KEDIRI, JP Radar Kediri - Peneliti senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menyebut permintaan ayam potong dan telur tidak menjadi pemicu utama kenaikan harga daging dan telur ayam. Melainkan kenaikan biaya produksi yang jadi penentu harga.
“MBG ini jangkauannya belum luas. Jadi kenaikannya di tingkat lokal saja. Kalau yang naik harganya nasional, berarti bukan hanya karena MBG aja,” ujarnya.
Komponen terbesar dalam biaya produksi ayam potong menurutnya adalah pakan dan day old chick (DOC). Andik pakan ayam sekitar 60 persen. Karenanya, dia menilai kenaikan harga ayam potong karena harga jagung yang naik. Apalagi, dari komposisi pakan, kebutuhan jagung mencapai 50 persen.
Karenanya, begitu harga jagung naik, otomatis harga ayam potong dan telur ikut naik. Sejak Oktober lalu harga jagung menyentuh Rp 6.400 per kilogram. “Ketika harga jagung pakan naik maka menambah cost (biaya produksi, Red),” terangnya.
Kenaikan harga jagung, lanjut Eliza, salah satunya karena penghentian impor jagung oleh pemerintah. Kebijakan itu diberlakukan untuk mengoptimalkan produksi di dalam negeri. Akibatnya, peternak harus membeli jagung dengan harga yang relatih mahal.
“Jadi kenaikan telur dan ayam ini karena faktor cost push inflation atau biaya produksi akibat bahan baku pakan dan deman pull atau program MBG di beberapa wilayah,” paparnya.
Selebihnya, Eliza menilai adanya mekanisme pasar yang tidak sehat atau cenderung oligopolistik. Ada pemain besar yang mendominasi. Pabrik pakan skala besar akan menyerap sebagian besar jagung lokal untuk mengamankan operasi di pabrik mereka.
“Misalnya, daerah sentra produksi jagung itu sebagian besar produksi telah dikuasi oleh pedagang besar untuk pabrik pakan besar. Akhirnya peternak mandiri akan kesulitan beli. Kalaupun ada harganya relatif mahal. Jadinya berpengaruh ke harga akhir,” jelentrehnya.
Terpisah, pengamat ekonomi Subagyo meminta agar ada diversifikasi menu MBG. Sehingga tidak hanya bergantung pada daging dan telur ayam.
Pemerintah daerah menurut Subagyo juga harus membuat perencanaan strategis. Misalnya, bekerjasama dengan para peternak untuk meningkatkan kapasitas produksi.
“Mungkin ada penguatan bibitnya, kemudian peningkatan teknologi peternakannya, bagaimana mengelola pakan yang efisien. Ini penting sekali, termasuk bantuan permodalan,” terangnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian