Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kidulting: Ketika Orang Dewasa Permainan Masa Kecil

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 2 November 2025 | 12:27 WIB

ILUSTRASI Kidulting
ILUSTRASI Kidulting
Menjadi dewasa sering kali identik dengan tanggung jawab, rutinitas, dan beban hidup. Namun, di tengah tekanan pekerjaan dan tuntutan sosial, muncul fenomena yang justru mengajak orang dewasa kembali ke masa kecil. Kidulting! Istilah ini berasal dari gabungan kata kid dan adulting, yang menggambarkan perilaku orang dewasa yang menikmati hal-hal khas anak-anak. Fenomena ini mulai terlihat di berbagai kota, termasuk Kediri, di mana kafe bertema kartun, koleksi mainan, hingga acara cosplay mulai bermunculan. Banyak pula komunitas-komunitas yang mewadahi hal tersebut.

Tak sedikit orang dewasa yang kini merasa nyaman mengoleksi action figure, membangun Lego, atau sekadar menonton film animasi favorit masa kecil. Di media sosial, aktivitas seperti ini bahkan menjadi tren. Banyak yang menganggap kidulting sebagai cara untuk melepaskan stres dan menemukan kembali sisi bahagia dalam diri mereka yang sempat hilang karena rutinitas. Di tengah tekanan pekerjaan dan kehidupan yang makin cepat, aktivitas sederhana itu bisa terasa menyembuhkan.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak lama, nostalgia memang punya kekuatan emosional besar. Ia menjadi jembatan antara masa lalu yang penuh kebebasan dan masa kini yang serba terikat. Dari sisi psikologis, kidulting membantu individu menyeimbangkan emosi dan menjaga kesehatan mental. Saat orang dewasa menonton kartun atau bermain boneka, bukan berarti mereka kekanak-kanakan. Bisa jadi, mereka sedang memulihkan diri dari kelelahan hidup modern.

Saya sendiri juga suka action figure, walau tidak yang fanatik. Bukan untuk dimainkan, melainkan hanya sekedar dikoleksi dan dipajang. Ada sensasi tertentu ketika melakukan hal tersebut. Dengan merakit, atau hanya sekedar melihat bisa meredakan stres dari kegiatan sehari-hari.

Pengalaman saya mewawancarai berbagai narsum komunitas pecinta action figure, perasaan sama mereka rasakan. Merakit action figure dianggap bisa meredakan stres dari dunia kerja. Terlebih ketika bergabung di komunitas, bisa sharing dan bercengkrama mengenai kesamaan hal yang disuka juga bisa meredakan rasa lelah usai bekerja. Hal ini jadi salah satu cara untuk meredakan stress. Jika beberapa orang punya cara meredakan stres lewat olahraga, lewat melukis, lewat karaokean, mereka bisa lebih menghilangkan rasa lelah lewat kidulting.

Namun, tak sedikit pula yang memandang kidulting dengan sinis. Sebagian orang menganggap perilaku itu sebagai tanda ketidakmatangan atau pelarian dari tanggung jawab. Padahal, yang terpenting bukan apa yang dilakukan, tapi sejauh mana seseorang tetap bisa menempatkan diri secara proporsional. Bermain boleh, tapi kewajiban tetap harus dijalankan. Kidulting seharusnya menjadi bentuk penyegaran, bukan pelarian.

Dalam konteks sosial, tren ini menunjukkan bahwa generasi muda kini mulai sadar pentingnya menjaga kesehatan mental. Mereka mencari kebahagiaan sederhana, tanpa harus tampil sempurna di mata orang lain.

Pada akhirnya, menjadi dewasa tidak berarti harus kehilangan keceriaan masa kecil. Kadang, kita perlu mengingat bahwa di balik setiap tumpukan tanggung jawab, masih ada bagian diri yang ingin bermain. Menjadi dewasa bukan soal berhenti bersenang-senang, tapi bagaimana tetap tertawa tanpa lupa akan kewajiban. Sebab, seperti kata banyak orang, bahagia itu sederhana. Kadang cuma butuh satu mainan kecil untuk mengingatkan kita siapa diri kita sebenarnya.

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#lego #film animasi #tekanan pekerjaan #tuntutan sosial #Kidulting