngopi itu penuh pengunjung.

Aisah Shinta Bella, 25, salah satu content creator di Kota Kediri mengaku sering pergi ke kafe ketika mendapat ajakan teman. Sering merasa tidak enak jika tak pergi, Perempuan yang akrab disapa Shinta ini relatif sering ngopi di beberapa kafe.

"Biasanya tetap tak ikuti (ajakan teman, Red) karena aku nggak bisaan. Cuma tetap tergantung sikon (situasi dan kondisi, Red)," ungkapnya.

Selebihnya, dia mengaku sering ngafe sekaligus untuk bekerja atau membuat content. Setiap kali ngafe, Shinta menghabiskan minimal Rp 25 ribu untuk minum saja, Jika menambah makan, dirinya harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi. Yakni hingga Rp 50 ribu.

“Aku nggak FOMO sama kafe baru. Kalau sekiranya pengen nongkrong dan cocok sama menu dan harganya, ya ke situ. Jadi nggak yang ada kafe baru harus ke situ itu enggak," aku Shinta bersyukur kantongnya masih cukup untuk membiayai hobi ngopinya itu.

Senada dengan Shinta, Nikita, 28, juga mengaku akan pergi ngafe jika mendapat ajakan teman. Apalagi, teman-temannya tergolong suka mencoba kafe-kafe baru.

Selain ngopi, biasanya mereka asyik berfoto di salah satu kafe baru di Kota Kediri. "Aku sebenarnya nggak berani coba-coba (ke kafe baru, Red). Bukan aku yang excited, tetapi teman yang ngajak," tuturnya.

Dalam seminggu minimal dia nongkrong hingga dua kali. “Minimal Rp 50 ribu setiap kali nongkrong,” lanjutnya sambil tersenyum simpul.

Terpisah, psikolog Vivi Rosdiana menilai kegiatan ngafe bersama teman ataupun dilakukan seorang diri bukan hal yang sepenuhnya buruk. Bagi sebagian orang, aktivitas ngafe juga bisa menjadi cara untuk melepas kepenatan. Misalnya kepenatan dari pekerjaan ataupun rutinitas sehari-hari.

"Kalau kemudian memang menjadi gaya hidup dan dia enjoy, enjoy dalam artian semuanya bisa dia cukupi dan hanya dengan ngafe itulah dia bisa merilis kepenatannya, itu bagus," beber perempuan yang akrab disapa Vivi itu.

Dari sisi psikologis, menurut Vivi ngafe bisa menstimulus otak kanan. Aktivitas ngafe itu bisa disamakan dengan healing. Dalam hal ini bisa memberikan dampak positif untuk seseorang.

"Yang dimaksud otak kanan itu adalah sesuatu hal yang kita senangi. Dengan kata lain hobi. Nggak ada paksaan. Jadi kalau memang tujuannya untuk membuat rileks, untuk menghilangkan penat, artinya jadi positif," terangnya.

Aktivitas ngafe, lanjut Vivi, bisa jadi masalah Ketika seseorang itu merasa terpaksa. Termasuk jika paksaan datang dari komunitasnya. Rasa terpaksa itu yang akan menimbulkan ketidaknyamanan.

"Itu yang kemudian menjadi kurang baik," lanjut Vivi.

Hobi ngafe, terang Vivi, juga bisa menjadi petaka jika keuangan mereka tidak mendukung. Tidak menutup kemungkinan, seseorang akan melakukan hal buruk ataupun kejahatan demi bisa mengikuti gaya hidup ngafe.

Karenanya, Vivi menekankan pentingnya kepekaan dan empati dari komunitas kepada setiap anggotanya. Salah satunya dari aspek ekonomi.

"Kepekaan semua anggota kelompok dan keberanian individu yang ada troubel dari aspek manapun untuk menyampaikan. Karena kalau tidak, dari aspek psikologis, orang-orang yang tidak bisa menyampaikan, komunikasinya terhambat karena faktor tidak enak. Sehingga ini menjadi masalah," tekannya. (emilia Susanti/ut)

Editor : rekian
#kafe #gerai kopi #nongkrong kediri #ngopi kediri #nongkrong #Budaya Ngopi