Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puisi : Rumputan di Ladang Belakang Pondokan

A
Penulis: Afrizal Saiful M❯
Photo
Photo

Rumputan di Ladang Belakang Pondokan


Advertisement

 

Rumputan di ladang sudah tumbuh begitu rindang;

tetapi tidak ada yang dapat menutup perasaan yang dirasakan.

Advertisement

Andaikan anak semata-mata wayang ada, dapat katakan,

cabutilah, Nak, rumputan yang menghalang.

 

Advertisement

( 2020—2024 )​

 

Terang Malam Purnama dan Perempuan Tua

 

Sambil berselimut, perempuan tua keluar

melihat di halaman jalanan terhampar.

Sepasang mata berkilau terkena purnama

mencari dari mana kembali sang putra.

 

( 2023—2024 )​

 

Belalang dan Elegi di Ladang Belakang Pondokan

 

Di ladang belakang, terdapat daun berlubang;

teringat anak lanang yang gemar mencari belalang.

Oh, tuan belalang, tak perlu bersembunyi;

anak dipaksa berteriak, tiada tahu kapan kembali.

 

( 2018—2024 )

 

Perempuan Tua dan Hujan di Malam Purnama

 

Dari jendela pondok, melihat hujan

terkenang anak lanang di medan perang.

Ketika hujan reda, apa akan segera terjadi

anak pulang tanpa luka dan hanya nama?

 

( 2020—2024 )​

 

 

Memotong Panjang Rambut

 

Kepada Ibu, minta potong rambut panjang;

hendak meninggalkan masa kanak-kanak kini disebut.

Ibu katakan bahwa masa dewasa penuh kabut;

sudahlah bulat diri ingin tuk menyambut.

 

( 2020—2023 )

 

Gadis Manis dan Penjang Rambut

 

Seorang gadis potong rambut panjang;

tinggalkan masa kanak-kanak, dewasa beranjak.

Sang ibu berkata, halus begitu lembut,

adakah pemuda yang baik menerapkan tindak?

 

( 2020—2023 )

 

Impian Seorang Perempuan Penjahit

 

Anak gadis semata wayang sudah dewasa;

kelak pasti akan dibawa pergi oleh seorang pria.

Suami telah pergi mendahului menuju Sana;

apakah mertua mau rawat tua ibu mertua pula?

 

( 2020—2024 )​

 

Ratap Perempuan Penjahit yang Anak Gadisnya Mati

Kala Kampung Terbakar Perang

 

Anakku, dirimu terlampau muda, guna datangi akhirat sana;

bibir lembut itu belum sempat dicium seorang pria.

Ah, selalu sahaja ada gaun indah yang tiada genap terpakai;

sebab benangnya habis, tapi mempelai sudah mati.

 

( 2020—2024 )​

 

Biodata Penulis:

 

Polanco S. Achri lahir di Yogyakarta, Juli 1998. Ia menulis puisi, prosa-fiksi, dan esai-esai tentang seni. Ia tergabung di Komunitas Utusan Negeri Dongeng, sebagai penulis naskah dan penata artistik. Selain menulis, ia juga mengelola Pendjadjaboekoe dan Majalah Astro. Saat masih mengajar bahasa di sebuah SMK, ia sempat menjadi produser dan sutradara film dokumenter untuk beberapa nama. Kini, ia sedang melanjutkan studi Ilmu Sastra. Ia dapat dihubungi di FB: Polanco Surya Achri dan/atau Instagram: polanco_achri.

 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Usung Misi Bangkitkan Ekosistem Bisnis, HIPMI Kabupaten Kediri Kolaborasi dengan Radar Kediri

Usung Misi Bangkitkan Ekosistem Bisnis, HIPMI Kabupaten Kediri Kolaborasi dengan Radar Kediri

Sinergi yang dibangun dengan Jawa Pos Radar Kediri diharapkan bisa membuka jalan organisasi pengusaha muda ini untuk mengabdikan diri bagi masyarakat Kediri.

Siap Unjuk Bakat! Peserta School Contest XVIII Antusias Mengikuti TM

Siap Unjuk Bakat! Peserta School Contest XVIII Antusias Mengikuti TM

Antusiasme menyambut School Contest XVIII – GENZVERSE Digital Roots Local Soul semakin terasa. Kemarin (21/10), peserta dari empat kategori lomba bersemangat

Excited Menunggu School Contest 2026! Empat Lomba Ikuti Technical Meeting Hari Pertama

Excited Menunggu School Contest 2026! Empat Lomba Ikuti Technical Meeting Hari Pertama

Atmosfer persaingan di antara para peserta School Contest  2026 mulai terasa. Setidaknya terlihat dalam technical meeting (TM) hari pertama-dari rencana tiga hari.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer