Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Puisi Zainur Rahman

Afrizal Saiful M • Senin, 17 November 2025 | 20:09 WIB
Puisi Jimbaran dan lain lain
Puisi Jimbaran dan lain lain

 

JIMBARAN DAN LAIN-LAIN

 

Pernahkah kita bertanya

Kepada hari-hari semakin terusik tanpa mati

yang membabat lesap

indra perasa, tak juga bulu roma

 

Karena setiap mata Tuhan

Luntang-lantung membuntuti aspal jalanan

Hingga lindap ke tepi Jimbaran

 

Dengan cara apalagi

Ikan-ikan di laut

berzikir sendiri

Dan aku tak kunjung mengutus beberapa imam

Apalagi orang-orang Lewi

Untuk membelah setiap jengkal tubuh jemari.

 

(Jimbaran Bistro Pamekasan, 2025)

 

MENCARI BAYANGAN TUHAN DI JIMBARAN

 

Apakah Tuhan adalah Kakap Merah?

Kusangka bukan Mesias, pun juga Elia

bermujahadah tanpa darah

Sehingga Ia menganggap orang lain

Adalah kasih sayang yang lain

 

Apakah Tuhan adalah Iga

Terbelah menjadi beberapa

Dan masa lampau turut mencermati

Bahwa hari ini tidak benar-benar ada

Bahwa esok benar-benar nyata

 

Benar inikah Tuhan

Yang sedang nelangsa

Di antara abu-abu Dorang,

Di antara gigil Udang,

Sehingga yang Ia lihat hanyalah bintang-bintang

Bersama kesedihan dan segala kemungkinan-kemungkinan.

 

(Jimbaran Bistro Pamekasan, 2025)

 

 

MENGGALAH BULAN DI JIMBARAN

 

Tidak ada yang bisa kuajak bicara

Kecuali Tuhan dan kekasih-Nya

Sementara engkau bertanya

Tentang Daun Kelor yang sudah mulai tanggal

Di tepi dadamu ia tak tinggal

 

Kadang-kadang, kau pikir lebih gampang

Menjadi gelap dalam dekap

Ketimbang menerka langit membentang

 

Tapi aku yakin

Segala hal di sisi lain

Sudut pandang matamu tak pernah utuh

memancarkan sepanjang cahaya

Untuk menggalah bulan tanpa purnama.

 

(Jimbaran Bistro Pamekasan, 2025)

 

TERBENTUKNYA HUJAN DI JIMBARAN

 

Terbentuknya Hujan

Di Jimbaran adalah tanda yang tak tunduk

Pada serimbun pemotor

Yang sedang berbunga kepada Yesaya

Tapi separuh pikirannya masih setia

Di bangku taman; duduk tertidur sebagai gelandangan

 

Ia seperti menyaksikan hujan lama

Yang kembali ranggas

Dengan rintik-rintiknya.

 

Sehingga hidup bersama hujan di Jimbaran

adalah genggam hangat puisi-puisi Sapardi, katanya

Sampai-sampai ia kerap menyelami sepasang ingat

Terbaptis air jernih dan dalam

Di kelam wajahnya.

 

(Jimbaran Bistro Pamekasan, 2025)

 

 

PUKUL 10 MALAM DI JIMBARAN

 

Pukul 10 malam;

baginya adalah kenduri

seperti sunyi, tapi membenci sepi

 

Pukul 10 malam;

Menjadi benalu

Seperti tatap matanya

Yang kerap mekar menjadi rindu.

 

(Jimbaran Bistro Pamekasan, 2025)

 

Bio Singkat :

Zainur Rahman, lahir di Sumenep Jawa Timur; 26 Maret. Menulis puisi dalam tiga bahasa; Indonesia, Inggris dan Madura. Saat ini sudah menulis di pelbagai surat kabar, majalah dan berbagai media lainnya; antara lain: Koran Tempo, Koran Merapi, Bangka Pos, Harian Rakyat Sultra, Riau Pos, Medan Pos, Pos Bali, Radar Cirebon, Radar Mojokerto, Radar Madura, Kabar Priangan Tasikmalaya, Minggu Pagi Yogyakarta, Chakra Bangsa Indramayu, Koran BMR Fox, Haluan Padang, Utusan Borneo Sabah Malaysia, Majalah Mutiara Banten, dan lain-lain. Penulis bisa disapa melalui IG: @zennn___

 

 

 

 

Editor : rekian
#radar kediri #kediri #puisi #cerpen #jawa pos