Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puisi : Kumpulan Orang Kalah

A
Penulis: Afrizal Saiful M❯
Photo
Photo

 


Advertisement

 

 

 

Advertisement

 

 

 

Advertisement

Kumpulan Orang Kalah

 

 

Pagi dan malam tak ada bedanya

pada kota yang ternyata bukan surga dunia,

kecuali neraka dunia.

Orang-orang kompak menghitung jarak untuk bisa sampai

kepada air susu.

Peluh jadi Saksi, betapa orang yang terdampar di sini seragam hasilnya,

Perpecahan tak berurat.

Di kota ini tikus pun merasa kasihan, sampai-sampai ia mau tidur

berselimut dengan orang yang kalah di tanah asal.

Pada akhirnya, semua orang itu berharap sama,

secepatnya kembali, berharap tak ada yang namanya pesakitan setelahnya.

Syukur-syukur Tuhan mau menepati janji yang diucapkan sebelumnya

cahaya turun pada rahim.

Kalaupun demikian, tentu bukan soal.

Tetapi sebelum itu, mereka dengan nada serempak mengatakan bahwa mereka tidak menyerah, hanya kalah oleh sistem yang membelenggu yang dibuat oleh omongan kosong.

 

 

Jakarta, 15 Juli 2025

 

 

Berteman Nafas

 

 

Aku membayangkan hidup yang hanya berteman dengan nafas,

tanpa mempertimbangkan jadi apa.

Ternyata, tak hanya saya sendiri yang menginginkannya.

Ada banyak kepala yang menambakan hidup seperti itu.

Penyebabnya pun sama,

lelah di ibukota yang memutar tak ramah di dambaan.

Jarak terlampau tinggi antara roda empat dengan kaki.

Tetapi kaki orang di sini senasib, makanya berjalan serempak

dari Jalan Pegangsaan Timur yang legendaris itu menuju Senayan yang katanya perkasa tetapi nyatanya hanya diisi oleh perut. Lalu setelah itu bergerak menuju Medan Merdeka.

Tetapi itu hanyalah khayalan mereka saja, percuma kata mereka kompak.

Maka dari itu dambaannya cuman satu, bisa berteman dengan nafas.

 

 

Jakarta, 15 Juli 2025

 

 

Orang Desa Sekarang

 

Apa yang termaktub dalam desa adalah kekompakan.

Sawah yang satu menguning, yang lainnya ikut menguning.

Air sungai bermutasi menjadi hitam pekat penuh asam, sungai lainnya jadi ikutan.

Sawah melahirkan bangunan beton, yang lainnya latah melahirkan juga.

Kepala-kepala beralih ke nafas yang penuh polusi, juga ikutan.

Pada akhirnya yang tersisa adalah kehampaan.

 

 

Jakarta, 15 Juli 2025

 

 

 

Penulis

Malik Ibnu Zaman lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang

disebarkan di beberapa media online. Buku pertamanya sebuah kumpulan cerpen berjudul

Pengemis yang Kelima (2024). Email : ibnuzamanmalik@gmail.com

 

Advertisement
Editor : rekian
Sumber : Radar Kediri

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer