Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tren Fun Race yang Kini Digemari Remaja Kediri! Safety Nomor Dua, Konten Yang Utama

Hilda Nurmala Risani • Senin, 15 September 2025 | 19:03 WIB
Photo
Photo

Media sosial menjadi ajang pamer apapun. Termasuk tren remaja yang berlomba-lomba membuat konten atraksi di sepeda motor yang cenderung mengabaikan keselamatan diri.

“Awal kenal dunia seperti ini (dunia motor, Red) dari teman nongkrong. Senang saja buat konten biar kelihatan keren,” ungkap Dja, pemuda asal Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri itu. 

Ya, dia merupakan satu di antara belasan remaja yang terlihat enjoy memainkan sepeda motornya sebelum memulai start di traffic light Jl Semeru. Mendengar deru suara knalpot yang sangat kencang, senyum beberapa kali tersungging di bibir Dja. Kebisingan pada Sabtu (30/8) dini hari lalu itu memang memberi sensasi yang menggembirakan bagi mereka.

          Meski aksi Dja dan belasan pemuda lainnya menimbulkan kebisingan saat warga lain sedang lelap tertidur, agaknya mereka tetap tak risau. Pun terkait ancaman razia polisi. Dengan gerombolan yang lebih dari 10 orang, mereka terlihat pede melakukan aksinya. “Saya suka tantangan. Nyali saya lebih besar dibanding rasa takut ditilang,” kata pemuda berusia 17 tahun itu dengan entengnya.

          Dja dan belasan pemuda yang malam itu melakukan balap liar atau yang kini mereka sebut fun race, bukanlah teman sekolah. Mereka saling kenal karena sering ngopi bareng. Berawal dari hobi memodifikasi motor, para pemuda itu tertarik untuk menggelar race di trek yang besar dan lurus.

          Saat gas motor sudah digeber, yang ada di benak mereka hanya senang. Puas. Gembira. Tidak peduli keselamatan orang lain yang dini hari itu bisa saja melintas di sana dan membahayakan mereka.

          Yang terpenting, mereka melakukan balapan dan merekam aksinya. Selanjutnya, video balapan itu jadi konten di Instagram dan TikTok masing-masing.

          Selain di Jl Semeru, ada beberapa ‘trek’ di Kota Kediri yang disukai mereka. Misalnya, di traffic light ujung barat Jl Brawijaya hingga Jl Wakhid Hasyim. “Nanti di Jalan Semeru kami memulai start lagi. Yang bagus dibuat konten ya di sini (Jl Semeru, Red) jalan lebar dan luas,” bebernya.

          Jika balapan liar lainnya memasang uang taruhan, fun race yang rutin mereka lakukan itu tidak menyertakan uang. Melainkan murni balapan untuk membuat konten. Sekaligus menguji hasil modifikasi motornya.

Banyaknya like dan komentar orang-orang di media sosial menjadi ‘bonus’. Hal itu membuat mereka semakin senang untuk merekam aksi-aksi balapan lainnya, dan diunggah di medsos. Sebaliknya, jika respons minim, mereka akan mencari kekurangan hasil modifikasi motornya.

          Bagaimana cara mereka mengumpulkan teman-teman mereka untuk berkumpul dan balapan? rupanya Dja dan kelompoknya memiliki kode khusus. Yakni, cukup dengan menulis “Info jam 1.00  jalan lurus” atau cukup menulis “Bulak kalang” saja. Sebutan bulak kalang sebagai pengganti kata jalan lurus itu hanya dimengerti oleh orang-orang yang memang senang balapan.

          Bahkan, mereka juga sudah membuat kesepakatan jika ternyata ada razia dadakan. “Kalau keobyak (kena razia) polisi ya mencar dulu. Nanti ketemu lagi di titik yang sudah disepakati sebelumnya,” urainya.

          Terpisah, Rus, 23, menyebut balap liar, trek-trekan, atau blayer-blayer, dan istilah lain yang sedang marak ini bagian dari hobi para remaja. Seperti halnya Dja, dia mengenal trek-trekan dari kegemarannya memodifikasi motor hingga akhirnya menjadi joki.

“Kalau pengalaman saya kenal dunia motor dari kakak dan teman ngopi. Awalnya coba-coba, ternyata tertarik untuk gabung bengkel,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

          Di satu bengkel biasanya memang ada belasan pemilik motor. Jika Dja dan teman-temannya tidak memasang taruhan, Rus biasa mengumpulkan uang untuk taruhan. Tiap orang biasanya iuran Rp 100 ribu, hingga terkumpul Rp 1,5 juta. “Sekarang saya lihat memang hanya untuk kesenangan saja,” beber pria asal Banyakan yang sudah pensiun balapan sejak lima tahun lalu itu.

          Jika saat ini Jl Semeru menjadi trek favorit, aksi balap liar oleh kelompok lain biasa digelar di perempatan Jl Hayam Wuruk, Jl Perintis Kemerdekaan, hingga di Jl Brigjen Katamso. “Sudah beberapa tahun terakhir saya tidak ikut-ikutan lagi. Trauma kalau lihat teman yang tidak selamat ketika beraksi,” kenangnya tentang hal yang membuatnya kapok tidak lagi ikut balapan liar.

          Kini Rus memilih hanya menjadi penikmat saja. Dia tetap melihat balapan liar yang menurutnya jadi tontonan menarik itu. “Namanya orang pasti ada masanya. Mungkin masa nakal saya sudah habis. Sekarang giliran mereka,” ucapnya sembari menunjuk remaja yang sedang bersiap untuk start itu sambil tersenyum.

Sebagai pelaku yang sudah tobat, Rus menilai para pemuda yang tergabung dalam kelompok pemotor berasal dari beberapa latar belakang. Mulai korban broken home, salah pergaulan, hingga kurangnya apresiasi dari lingkungan sekitar.

“Kalau dari keluarga adem ayem, malam-malam lebih baik tidur. Ngapain sampai keluar rumah dan mencari kesenangan di tempat yang salah,” tandasnya sambil kembali melempar senyum.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira