JIMBARAN DAN LAIN-LAIN
Pernahkah kita bertanya
Kepada hari-hari semakin terusik tanpa mati
yang membabat lesap
indra perasa, tak juga bulu roma
Karena setiap mata Tuhan
Luntang-lantung membuntuti aspal jalanan
Hingga lindap ke tepi Jimbaran
Dengan cara apalagi
Ikan-ikan di laut
berzikir sendiri
Dan aku tak kunjung mengutus beberapa imam
Apalagi orang-orang Lewi
Untuk membelah setiap jengkal tubuh jemari.
(Jimbaran Bistro Pamekasan, 2025)
MENCARI BAYANGAN TUHAN DI JIMBARAN
Apakah Tuhan adalah Kakap Merah?
Kusangka bukan Mesias, pun juga Elia
bermujahadah tanpa darah
Sehingga Ia menganggap orang lain
Adalah kasih sayang yang lain
Apakah Tuhan adalah Iga
Terbelah menjadi beberapa
Dan masa lampau turut mencermati
Bahwa hari ini tidak benar-benar ada
Bahwa esok benar-benar nyata
Benar inikah Tuhan
Yang sedang nelangsa
Di antara abu-abu Dorang,
Di antara gigil Udang,
Sehingga yang Ia lihat hanyalah bintang-bintang
Bersama kesedihan dan segala kemungkinan-kemungkinan.
(Jimbaran Bistro Pamekasan, 2025)
MENGGALAH BULAN DI JIMBARAN
Tidak ada yang bisa kuajak bicara
Kecuali Tuhan dan kekasih-Nya
Sementara engkau bertanya
Tentang Daun Kelor yang sudah mulai tanggal
Di tepi dadamu ia tak tinggal
Kadang-kadang, kau pikir lebih gampang
Menjadi gelap dalam dekap
Ketimbang menerka langit membentang
Tapi aku yakin
Segala hal di sisi lain
Sudut pandang matamu tak pernah utuh
memancarkan sepanjang cahaya
Untuk menggalah bulan tanpa purnama.
(Jimbaran Bistro Pamekasan, 2025)
TERBENTUKNYA HUJAN DI JIMBARAN
Terbentuknya Hujan
Di Jimbaran adalah tanda yang tak tunduk
Pada serimbun pemotor
Yang sedang berbunga kepada Yesaya
Tapi separuh pikirannya masih setia
Di bangku taman; duduk tertidur sebagai gelandangan
Ia seperti menyaksikan hujan lama
Yang kembali ranggas
Dengan rintik-rintiknya.
Sehingga hidup bersama hujan di Jimbaran
adalah genggam hangat puisi-puisi Sapardi, katanya
Sampai-sampai ia kerap menyelami sepasang ingat
Terbaptis air jernih dan dalam
Di kelam wajahnya.
(Jimbaran Bistro Pamekasan, 2025)
PUKUL 10 MALAM DI JIMBARAN
Pukul 10 malam;
baginya adalah kenduri
seperti sunyi, tapi membenci sepi
Pukul 10 malam;
Menjadi benalu
Seperti tatap matanya
Yang kerap mekar menjadi rindu.
(Jimbaran Bistro Pamekasan, 2025)
Bio Singkat :
Zainur Rahman, lahir di Sumenep Jawa Timur; 26 Maret. Menulis puisi dalam tiga bahasa; Indonesia, Inggris dan Madura. Saat ini sudah menulis di pelbagai surat kabar, majalah dan berbagai media lainnya; antara lain: Koran Tempo, Koran Merapi, Bangka Pos, Harian Rakyat Sultra, Riau Pos, Medan Pos, Pos Bali, Radar Cirebon, Radar Mojokerto, Radar Madura, Kabar Priangan Tasikmalaya, Minggu Pagi Yogyakarta, Chakra Bangsa Indramayu, Koran BMR Fox, Haluan Padang, Utusan Borneo Sabah Malaysia, Majalah Mutiara Banten, dan lain-lain. Penulis bisa disapa melalui IG: @zennn___
Editor : rekian